KOMPAS.com - Studi iklim tahun 2024 tentang kerugian ekonomi akibat perubahan iklim ditarik kembali setelah para peneliti mengidentifikasi kesalahan dalam data historis. Namun, setelah direvisi, kerugiannya tetap besar.
Studi yang dilakukan oleh Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) itu sebelumnya menarik perhatian dan sempat dikutip oleh lembaga keuangan dan media.
Baca juga:
Meskipun direvisi, studi yang awalnya diterbitkan di Nature tersebut tetap menunjukkan angka-angka yang mengkhawatirkan, dengan kerugian ekonomi global dan kerusakan iklim yang diproyeksikan akan meningkat tajam pada pertengahan abad ini.
Kendati demikian, revisi ini telah memicu perdebatan tentang keakuratan proyeksi iklim, serta implikasinya terhadap kebijakan dan investasi.
Penelitian awal menunjukkan, pendapatan global diprediksi menurun sebesar 19 persen dan menimbulkan kerugian tahunan sebesar 38 triliun dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 632.547 triliun) pada tahun 2050. Hal itu akibat ancaman ekonomi yang ditimbulkan oleh krisis iklim.
Penelitian awal juga menyatakan, ada kemungkinan 99 persen bahwa memperbaiki kerusakan iklim akan menelan biaya lebih besar daripada melakukan tindakan pencegahan dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Namun, setelah mengoreksi kesalahan dalam data ekonomi dan mengatasi faktor statistik yang terabaikan, angka-angka tersebut direvisi.
Baca juga:
Sebuah studi iklim 2024 tentang kerugian ekonomi akibat perubahan iklim direvisi karena kesalahan data. Namun, angkanya tetap mengkhawatirkan.Perhitungan yang diperbarui menunjukkan penurunan pendapatan global sebesar 17 persen, sedangkan kerugian tahunan sebesar 32 triliun dollar AS.
Selain itu kemungkinan 91 persen mengatasi dampak iklim akan lebih mahal daripada mencegahnya.
Penyesuaian ini menunjukkan distribusi kerusakan yang tidak merata, dengan wilayah yang lebih miskin menghadapi kerugian yang lebih besar secara proporsional terhadap pendapatan sehingga menurunkan nilai kerugian global dalam dollar.
Proyeksi yang salah tersebut berasal dari ketidakakuratan data ekonomi historis dan variabilitas statistik yang diremehkan. Para peneliti memperbarui data dan menerapkan kontrol yang lebih ketat untuk anomali, serta memperhitungkan korelasi antar-wilayah.
Meski PIK menarik kembali penelitian tersebut, para peneliti mengatakan, konsekuensi ekonomi dari perubahan iklim sangat besar.
Para ahli independen mengonfirmasi bahwa pola kerugian secara keseluruhan tetap konsisten, meskipun angka pastinya sedikit bergeser.
Penarikan kembali tersebut memicu kritik di media sosial, dengan beberapa pihak menyatakan bahwa ilmu iklim bisa dimanipulasi atau didorong oleh kepentingan politik.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya