Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Tak Impor Beras, Pemerintah Dinilai Perlu Waspadai Harga dan Stok

Kompas.com, 18 Desember 2025, 14:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Antara

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia disebut tidak akan impor beras untuk kebutuhan konsumsi atau industri. Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan menyatakan, semua kebutuhan beras akan dipenuhi dari produksi dalam negeri.

"Kita semuanya bisa swasembada," kata Deputi Bidang Koordinasi Tata Niaga dan Distribusi Pangan Kemenko Pangan, Tatang Yuliono, dilansir dari Antara, Selasa (16/12/2025).

Baca juga:

Kebijakan swasembada pangan diputuskan usai rapat koordinasi tingkat menteri di kantor Kementerian Koordinator Pangan, Selasa (16/12/2025). Rapat itu dihadiri Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Perdagangan Budi Santoso, dan Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasantiserta, dan jajaran eselon kementerian.

Kementerian Perindustrian sebenarnya mengajukan impor sebanyak 380.952 ton beras industri untuk tahun 2026. Namun, pengajuan itu ditolak dalam rapat karena Indonesia sudah dapat memenuhi kebutuhan beras industri untuk 2026.

"Jadi ada usulan untuk beras industri 380.952 ton, kemudian kita tidak berikan untuk importasinya, kita akan penuhi dari dalam negeri," kata Tatang.

Selain kebutuhan industri, Indonesia menutup keran impor untuk beras konsumsi. Bahkan, kebijakan swasembada berlaku pula untuk zona perdagangan bebas, seperti di Sabang, Aceh.

Larangan impor beras perlu pertimbangan

Ada kebutuhan beras spesifik yang mungkin tak bisa dipenuhi dalam negeri

Indonesia tak akan impor beras konsumsi dann industri. Pemerintah diimbau memperhatikan berbagai aspek agar tidak membebani rakyat.Unsplash/pillepriske Indonesia tak akan impor beras konsumsi dann industri. Pemerintah diimbau memperhatikan berbagai aspek agar tidak membebani rakyat.

Menanggapi hal tersebut, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah mengatakan, pelaksanaan larangan impor perlu mempertimbangkan berbagai aspek. Khususnya, kebutuhan beras spesifik yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri.

Jenis beras spesifik dengan kandungan nutrisi dan gizi tertentu, seperti Basmati, yang produksinya sangat minim atau bahkan tidak ada di dalam negeri, menjadi tantangan tersendiri.

Jenis beras spesifik tersebut biasanya diimpor untuk memenuhi baik keperluan industri maupun kepentingan komersial, seperti restoran.

"Sebuah ide bahwa kita perlu swasembada 100 persen memang hal yang baik, tapi kan perlu realisasi juga ya. Apakah bisa disubstitusi oleh produksi dalam negeri itu. Tentu harus cukup proporsional, dalam arti kalau memang yang diproduksi dalam negeri kan sebagian besar beras untuk konsumsi umum ya, bukan beras-beras yang specialty rice, beras-beras khusus yang tadi kita kategorikan," ujar Said kepada Kompas.com, Kamis (18/12/2025).

Baca juga:

Jangan sampai rakyat terbebani

Larangan untuk semua jenis beras harus diiringi dengan ketersediaan pasokan penggantinya di dalam negeri. Larangan impor memang menjadi logis jika stok beras di dalam negeri melimpah.

Akan tetapi, Bulog pernah mencetak rekor cadangan beras tertinggi sepanjang sejarah beberapa bulan lalu, yang ternyata pada saat bersamaan harganya justru naik atau tetap tinggi.

Said mengingatkan pemerintah untuk memastikan ketersediaan stok pangan dan mengendalikan harga beras agar tidak membebani masyarakat.

"Jangan sampai ketika stok kurang, kemudian permintaan tetap tinggi, yang terjadi, mengulang apa yang sekarang ada ya, dari akhir tahun lalu sampai satu bulan lalu, saya kira, atau sampai sekarang pun kan harga beras masih tetap lebih tinggi dibanding apa? Year on year tahun 2023, 2024, masih lebih tinggi," ucap Said.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
Pemerintah
Ketika Fenomena 'Overwork' Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
Ketika Fenomena "Overwork" Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
LSM/Figur
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Pemerintah
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
Swasta
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau