JAKARTA, KOMPAS.com - Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menyampaikan banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat disebabkan curah hujan tinggi akibat badai siklon tropis Senyar.
Kondisi ini memicu curah hujan ekstrem melanda di Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Langkat, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Kabupaten Tapanuli Selatan lebih dari 150 mm per hari.
"Hujan ekstrem pada saat terjadi di manapun itu tentu saja berpotensi mengakibatkan banjir. Dan yang juga perlu menjadi catatan bahwa siklon badai tropis Senyar ini juga janggal," kata Mahawan saat dihubungi, Jumat (28/11/2025).
Lazimnya, siklon tropis senyar melintas di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, jauh dari garis ekuator. Ketika, siklon itu terjadi di Indonesia maka menyebabkan curah hujan yang tinggi sehingga pada ekosistem normal sekali pun berpotensi mengalami kebanjiran.
Baca juga: Viral Kayu Gelondongan Hanyut Saat Banjir, Kemenhut Telusuri Asalnya
"Namun, hal yang perlu juga disampaikan adalah bahwa ini juga terkait dengan tidak hanya kondisi atmosferik dengan adanya siklon tadi, curah hujan ekstrem, teapi juga berkaitan dengan persoalan tutupan lahan," papar dia.
Perubahan tutupan lahan di tiga provinsi tersebut membuat ekosistem kehilangan kemampuan menahan limpasan air.
Pembukaan sawah, kebun hortikultura, serta perluasan perkebunan sawit, kopi, dan kakao turut mengubah kawasan hutan menjadi lahan produksi. Alhasil, meningkatkan risiko erosi hingga mengurangi kemampuan ekosistem menyerap air.
"Dari kajian saya di tahun 2015 kurang lebih, sebenarnya sudah terlihat bahwa ada tren perubahan lahan karena untuk penggunaan pertanian dan perkebunan, baik oleh rakyat maupun perusahaan yang skalanya kecil katakanlah di atas 5 hektare dan seterusnya," tutur Mahawan.
Banjir bandang di Sumatera menjadi sinyal bahaya untuk masyarakat. Di satu sisi, kenaikan suhu rata-rata dunia telah melebihi 1,5 derajat celcius membuat frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem kian tinggi. Hujan ekstrem di Bali, misalnya, yang menandakan perubahan dinamika iklim.
Baca juga: Banjir di Sumatera, Tutupan Hutan Kian Berkurang akibat Alih Fungsi Lahan
"Oleh karena itu, saya kira kita tidak lagi melihat kewajaran dengan cara pandang yang lama. Yang lebih penting adalah bahwa kita harus siap memasuki normalitas baru, meningkatkan ketahanan terhadap berbagai bencana, khususnya bencana banjir seperti di tiga provinsi kali ini," jelas Mahawan.
Dia lantas mengusulkan pemerintah membangun early warning system sebagai langkah mitigasi bencana. Kemudian, memperbaiki sistem tata ruang. Pemerintah dan masyarakat pun harus merehabilitasi ekosistem untuk mencegah banjir terulang kembali.
"Waktu itu saya di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal, kami bersama pemerintah daerah mendesain satu konsep tata ruang yang mampu menghadapi kondisi potensi berbagai bencana perubahan iklim. Jadi, tata ruang itu harus diperbaiki dan harus memperhatikan persoalan yang berkembang, terutama perubahan iklim kalau terkait dengan banjir," ucap dia.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, banjir mengakibatkan 174 orang meninggal dunia, 79 hilang dan 12 luka-luka per 28 November 2025.
Rinciannya, di Sumatra Utara terdapat 116 korban meninggal dunia dan 42 orang hilang. Korban tersebar di beberapa wilayah antara lain Tapanuli Utara (11 orang), Tapanuli Tengah (51 orang), Tapanuli Selatan (32 orang), Kota Sibolga (17 orang), Humbang Hasundutan (enam orang), Kota Padang Sidempuan (satu orang), serta Pakpak Barat (dua orang). Sedangkan Mandailing Natal tidak melaporkan korban jiwa.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya