KOMPAS.com - Kematian akibat campak telah turun 88 persen sejak tahun 2000.
Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 95.000 orang, sebagian besar anak-anak meninggal akibat virus tersebut tahun lalu.
Menurut WHO kenaikan kasus terjadi karena jutaan anak masih kurang mendapatkan imunisasi setelah program vaksinasi rutin terganggu karena pandemi Covid-19.
Situasi itulah yang kemudian membuat jutaan anak tanpa kekebalan yang memadai, sehingga mereka rentan terhadap penyakit.
“Campak tetap menjadi salah satu virus pernapasan yang paling menular,” kata Dr. Kate O’Brien, Direktur Imunisasi, Vaksin, dan Biologi WHO.
“Satu orang dapat menularkan hingga 18 orang lainnya. Banyak orang berpikir campak tidak serius tetapi sebenarnya serius, dan bisa mematikan. Satu dari lima anak yang terinfeksi berakhir di rumah sakit,” terangnya lagi seperti dikutip dari laman resmi United Nations, Jumat (28/11/2025).
Baca juga: Harga Vaksin Malaria Turun, Selamatkan 7 Juta Anak Tambahan hingga 2030
Dua dosis vaksin memberikan perlindungan 95 persen. Tragisnya, anak-anak tidak terlindungi karena sistem tidak menjangkau mereka.
Wabah campak terus meningkat tajam. Pada tahun 2024, sebanyak 59 negara mengalami wabah besar atau mengganggu, hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun 2021 dan seperempatnya sebelumnya telah berhasil mengeliminasi campak.
Hanya 84 persen anak di seluruh dunia yang menerima dosis pertama vaksin campak tahun lalu, tetapi hanya 76 persen yang menerima dosis kedua yang krusial sehingga sebanyak 30 juta anak kurang terlindungi.
Tiga perempatnya berada di Afrika dan Mediterania Timur, banyak di antaranya berada di komunitas yang terdampak konflik atau dengan mobilitas tinggi.
“Campak tidak mengenal batas wilayah. Suatu negara hanya terlindungi jika setiap anak, di mana pun, diimunisasi lengkap,” kata Diana Chang-Blanc, Kepala Program Esensial Imunisasi WHO.
WHO juga mencatat ada faktor pendorong lonjakan kasus campak.
WHO menyebut pengalihan tenaga kesehatan untuk menangani Covid-19 menjadi salah satunya. Selain itu sejumlah besar anak-anak yang tidak mendapatkan dosis vaksin, terkonsentrasi di wilayah rentan dan konflik.
Selanjutnya adalah sistem vaksinasi rutin yang lemah serta adanya misinformasi vaksin dan akses terbatas.
Baca juga: 8 Juta Anak Indonesia Memiliki Darah Mengandung Timbal Melebihi Batas WHO
Dr. O’Brien menambahkan misinformasi vaksin terutama daring, telah merusak kepercayaan. Tetapi ia mencatat bahwa kesenjangan akses tetap menjadi hambatan terbesar untuk menghentikan campak.
“Hambatan terbesar adalah akses. Orang tua di mana pun menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Yang mereka butuhkan adalah informasi yang andal dan sistem kesehatan yang dapat menjangkau mereka,” katanya.
Ia pun menyerukan agar para pemimpin politik, komunitas, dan agama untuk berbagi informasi yang akurat dan berbasis bukti.
Lebih dari 11 juta anak telah divaksinasi melalui kampanye global "Big Catch-Up", yang berlanjut hingga tahun 2025.
Namun, WHO mengatakan negara-negara membutuhkan pengawasan yang lebih ketat, respons wabah yang lebih cepat, dan komitmen politik yang diperbarui untuk memenuhi target Agenda Imunisasi 2030.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya