Penulis
Selama 250 juta tahun terakhir ada tiga periode gangguan karbon yang sangat besar yakni pada pertengahan Triassic, pertengahan Jurassic, dan akhir Cretaceous.
Pada masa itu, terumbu karang memakai jumlah kalsium karbonat yang sangat besar. Dampaknya adalah kenaikan suhu laut dan gangguan iklim jangka panjang.
Salles mengatakan, butuh ratusan ribu hingga jutaan tahun bagi bumi untuk memulihkan keseimbangan antara terumbu karang dan plankton. Proses pemulihan ini jauh lebih lama dibanding usia manusia.
"Jadi meskipun sistem berhasil pulih dari krisis besar, proses penyeimbangan kembali akan berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama, jauh lebih lama dari skala waktu manusia," kata Salles.
Meski begitu, ada sisi positif dari terumbu karang. Ketika plankton mengalami ledakan nutrisi tidak terkendali, terumbu karang bisa memakai kelebihan nutrisi itu untuk membangun struktur karang. Artinya, terumbu karang tetap bisa menjadi penyeimbang ekosistem laut.
Baca juga:
Akan tetapi, kondisi saat ini sangat berbeda. Emisi CO2 dari manusia memicu pemanasan global dan pengasaman laut pada kecepatan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah bumi sebelumnya.
Terumbu karang dan plankton saat ini sama-sama terancam mati. Dampaknya belum sepenuhnya diketahui, tapi diperkirakan bisa menimbulkan bencana ekologi besar.
"Feedbacks (umpan balik) jangka panjang yang kami modelkan tidak berlaku saat ini, laju perubahan modern jauh terlalu cepat untuk feedbacks platform-karbonat memiliki dampak yang sebanding," tutur Salles.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya