Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Berpotensi Manfaatkan Panas Bumi Generasi Terbaru, Bisa Penuhi 90 Persen Kebutuhan Industri

Kompas.com, 3 Desember 2025, 16:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Indonesia berpotensi memperluas pemanfaatan panas bumi ke sistem generasi terbaru berbekal pengalaman mengelola minyak, gas, dan hidrotermal. Sistem panas bumi generasi terbaru bisa dimanfaatkan untuk mencapai target nasional bauran energi baru terbarukan (EBT).

Indonesia juga dapat memanfaatkan sistem panas bumi generasi terbaru itu untuk memenuhi hingga 90 persen kebutuhan dalam proses memanaskan pada industri sektor manufaktur utama.

Baca juga:

Potensi sistem panas bumi generasi terbaru di Indonesia

Berbeda dengan hidrotermal, kenali kelebihannya

Sistem panas bumi generasi terbaru berbeda dengan panas bumi konvensional (hidrotermal), atau energi dalam air tanah atau uap yang dipanaskan oleh magma.

Berbeda dengan hidrotermal, sistem panas bumi generasi terbaru tidak memerlukan reservoir bawah tanah alami.

Sistem panas bumi generasi terbaru dapat dikembangkan di mana saja, asalkan tempatnya memiliki sumber daya panas bumi yang memadai.

Bahkan, sistem panas bumi generasi terbaru bisa menghindari isu utama pemanfaatan hidrotermal, yang biasanya berada di kawasan lindung atau dekat pemukiman, sehingga berisiko memicu konflik atau dampak sosial-ekonomi lainnya.

"Indonesia dapat memanfaatkan keahlian minyak dan gas, serta panas bumi (hidrotermal) yang kita miliki untuk membantu mengubah potensi ini menjadi proyek nyata dan mempercepat penurunan biaya pemanfaatan energi panas bumi," ujar Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa dalam keterangan tertulis, Selasa (2/12/2025).

Sebagai negara di wilayah Cincin Api Pasifik, Indonesia dapat memanfaatkan kemajuan teknologi pengeboran dan eksplorasi di bawah permukaan bumi yang telah membuat energi panas bumi semakin terjangkau.

Dengan sistem panas bumi generasi terbaru, Indonesia berpotensi memanfaatkan energi panas bumi di wilayah yang sebelumnya dianggap kurang ideal.

Baca juga:

Membantu mengurangi ketergantungan terhadap PLTU

Ilustrasi PLTU Batu bara. Indonesia berpotensi mengoptimalkan panas bumi generasi terbaru. Teknologi ini bisa suplai 90 persen kebutuhan panas industri.Wikimedia Ilustrasi PLTU Batu bara. Indonesia berpotensi mengoptimalkan panas bumi generasi terbaru. Teknologi ini bisa suplai 90 persen kebutuhan panas industri.

Indonesia bisa memanfaatkan energi panas bumi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara dan bahan bakar impor secara signifikan.

Pemanfaatan sistem panas bumi generasi terbaru memungkinkan Indonesia menyediakan pasokan listrik yang andal, dengan biaya kompetitif untuk berbagai industri dan bisnis pusat data.

Di sisi lain, Indonesia juga dapat memanfaatkan sistem panas bumi generasi terbaru tersebut untuk pendinginan terpusat (district cooling).

Potensi teknis panas bumi di Indonesia mencapai 2.160 GW

Foto udara Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (15/9/2025). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Indonesia merupakan negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia, mencapai sekitar 40 persen dari total potensi global atau sekitar 23,7 gigawatt (GW) dan menargetkan penambahan kapasitas PLTP sebesar 5,2 GW pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. ANTAFOTO/Adeng Bustomi/nzANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI Foto udara Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (15/9/2025). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Indonesia merupakan negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia, mencapai sekitar 40 persen dari total potensi global atau sekitar 23,7 gigawatt (GW) dan menargetkan penambahan kapasitas PLTP sebesar 5,2 GW pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. ANTAFOTO/Adeng Bustomi/nz

Berdasarkan laporan The Future of Geothermal in Indonesia yang dirilis Project InnerSpace, Selasa (2/12/2025), potensi teknis panas bumi di Indonesia mencapai 2.160 gigawatt (GW).

Laporan tersebut memberikan lima rekomendasi bagi Indonesia untuk mengoptimalkan pemanfaatan sistem panas bumi energi terbarukan.

Pertama, Indonesia perlu memperbarui definisi dan kerangka perizinan panas bumi. Indonesia harus memasukkan sistem panas bumi generasi terbaru, penggunaan panas langsung, dan pendinginan terpusat ke dalam kerangka perizinan tersebut.

Kedua, Indonesia perlu menetapkan target nasional untuk listrik dan panas industri berbasis panas bumi yang disertai peta jalannya.

Ketiga, Indonesia perlu membentuk jalur cepat panas bumi untuk mempercepat perizinan dan koordinasi antar-kementerian.

Keempat, Indonesia perlu mereformasi skema royalti panas bumi agar pemanfaatannya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kelima, Indonesia perlu memperluas program pelatihan dan sertifikasi teknis untuk memanfaatkan keahlian minyak dan gas Indonesia bagi pengembangan panas bumi.

Baca juga: 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau