Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kasus Campak Global Naik, 30 Juta Anak Tak Dapat Vaksin

Kompas.com, 29 November 2025, 16:19 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kematian akibat campak telah turun 88 persen sejak tahun 2000.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 95.000 orang, sebagian besar anak-anak meninggal akibat virus tersebut tahun lalu.

Menurut WHO kenaikan kasus terjadi karena jutaan anak masih kurang mendapatkan imunisasi setelah program vaksinasi rutin terganggu karena pandemi Covid-19.

Situasi itulah yang kemudian membuat jutaan anak tanpa kekebalan yang memadai, sehingga mereka rentan terhadap penyakit.

Campak tetap menjadi salah satu virus pernapasan yang paling menular,” kata Dr. Kate O’Brien, Direktur Imunisasi, Vaksin, dan Biologi WHO.

“Satu orang dapat menularkan hingga 18 orang lainnya. Banyak orang berpikir campak tidak serius tetapi sebenarnya serius, dan bisa mematikan. Satu dari lima anak yang terinfeksi berakhir di rumah sakit,” terangnya lagi seperti dikutip dari laman resmi United Nations, Jumat (28/11/2025).

Baca juga: Harga Vaksin Malaria Turun, Selamatkan 7 Juta Anak Tambahan hingga 2030

Dua dosis vaksin memberikan perlindungan 95 persen. Tragisnya, anak-anak tidak terlindungi karena sistem tidak menjangkau mereka.

Wabah campak terus meningkat tajam. Pada tahun 2024, sebanyak 59 negara mengalami wabah besar atau mengganggu, hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun 2021 dan seperempatnya sebelumnya telah berhasil mengeliminasi campak.

Hanya 84 persen anak di seluruh dunia yang menerima dosis pertama vaksin campak tahun lalu, tetapi hanya 76 persen yang menerima dosis kedua yang krusial sehingga sebanyak 30 juta anak kurang terlindungi.

Tiga perempatnya berada di Afrika dan Mediterania Timur, banyak di antaranya berada di komunitas yang terdampak konflik atau dengan mobilitas tinggi.

“Campak tidak mengenal batas wilayah. Suatu negara hanya terlindungi jika setiap anak, di mana pun, diimunisasi lengkap,” kata Diana Chang-Blanc, Kepala Program Esensial Imunisasi WHO.

WHO juga mencatat ada faktor pendorong lonjakan kasus campak.

WHO menyebut pengalihan tenaga kesehatan untuk menangani Covid-19 menjadi salah satunya. Selain itu sejumlah besar anak-anak yang tidak mendapatkan dosis vaksin, terkonsentrasi di wilayah rentan dan konflik.

Selanjutnya adalah sistem vaksinasi rutin yang lemah serta adanya misinformasi vaksin dan akses terbatas.

Baca juga: 8 Juta Anak Indonesia Memiliki Darah Mengandung Timbal Melebihi Batas WHO

Dr. O’Brien menambahkan misinformasi vaksin terutama daring, telah merusak kepercayaan. Tetapi ia mencatat bahwa kesenjangan akses tetap menjadi hambatan terbesar untuk menghentikan campak.

“Hambatan terbesar adalah akses. Orang tua di mana pun menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Yang mereka butuhkan adalah informasi yang andal dan sistem kesehatan yang dapat menjangkau mereka,” katanya.

Ia pun menyerukan agar para pemimpin politik, komunitas, dan agama untuk berbagi informasi yang akurat dan berbasis bukti.

Lebih dari 11 juta anak telah divaksinasi melalui kampanye global "Big Catch-Up", yang berlanjut hingga tahun 2025.

Namun, WHO mengatakan negara-negara membutuhkan pengawasan yang lebih ketat, respons wabah yang lebih cepat, dan komitmen politik yang diperbarui untuk memenuhi target Agenda Imunisasi 2030.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Swasta
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
LSM/Figur
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau