Editor
KOMPAS.com - Tantangan gizi dan bencana alam masih menjadi persoalan besar bagi banyak desa di Indonesia, terutama di wilayah yang sering terdampak banjir.
Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan anak.
Stunting, misalnya, sering diperburuk oleh penyakit infeksi dan rendahnya asupan gizi.
Secara nasional, prevalensi stunting masih berada di angka sekitar 19,8 persen pada 2024.
Meski mengalami penurunan, angka ini tetap menunjukkan bahwa pencegahan stunting membutuhkan upaya intensif di tingkat keluarga dan komunitas.
Dalam situasi seperti itu, ketahanan pangan menjadi faktor yang sangat menentukan. Banjir yang berulang dapat merusak lahan pertanian, mengurangi hasil panen, dan menekan pendapatan keluarga petani.
Ketika akses makanan bergizi menjadi terbatas, kerentanan terhadap masalah gizi pun meningkat. Oleh sebab itu, inovasi dalam sistem pertanian adaptif dan edukasi gizi menjadi kunci untuk membantu masyarakat tetap produktif dan sehat meski berada dalam kondisi lingkungan yang tidak stabil.
Pendekatan pemberdayaan masyarakat kini semakin penting untuk menjawab tantangan tersebut. Pelatihan, edukasi kesehatan, serta pemanfaatan teknologi digital terbukti membantu warga memahami risiko stunting, pola makan bergizi, hingga praktik pertanian yang tahan bencana.
Keterlibatan warga dalam berbagai kegiatan edukatif juga mendukung perubahan perilaku yang lebih bertahan lama, karena masyarakat menjadi aktor utama dalam menjaga kesehatan dan ketahanan lingkungan mereka.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Hibah Kosabangsa menjadi salah satu inisiatif yang menerapkan pendekatan tersebut di Desa Penggalaman. Program ini dilaksanakan oleh tim dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bersama Universitas Mulawarman (Unmul) sebagai pendamping, berlangsung sejak September hingga Desember 2025 dengan dukungan pendanaan dari DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berdasarkan kontrak No. 223/C3/DT.05.00/PM-kosabangsa/2025. Dua kelompok di desa (PKK dan Kelompok Tani Berkat Maju) menjadi mitra utama kegiatan.
Program bertema “Desa Tangguh Stunting dan Bencana Banjir” tersebut berfokus pada intervensi gizi spesifik-sensitif, pemanfaatan tanaman herbal, serta strategi pertanian adaptif.
Ketua tim pelaksana, apt. Dita Ayulia Dwi Sandi, M.Sc., bersama anggota tim apt. Hayatun Izma, M.Pharm.Sci. dan M Irwan Setiawan, M.Gz, menjelaskan bahwa kegiatan diarahkan untuk menjawab dua masalah utama warga.
“Kegiatan ini melibatkan dua mitra di Desa Penggalaman dengan permasalahan berbeda, yaitu kelompok PKK dengan isu stunting serta kelompok tani dengan kendala pertanian yang sering terdampak banjir. Melalui kolaborasi dua universitas, kami memberikan intervensi berbasis teknologi digital dan tanaman herbal untuk pencegahan stunting, serta solusi pertanian adaptif sebagai alternatif ketika lahan terendam banjir,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (12/12/2025).
Ketua tim pendamping, Prof Dr dr Swandari Paramita, M.Kes, bersama Dr dr Sjarif Ismail, M.Kes, dan Dr Ike Anggraeni Gunawan, M.Kes, mendampingi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Untuk kelompok PKK, rangkaian pelatihan mencakup edukasi stunting dan anemia, penggunaan aplikasi TASTING, pembuatan menu MPASI, pelatihan pengukuran antropometri, serta pengolahan minuman herbal dan cookies temulawak madu. Sementara itu, kelompok tani menerima pelatihan hidroponik, pengemasan produk, penentuan harga, serta budidaya TOGA vertikuler yang tahan banjir.
Sebanyak 20 anggota PKK dan 22 anggota kelompok tani mengikuti kegiatan ini.
“Melalui kegiatan pengabdian ini kami banyak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan bar,” ujar salah stau peserta.
Tim juga menyerahkan beragam output program, mulai dari modul pelatihan, aplikasi TASTING, alat produksi minuman herbal dan cookies, bahan MPASI, alat antropometri, instalasi hidroponik, rak vertikuler, hingga bibit dan pupuk.
Kepala Desa Penggalaman, Nur Ipansyah, menyampaikan apresiasi atas pendampingan tersebut.
“Kolaborasi dengan perguruan tinggi diperlukan untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi langsung kepada masyarakat guna menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada,” ujarnya.
Sebanyak 10 mahasiswa dari program studi farmasi dan kesehatan masyarakat turut terlibat dalam edukasi dan monitoring kegiatan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya