Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT KONSERVASI

Menyelamatkan Spesies Endemik, Strategi Konservasi Taman Safari Indonesia di Era Perubahan Iklim

Kompas.com, 10 Desember 2025, 19:33 WIB
Aningtias Jatmika,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

CISARUA, KOMPAS.com — Pagi di kaki Gunung Pangrango, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, seakan bergerak pelan. Kabut turun dari pucuk-pucuk pohon dan menyelimuti kawasan hijau Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua yang sejak empat dekade terakhir menjadi rumah bagi ratusan satwa langka.

Di balik suasana sejuk itu, terdapat tantangan yang mesti segera dihadapi, yakni perubahan iklim dan penyempitan habitat alami spesies endemik Indonesia.

Direktur Utama TSI Group Aswin Sumampau mengatakan perubahan iklim memengaruhi banyak aspek kehidupan satwa, baik di alam maupun dalam perawatan, sehingga pendekatan konservasi harus semakin adaptif.

Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan konservasi yang lebih cermat terhadap perubahan iklim.

“Konservasi tidak bisa lagi berdiri sendiri. Kami harus menggabungkan sains, edukasi, teknologi, dan kolaborasi internasional,” kata Aswin saat ditemui Kompas.com di TSI Cisarua, Senin (10/11/2025), menjelaskan upaya yang tengah digalakkan lembaganya.

Baca juga: Dari Konservasi hingga Ekonomi Sirkular, Begini Transformasi Taman Safari Cisarua Jelang Hari Keanekaragaman Hayati

Ia menambahkan bahwa TSI menyeimbangkan tiga pilar jati diri, yakni konservasi, edukasi, dan rekreasi, dengan menempatkan konservasi sebagai fondasi utama.

Aktivitas rekreasi justru menjadi mekanisme keberlanjutan yang memungkinkan lembaga itu menjaga satwa-satwa langka dan menjalankan program-program ilmiah.

“Upaya pelestarian satwa adalah investasi jangka panjang. Dukungan publik melalui kunjungan memungkinkan kami menjaga kesinambungan program-program tersebut,” tutur Aswin

Jadi zona penyangga TNGGP

TSI Cisarua sendiri merupakan salah satu lembaga konservasi eksitu terbesar di Asia Tenggara. Letaknya pun sangat strategis di zona penyangga (buffer zone) Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Vice President of Life Science TSI Cisarua drh Bongot Huaso Mulia Radjagoekgoek mengatakan, kedekatan TSI Cisarua dengan TNGGP memberikan keuntungan ekologis dan ilmiah.

Baca juga: Marine Safari Bali, Gerbang Edukasi dan Konservasi Laut Nusantara

TSI Cisarua dapat mengembangkan konservasi eksitu tanpa menambah tekanan terhadap hutan primer. Pasalnya, kondisi lingkungan sangat mirip dengan habitat banyak satwa endemik. Hal ini juga memberi kemudahan dalam merujuk perilaku dan genetik populasi liar.

Aktivitas medis, riset, serta rehabilitasi yang tidak dapat dilakukan di dalam kawasan taman nasional pun bisa dilakukan di TSI Cisarua.

Direktur Utama TSI Group Aswin Sumampau dan Vice President of Life Science TSI Cisarua drh Bongot Huaso Mulia Radjagoekgoek.KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Direktur Utama TSI Group Aswin Sumampau dan Vice President of Life Science TSI Cisarua drh Bongot Huaso Mulia Radjagoekgoek.

Selain itu, lokasi Cisarua yang dekat dengan kota besar, seperti Bogor dan Jakarta, serta pusat penelitian, seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), turut memudahkan mobilisasi satwa sitaan, monitoring lapangan, serta kebutuhan logistik medis.

“Zona penyangga itu juga dirancang dalam tata ruang untuk mendukung konservasi, edukasi, dan penelitian sehingga keberadaan TSI sangat relevan sebagai mitra pelestarian TNGGP,” kata drh Bongot kepada Kompas.com.

Aswin menambahkan bahwa posisi TSI sebagai “benteng terakhir” bagi satwa yang terancam punah menjadikan lembaga tersebut memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan keberlanjutan populasi liar.

Baca juga: 27 Harimau Sumatera Terdeteksi di Leuser, Harapan Baru untuk Konservasi

Saat ini, TSI mengembangkan bank genetik dan DNA untuk spesies-spesies kritis sebagai upaya mencegah hilangnya keragaman genetik di masa depan.

Lembaga tersebut juga melakukan program rehabilitasi satwa sitaan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) serta riset kesehatan satwa untuk mencegah penyebaran penyakit yang mengancam populasi liar.

“Program edukasi publik, mulai dari interaksi langsung hingga kurikulum konservasi, melengkapi peran TSI dalam memastikan upaya pelestarian berjalan secara berkelanjutan,” tambah Aswin.

Dari owa jawa hingga harimau sumatera

Saat ini, TSI Cisarua tengah fokus mengonservasi satwa endemik Indonesia, mulai dari kucing mas (golden cat), harimau sumatera, hingga owa jawa. Untuk owa jawa, spesies endemik ini memang memiliki habitat alami di TNGGP.

Drh Bongot menjelaskan, TSI melakukan berbagai upaya, mulai dari riset, penangkaran terkendali, hingga pembentukan populasi cadangan untuk owa jawa.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
LSM/Figur
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
Swasta
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut  yang Sulit Dipantau
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut yang Sulit Dipantau
Pemerintah
INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU
INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU
LSM/Figur
Krisis Iklim: Tutupan Salju di Pegunungan Yunani Susut 58 Persen dalam 40 Tahun
Krisis Iklim: Tutupan Salju di Pegunungan Yunani Susut 58 Persen dalam 40 Tahun
Pemerintah
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Pemerintah
Momentum RI Raup 'Windfall Tax' Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
Momentum RI Raup "Windfall Tax" Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
LSM/Figur
PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
Swasta
Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
LSM/Figur
Menteri LH Jumhur Hidayat: UU Cipta Kerja Terlalu Kapitalistik
Menteri LH Jumhur Hidayat: UU Cipta Kerja Terlalu Kapitalistik
Pemerintah
Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
LSM/Figur
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Pemerintah
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
Pemerintah
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
LSM/Figur
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau