Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT KONSERVASI

Menyelamatkan Spesies Endemik, Strategi Konservasi Taman Safari Indonesia di Era Perubahan Iklim

Kompas.com, 10 Desember 2025, 19:33 WIB
Aningtias Jatmika,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

Fasilitas CT Scan itu didukung ruang X-ray, ultrasound, serta ruang operator berlapis timbal. Teknologi diagnostik ini memungkinkan identifikasi kondisi satwa secara akurat dan aman.

“Rumah sakit baru ini memiliki luas tiga kali lipat ketimbang fasilitas lama. Bahkan, akan jadi rumah sakit satwa terbesar se-Asia Tenggara,” ujar drh Bongot.

Kehadiran laboratorium yang berfungsi sebagai pusat pendidikan, perawatan, dan pengembangan teknologi masa depan memperkuat peran TSI Cisarua sebagai lembaga konservasi berbasis sains.

Di dalamnya tersedia peralatan lengkap, mulai dari tabung nitrogen hingga inkubator sel, serta laboratorium bioteknologi berbasis PCR untuk deteksi penyakit dan penentuan jenis kelamin satwa melalui DNA.

Tersedia pula fasilitas lanjutan, seperti ruang operasi steril berbasis UV, ruang perawatan inap terpisah untuk kasus infeksius dan non-infeksius, serta fisioterapi dan perawatan akuatik untuk memastikan setiap satwa mendapat penanganan sesuai kebutuhan spesiesnya.

Perhatian khusus juga diberikan pada satwa muda melalui Infant Care Unit, tempat bayi satwa dirawat ketika induknya tidak mampu mengasuh.

Baca juga: Harapan Baru Konservasi: Trio Anak Harimau Sumatera Terpotret di Way Kambas

Dengan inkubator modern serta susu formula khusus per spesies, unit tersebut membantu memastikan tumbuh kembang optimal anakan satwa sebelum menjalani proses reintroduksi ke kelompoknya.

Di fasilitas tersebut, terang drh Bongot, pengunjung nantinya juga dapat mengikuti program edukasi yang memungkinkan mereka melihat perawatan bayi satwa.

“Program tersebut akan memperkuat rasa empati dan kepedulian masyarakat, bahkan sejak dini, terhadap konservasi satwa liar,” imbuhnya.

Melawan waktu

Drh Bongot menyatakan, konservasi satwa endemik, baik kucing mas, harimau sumatera, maupun owa jawa, merupakan perlombaan melawan waktu.

Sebab, habitat asli satwa tersebut hilang lebih cepat ketimbang kemampuan satwa beradaptasi di tengah tantangan perubahan iklim.

“Apa yang kami lakukan di TSI tidak hanya menyelamatkan individu satwa. Kami tengah menjaga cerita evolusi yang berlangsung ribuan tahun agar tidak hilang begitu saja,” jelasnya.

Oleh karena itu, TSI tengah menyiapkan strategi jangka panjang, mulai dari riset penyakit berbasis genomik, perluasan fasilitas konservasi eksitu, pengembangan habitat semialami, penguatan pelepasliaran, hingga peningkatan kapasitas edukasi publik.

Seluruh strategi tersebut diarahkan untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang satwa endemik.

Baca juga: Viral Penemuan Rafflesia Hasseltii, Pakar Unair Ingatkan Pentingnya Eksplorasi dan Konservasi

Aswin pun menekankan bahwa konsep eduwisata yang dihadirkan TSI Cisarua harus membuat pengunjung membawa kesadaran baru bahwa hidup manusia terhubung dengan keberlangsungan satwa liar.

“Jika generasi hari ini tidak memahami pentingnya konservasi, kita akan menjadi saksi kepunahan yang sebenarnya bisa dicegah. Oleh karena itu, edukasi adalah prioritas terbesar kami. Konservasi bukan hanya untuk hari ini, melainkan untuk masa depan kehidupan,” kata Aswin.

Ia menegaskan bahwa konservasi tidak bisa dilakukan lembaga, seperti TSI, saja. Pemerintah, ilmuwan, pemegang izin lahan, dan sektor swasta harus terlibat dalam pemulihan ekosistem.

“Konservasi adalah tanggung jawab bersama. Kalau kita gagal menjaga habitat, fasilitas eksitu, seperti TSI, hanya bisa menunda kepunahan, bukan mencegahnya,” imbuh Aswin

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Pemerintah
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Pemerintah
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
Swasta
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
LSM/Figur
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
LSM/Figur
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
Pemerintah
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
LSM/Figur
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
LSM/Figur
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
LSM/Figur
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Pemerintah
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
LSM/Figur
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemerintah
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Pemerintah
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
LSM/Figur
Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar
Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau