Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pelindo Terminal Petikemas Terapkan Teknologi Terumbu Buatan di Karimunjawa

Kompas.com, 18 Desember 2025, 17:53 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pelindo Terminal Petikemas melakukan pengembangan ekonomi biru dan pariwisata berkelanjutan dengan menerapkan teknologi terumbu buatan Artificial Patch Reef (APR) di kawasan Karimunjawa, Jawa Tengah.

Berkolaborasi dengan Universitas Diponegoro (Undip), Pelindo Terminal Petikemas menyerahkan empat unit APR dengan kapasitas sekitar 600 koloni karang kepada kelompok nelayan “Omah Karang”.

Teknologi ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekosistem terumbu karang sekaligus mendukung pengembangan wisata bahari yang ramah lingkungan.

Baca juga: Penelitian Ungkap Kaitan Terumbu Karang dan Kenaikan Suhu Bumi

Peresmian pemasangan APR dilakukan di Dukuh Nyamplungan, Desa Karimunjawa, pada 10 Desember 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat nelayan setempat, pemerintah desa dan kecamatan, serta perwakilan Balai Taman Nasional Karimunjawa.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menyampaikan bahwa penerapan teknologi APR dirancang untuk memberikan manfaat lingkungan sekaligus sosial-ekonomi bagi masyarakat pesisir.

“Kami berharap teknologi APR ini dapat memperkuat ekonomi masyarakat pesisir melalui pengembangan wisata bahari berkelanjutan, sekaligus mendorong keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam menjaga ekosistem laut Karimunjawa,” ujar Widyaswendra dalam keterangan resmi, Kamis (18/12/2025).

Sebelumnya, kelompok nelayan Omah Karang telah mengembangkan wisata adopsi karang menggunakan metode konvensional.

Melalui penerapan APR–Coral Adoption, pengelolaan wisata adopsi karang diharapkan menjadi lebih terstruktur, terukur, serta meminimalkan potensi kerusakan terumbu karang alami.

Sebagai bagian dari dukungan terhadap penguatan usaha masyarakat, Pelindo Terminal Petikemas juga menyalurkan bantuan berupa 10 set peralatan selam skin diving serta mesin vacuum untuk pengemasan produk olahan ikan teri.

Selain wisata bahari, aktivitas penangkapan ikan tradisional seperti ikan teri dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah sebagai oleh-oleh khas Karimunjawa.

Baca juga: Perkuat Ekosistem Biru Lautan Indonesia, PIS dan SeaSoldier Tanam 525 Terumbu Karang di Maluku

Widyaswendra menambahkan bahwa program TJSL ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.

“Program TJSL kami tidak hanya berfokus pada pelestarian ekosistem laut, tetapi juga pada upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir. Kolaborasi dengan akademisi dan masyarakat lokal menjadi kunci agar manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan,” katanya.

Wisata adopsi karang saat ini semakin diminati, terutama di kalangan generasi muda, sebagai bentuk wisata berkelanjutan yang menggabungkan rekreasi dan edukasi lingkungan.

Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan bawah laut, tetapi juga dilibatkan secara langsung dalam upaya restorasi terumbu karang.

Sementara itu, Prof. Dr. Munasik, inventor teknologi APR dari Pusat Penelitian Ekonomi Biru Undip sekaligus koordinator kegiatan, menjelaskan bahwa teknologi APR mempermudah pengelolaan wisata adopsi karang di kawasan konservasi.

“Penerapan APR memungkinkan penyediaan stok karang yang terkelola dengan baik serta mendukung atraksi transplantasi karang yang sesuai dengan prinsip konservasi di kawasan lindung,” ujar Munasik.

Selain penerapan teknologi, program TJSL Pelindo Terminal Petikemas juga menitikberatkan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia. Para nelayan mendapatkan pelatihan dan sertifikasi SCUBA Diving, mulai dari Open Water Diver hingga Rescue Diver, serta pelatihan pengelolaan APR–Coral Adoption.

Baca juga: KKP Siapkan Peta Nasional Terumbu Karang dan Padang Lamun, Diluncurkan Akhir 2025

Sementara itu, ibu-ibu nelayan di Dusun Nyamplungan memperoleh pelatihan pengolahan hasil perikanan dari Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip.

Melalui program ini, Pelindo Terminal Petikemas berharap Karimunjawa dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata bahari unggulan yang mengedepankan kelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta keberlanjutan ekonomi lokal.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau