Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potensi Panas Bumi Capai 2.160 GW, RI Bisa Buka 650.000 Lapangan Kerja Baru

Kompas.com, 3 Desember 2025, 08:23 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Potensi teknis panas bumi di Indonesia mencapai 2.160 gigawatt (GW) berdasarkan laporan The Future of Geothermal in Indonesia yang dirilis Project InnerSpace, Selasa (2/12/2025). Potensi teknis tersebut jauh lebih tinggi dari estimasi sumber daya dalam air tanah atau uap yang dipanaskan oleh magma atau hidrotermal saat ini.

Kini, kemajuan teknologi pengeboran dan eksplorasi di bawah permukaaan bumi telah membuat energi panas bumi lebih terjangkau. Bahkan, memungkinkan untuk memanfaatkan energi panas bumi di wilayah yang sebelumnya dianggap kurang ideal.

Baca juga: Potensi Panas Bumi RI Capai 2.160 GW, Infrastruktur PLTU Dapat Dialihfungsikan untuk PLTP

Indonesia sangat diuntungkan dengan kemajuan teknologi tersebut, karena letak geografisnya di wilayah Cincin Api Pasifik, menjadikannya salah satu negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia.

Indonesia bisa memanfaatkan potensi energi ini untuk memenuhi hingga 90 persen kebutuhan panas proses industri di sektor manufaktur utama.

Indonesia dapat memanfaatkan energi panas bumi untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dan bahan bakar impor secara signifikan.

Imbasnya, pemanfaatan energi panas bumi sebagai pengganti batu bara dan bahan bakar impor berkorelasi dengan perbaikan kualitas udara bagi masyarakat. Pemanfaatan energi panas bumi dapat menyediakan pasokan listrik yang andal, dengan biaya kompetitif untuk industri dan pusat data.

Selain itu, pemanfaatan energi panas bumi berpotensi menciptakan lebih dari 650.000 lapangan pekerjaan. Indonesia sudah mempunyai banyak pekerja ahli dalam mengelola hidrotermal atau sumber daya panas bumi konvensional yang melimpah.

Berbekal pengalaman tersebut, Indonesia berpotensi memperluas pemanfaatan panas bumi ke sistem generasi terbaru dan pendinginan terpusat (district cooling).

Direktur Keterlibatan Global Project InnerSpace, Jackson Grimes menganggap, Indonesia sudah menjadi pemimpin dunia dalam panas bumi hidrotermal.

"Warisan panjang di sektor minyak dan gas serta panas bumi memberi Indonesia keterampilan teknis, kapasitas pengeboran, dan keahlian operasional untuk memimpin fase berikutnya yakni pendinginan berbasis panas bumi, panas industri, dan listrik dari panas bumi generasi terbaru,” ujar Jackson dalam keterangan tertulis, Selasa (2/12/2025).

Berdasarkan analisis Global Project InnerSpace, Indonesia dapat membuka ribuan megawatt energi rendah emisi gas rumah kaca (GRK) dengan memperbaiki regulasi.

Indonesia perlu mengatur perluasan pemanfaatan panas bumi di luar ketenagalistrikan untuk memperkuat daya saing industri dan menciptakan ratusan ribu pekerjaan terampil.

Baca juga: PGE Manfaatkan Panas Bumi untuk Keringkan Kopi hingga Budi Daya Ikan di Gunung

Kata dia, sistem panas bumi generasi terbaru berbeda dengan hidrotermal karena tidak memerlukan reservoir bawah tanah alami. Jadi, sistem panas bumi generasi terbaru bisa dikembangkan di mana saja asalkan tempatnya memiliki sumber daya panas bumi yang memadai.

Sistem panas bumi generasi terbaru dapat menghindari isu utama pemanfaatan hidrotermal yang biasanya berada di kawasan lindung atau dekat pemukiman, sehingga berisiko memicu konflik atau dampak sosial-ekonomi lainnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau