Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT KONSERVASI

Menyelamatkan Spesies Endemik, Strategi Konservasi Taman Safari Indonesia di Era Perubahan Iklim

Kompas.com, 10 Desember 2025, 19:33 WIB
Aningtias Jatmika,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

“Karena owa jawa bersifat monogami dan sangat bergantung pada kelompok keluarga, pelepasliaran dilakukan dalam unit keluarga lengkap, yakni induk pejantan, betina, dan anakan, untuk memastikan keberhasilan adaptasi di alam. Persiapan menuju pelepasan ini telah berjalan dan terus dimatangkan,” jelas drh Bongot.

Baca juga: Bayi Panda Satrio Koleksi Baru Taman Safari Bogor, Diberi Nama Presiden Prabowo dan Dijaga 24 Jam

Untuk harimau sumatera, lanjutnya, TSI memang sudah sejak lama menjadi salah satu aktor penting dalam konservasi spesies endemik ini.

Dimulai pada 1994, TSI terlibat langsung dalam penyelamatan harimau dari konflik manusia-satwa, rehabilitasi, dan pelepasliaran. Hingga kini, 11 individu harimau telah berhasil dilepaskan kembali ke habitat aslinya.

Aswin menjelaskan bahwa konflik manusia–harimau merupakan tantangan besar karena kerusakan dan alih fungsi lahan membuat harimau semakin sulit mencari makan.

“Masuknya harimau ke permukiman bisa dipicu oleh tekanan ekologi di habitatnya, seperti ruang jelajah atau ketersediaan mangsa yang berkurang. Karena itu, pendekatan mitigasi harus melindungi keselamatan masyarakat sekaligus satwa. TSI selama puluhan tahun melakukan rescue untuk harimau konflik, membangun bank genetik, dan memastikan pengembangbiakan yang sehat,” kata Aswin

Upaya penangkaran harimau sumatera juga membuahkan hasil dengan lebih dari 25 anakan yang telah dilahirkan. Anakan ini memperkaya cadangan genetik harimau sumatera di luar habitat alaminya.

“Sementara, kucing mas masih dalam tahap penelitian dan pengembangan penangkaran,” lanjutnya.

Baca juga: Bayi Panda Lahir di Taman Safari Bogor, Dinamai Satrio oleh Prabowo

TSI Cisarua belum memiliki program reintroduksi untuk salah satu mesokarnivora yang populasinya rentan di Sumatera ini. Sebab, masih diperlukan pemahaman mendalam terkait perilaku, kebutuhan habitat, dan kesiapan ekologi lokasi pelepasan. Meski begitu, TSI telah menghasilkan 10–15 anakan sebagai basis awal populasi cadangan.

Dalam seluruh program penangkaran, lanjut drh Bongot, TSI menerapkan prinsip ketat terkait pemuliaan terkontrol, terutama larangan inbreeding. Setiap perkawinan harus memiliki tujuan konservasi yang jelas, termasuk peningkatan keragaman genetik atau membantu pasangan yang belum memiliki keturunan.

“Guna menjaga kualitas genetik, TSI juga bekerja sama dengan berbagai lembaga konservasi domestik ataupun internasional, termasuk kebun binatang di Berlin, Jerman, untuk pertukaran satwa dan pembentukan pasangan baru yang lebih sehat secara genetik,” papar drh Bongot.

Meski demikian, konservasi eksitu bukan tanpa tantangan. Kucing mas, misalnya, dikenal agresif hingga kerap membunuh pasangannya. Oleh karena itu, terang drh Bongot, penjodohan harus dilakukan secara hati-hati.

Harimau sumatera pun menghadapi tantangan tersendiri, seperti agresi antarindividu atau ketidakpercayaan diri pada betina lantaran cacat. Dari sisi teknis, keterbatasan jumlah individu harimau membuat pilihan pasangan semakin sedikit sehingga inseminasi buatan kadang diperlukan.

Baca juga: Taman Safari Indonesia Resmikan Enchanting Valley, Destinasi Baru Penuh Wahana Seru di Puncak

Di segi ekologis, keberhasilan pelepasliaran sangat ditentukan oleh carrying capacity habitat. Tak semua spesies dapat dikembalikan ke alam lantaran habitat sejumlah satwa endemik telah berubah total.

Konflik manusia dengan satwa juga menjadi isu besar yang ditangani TSI. Edukasi kepada masyarakat sekitar hutan pun dilakukan secara aktif.

Kendati terdapat tantangan, upaya konservasi TSI memperlihatkan hasil optimal berkat kerja sama dengan para pemangku kepentingan.

“Kami berkolaborasi erat dengan pengelola taman nasional, pemerintah daerah, serta perusahaan swasta,” tambah drh Bongot.

Jantung upaya konservasi

Seluruh upaya konservasi yang dilakukan TSI Cisarua berpusat di Rumah Sakit Hewan Taman Safari. Berbagai fasilitas medis dan konservasi di pusat satwa itu dirancang untuk memastikan perawatan komprehensif dan mendukung fungsi edukasi publik.

Drh Bongot menyebut RS Hewan ini sebagai jantung dari seluruh upaya konservasi. Sebab, di sinilah penyelamatan, rehabilitasi, dan penelitian kesehatan satwa berlangsung secara simultan.

Untuk mendukung operasional rumah sakit, TSI Cisarua memiliki 8 dokter hewan. Secara keseluruhan, lembaga konservasi ini memiliki 26 dokter hewan yang ditempatkan di seluruh TSI Group, mulai dari TSI Cisarua, TSI Prigen, TSI Bali dan Marine Safari Bali, hingga Batang Dolphin Center.

RS Hewan TSI Cisarua memiliki fasilitas medis yang setara dengan rumah sakit modern, mulai dari ruang periksa yang dipisahkan untuk hewan kecil dan besar hingga layanan pencitraan diagnostik tingkat lanjut, seperti CT Scan large bore satu-satunya di Indonesia yang akan beroperasi pada akhir 2025.

Baca juga: Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
LSM/Figur
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Pemerintah
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
LSM/Figur
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Pemerintah
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau