Penulis
KOMPAS.com - Terumbu karang berpengaruh besar terhadap kenaikan suhu dan siklus karbon di bumi, bahkan sejak 250 juta tahun yang lalu, berdasarkan penelitian terbaru.
"Terumbu karang tidak hanya merespons perubahan iklim, mereka juga berperan dalam menentukan laju pemulihan," kata penulis utama penelitian tersebut dan dosen senior dari School of Geosciences di University of Sydney, Tristan Salles, dilansir dari Xinhua, Rabu (3/12/2025).
Baca juga:
Terumbu karang berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dan siklus karbon di bumi, bahkan sejak 250 juta tahun yang lalu.Terumbu karang merupakan produsen bersih karbon dioksida atau CO2, dilansir dari New Scientist.
Sebab, gas rumah kaca tersebut merupakan produk sampingan dari pembentukan calcium carbonate (kalsium karbonat), yang membentuk kerangka terumbu karang.
Beberapa jenis plankton juga membentuk cangkang dari kalsium karbonat. Ketika mereka mati, mineral ini terkubur di dasar laut.
Bila area luas lingkungan laut dangkal tertutup oleh terumbu karang, ion kalsium dan karbonat yang biasanya diserap oleh plankton laut dalam tidak lagi tersedia.
Para peneliti dari University of Sydney di Australia dan Universite Grenoble Alpes di Perancis kemudian menggabungkan rekonstruksi tektonik lempeng, proses permukaan global, dan simulasi iklim, dengan model ekologi untuk merekonstruksi produksi karbonat perairan dangkal hingga periode Triassic.
Hasilnya menunjukkan, terumbu karang dan plankton punya hubungan timbal balik dalam siklus karbon.
Dalam temuan ini disebutkan, luas terumbu karang meningkat ketika terjadi periode geologi yang menciptakan banyak paparan benua dangkal. Paparan dangkal adalah habitat ideal bagi terumbu karang.
Ketika terumbu karang meluas, lebih banyak kalsium karbonat dipakai di laut dangkal. Proses ini mengurangi ketersediaan karbonat untuk plankton laut dalam.
Plankton pun sulit mengubur kalsium karbonat ke dasar laut. Akibatnya, CO2 di atmosfer naik dan suhu bumi meningkat.
Baca juga:
Terumbu karang berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dan siklus karbon di bumi, bahkan sejak 250 juta tahun yang lalu.Selama 250 juta tahun terakhir ada tiga periode gangguan karbon yang sangat besar yakni pada pertengahan Triassic, pertengahan Jurassic, dan akhir Cretaceous.
Pada masa itu, terumbu karang memakai jumlah kalsium karbonat yang sangat besar. Dampaknya adalah kenaikan suhu laut dan gangguan iklim jangka panjang.
Salles mengatakan, butuh ratusan ribu hingga jutaan tahun bagi bumi untuk memulihkan keseimbangan antara terumbu karang dan plankton. Proses pemulihan ini jauh lebih lama dibanding usia manusia.
"Jadi meskipun sistem berhasil pulih dari krisis besar, proses penyeimbangan kembali akan berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama, jauh lebih lama dari skala waktu manusia," kata Salles.
Meski begitu, ada sisi positif dari terumbu karang. Ketika plankton mengalami ledakan nutrisi tidak terkendali, terumbu karang bisa memakai kelebihan nutrisi itu untuk membangun struktur karang. Artinya, terumbu karang tetap bisa menjadi penyeimbang ekosistem laut.
Baca juga:
Akan tetapi, kondisi saat ini sangat berbeda. Emisi CO2 dari manusia memicu pemanasan global dan pengasaman laut pada kecepatan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah bumi sebelumnya.
Terumbu karang dan plankton saat ini sama-sama terancam mati. Dampaknya belum sepenuhnya diketahui, tapi diperkirakan bisa menimbulkan bencana ekologi besar.
"Feedbacks (umpan balik) jangka panjang yang kami modelkan tidak berlaku saat ini, laju perubahan modern jauh terlalu cepat untuk feedbacks platform-karbonat memiliki dampak yang sebanding," tutur Salles.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya