Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ironi Banjir Besar di Sumatera, Saat Cuaca Ekstrem Bertemu Alih Fungsi Lahan

Kompas.com, 29 November 2025, 19:19 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menyampaikan banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat disebabkan curah hujan tinggi akibat badai siklon tropis Senyar.

Kondisi ini memicu curah hujan ekstrem melanda di Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Langkat, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Kabupaten Tapanuli Selatan lebih dari 150 mm per hari.

"Hujan ekstrem pada saat terjadi di manapun itu tentu saja berpotensi mengakibatkan banjir. Dan yang juga perlu menjadi catatan bahwa siklon badai tropis Senyar ini juga janggal," kata Mahawan saat dihubungi, Jumat (28/11/2025).

Lazimnya, siklon tropis senyar melintas di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, jauh dari garis ekuator. Ketika, siklon itu terjadi di Indonesia maka menyebabkan curah hujan yang tinggi sehingga pada ekosistem normal sekali pun berpotensi mengalami kebanjiran.

Baca juga: Viral Kayu Gelondongan Hanyut Saat Banjir, Kemenhut Telusuri Asalnya

"Namun, hal yang perlu juga disampaikan adalah bahwa ini juga terkait dengan tidak hanya kondisi atmosferik dengan adanya siklon tadi, curah hujan ekstrem, teapi juga berkaitan dengan persoalan tutupan lahan," papar dia.

Perubahan tutupan lahan di tiga provinsi tersebut membuat ekosistem kehilangan kemampuan menahan limpasan air.

Pembukaan sawah, kebun hortikultura, serta perluasan perkebunan sawit, kopi, dan kakao turut mengubah kawasan hutan menjadi lahan produksi. Alhasil, meningkatkan risiko erosi hingga mengurangi kemampuan ekosistem menyerap air.

"Dari kajian saya di tahun 2015 kurang lebih, sebenarnya sudah terlihat bahwa ada tren perubahan lahan karena untuk penggunaan pertanian dan perkebunan, baik oleh rakyat maupun perusahaan yang skalanya kecil katakanlah di atas 5 hektare dan seterusnya," tutur Mahawan.

Banjir bandang di Sumatera menjadi sinyal bahaya untuk masyarakat. Di satu sisi, kenaikan suhu rata-rata dunia telah melebihi 1,5 derajat celcius membuat frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem kian tinggi. Hujan ekstrem di Bali, misalnya, yang menandakan perubahan dinamika iklim.

Baca juga: Banjir di Sumatera, Tutupan Hutan Kian Berkurang akibat Alih Fungsi Lahan

"Oleh karena itu, saya kira kita tidak lagi melihat kewajaran dengan cara pandang yang lama. Yang lebih penting adalah bahwa kita harus siap memasuki normalitas baru, meningkatkan ketahanan terhadap berbagai bencana, khususnya bencana banjir seperti di tiga provinsi kali ini," jelas Mahawan.

Dia lantas mengusulkan pemerintah membangun early warning system sebagai langkah mitigasi bencana. Kemudian, memperbaiki sistem tata ruang. Pemerintah dan masyarakat pun harus merehabilitasi ekosistem untuk mencegah banjir terulang kembali.

"Waktu itu saya di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal, kami bersama pemerintah daerah mendesain satu konsep tata ruang yang mampu menghadapi kondisi potensi berbagai bencana perubahan iklim. Jadi, tata ruang itu harus diperbaiki dan harus memperhatikan persoalan yang berkembang, terutama perubahan iklim kalau terkait dengan banjir," ucap dia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, banjir mengakibatkan 174 orang meninggal dunia, 79 hilang dan 12 luka-luka per 28 November 2025.

Rinciannya, di Sumatra Utara terdapat 116 korban meninggal dunia dan 42 orang hilang. Korban tersebar di beberapa wilayah antara lain Tapanuli Utara (11 orang), Tapanuli Tengah (51 orang), Tapanuli Selatan (32 orang), Kota Sibolga (17 orang), Humbang Hasundutan (enam orang), Kota Padang Sidempuan (satu orang), serta Pakpak Barat (dua orang). Sedangkan Mandailing Natal tidak melaporkan korban jiwa.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
El Nino Bukan Vonis Kekeringan
El Nino Bukan Vonis Kekeringan
Pemerintah
Perkembangan AI Ancam Target Energi Bersih Perusahaan Raksasa Teknologi
Perkembangan AI Ancam Target Energi Bersih Perusahaan Raksasa Teknologi
Swasta
Studi: Mayoritas Karhutla Besar di Asia Tenggara Berasal dari Banyak Titik Api
Studi: Mayoritas Karhutla Besar di Asia Tenggara Berasal dari Banyak Titik Api
LSM/Figur
Ampas Kopi Gayo 'Disulap' jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan
Ampas Kopi Gayo "Disulap" jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau