Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penelitian Ungkap Kaitan Terumbu Karang dan Kenaikan Suhu Bumi

Kompas.com, 3 Desember 2025, 13:04 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Terumbu karang berpengaruh besar terhadap kenaikan suhu dan siklus karbon di bumi, bahkan sejak 250 juta tahun yang lalu, berdasarkan penelitian terbaru.

"Terumbu karang tidak hanya merespons perubahan iklim, mereka juga berperan dalam menentukan laju pemulihan," kata penulis utama penelitian tersebut dan dosen senior dari School of Geosciences di University of Sydney, Tristan Salles, dilansir dari Xinhua, Rabu (3/12/2025).

Baca juga:

Terumbu karang termasuk produsen karbon dioksida

CO2 merupakan produk sampingan dari pembentukan kalsium karbonat

Terumbu karang berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dan siklus karbon di bumi, bahkan sejak 250 juta tahun yang lalu.iStockphoto/vlad61 Terumbu karang berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dan siklus karbon di bumi, bahkan sejak 250 juta tahun yang lalu.

Terumbu karang merupakan produsen bersih karbon dioksida atau CO2, dilansir dari New Scientist. 

Sebab, gas rumah kaca tersebut merupakan produk sampingan dari pembentukan calcium carbonate (kalsium karbonat), yang membentuk kerangka terumbu karang.

Beberapa jenis plankton juga membentuk cangkang dari kalsium karbonat. Ketika mereka mati, mineral ini terkubur di dasar laut.

Bila area luas lingkungan laut dangkal tertutup oleh terumbu karang, ion kalsium dan karbonat yang biasanya diserap oleh plankton laut dalam tidak lagi tersedia.

Para peneliti dari University of Sydney di Australia dan Universite Grenoble Alpes di Perancis kemudian menggabungkan rekonstruksi tektonik lempeng, proses permukaan global, dan simulasi iklim, dengan model ekologi untuk merekonstruksi produksi karbonat perairan dangkal hingga periode Triassic. 

Hasilnya menunjukkan, terumbu karang dan plankton punya hubungan timbal balik dalam siklus karbon.

Dalam temuan ini disebutkan, luas terumbu karang meningkat ketika terjadi periode geologi yang menciptakan banyak paparan benua dangkal. Paparan dangkal adalah habitat ideal bagi terumbu karang.

Ketika terumbu karang meluas, lebih banyak kalsium karbonat dipakai di laut dangkal. Proses ini mengurangi ketersediaan karbonat untuk plankton laut dalam.

Plankton pun sulit mengubur kalsium karbonat ke dasar laut. Akibatnya, CO2 di atmosfer naik dan suhu bumi meningkat.

Baca juga:

3 periode terjadinya gangguan karbon di bumi

Terumbu karang berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dan siklus karbon di bumi, bahkan sejak 250 juta tahun yang lalu.UNSPLASH/QUI NGUYEN Terumbu karang berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dan siklus karbon di bumi, bahkan sejak 250 juta tahun yang lalu.

Selama 250 juta tahun terakhir ada tiga periode gangguan karbon yang sangat besar yakni pada pertengahan Triassic, pertengahan Jurassic, dan akhir Cretaceous.

Pada masa itu, terumbu karang memakai jumlah kalsium karbonat yang sangat besar. Dampaknya adalah kenaikan suhu laut dan gangguan iklim jangka panjang.

Salles mengatakan, butuh ratusan ribu hingga jutaan tahun bagi bumi untuk memulihkan keseimbangan antara terumbu karang dan plankton. Proses pemulihan ini jauh lebih lama dibanding usia manusia.

"Jadi meskipun sistem berhasil pulih dari krisis besar, proses penyeimbangan kembali akan berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama, jauh lebih lama dari skala waktu manusia," kata Salles.

Meski begitu, ada sisi positif dari terumbu karang. Ketika plankton mengalami ledakan nutrisi tidak terkendali, terumbu karang bisa memakai kelebihan nutrisi itu untuk membangun struktur karang. Artinya, terumbu karang tetap bisa menjadi penyeimbang ekosistem laut.

Baca juga:

Kondisi saat ini berbeda

Akan tetapi, kondisi saat ini sangat berbeda. Emisi CO2 dari manusia memicu pemanasan global dan pengasaman laut pada kecepatan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah bumi sebelumnya.

Terumbu karang dan plankton saat ini sama-sama terancam mati. Dampaknya belum sepenuhnya diketahui, tapi diperkirakan bisa menimbulkan bencana ekologi besar.

"Feedbacks (umpan balik) jangka panjang yang kami modelkan tidak berlaku saat ini, laju perubahan modern jauh terlalu cepat untuk feedbacks platform-karbonat memiliki dampak yang sebanding," tutur Salles.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau