Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sukabumi Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House

Kompas.com, 16 Februari 2026, 16:13 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Sukabumi meresmikan pemanfaatan fasilitas biogas rumah tangga dan Solar Dryer House di Kecamatan Simpenan, Jumat (13/2/2026), sebagai bagian dari pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat.

Peresmian dilakukan Bupati Sukabumi Asep Japar di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, untuk fasilitas biogas, serta di Kampung Babakan Asem, Desa Loji, untuk Solar Dryer House. Kegiatan ini turut dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Budi Azhar Mutawali.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Rumah Energi dan PT Insight Investment Management dalam pengembangan Desa Energi Insight, serta menjadi bagian dari proyek Pro Women 3 yang didukung pendanaan Ford Foundation.

Baca juga: Logam Tanah Jarang dan Sumber Energi Baru Dunia

Asep mengatakan pembangunan energi terbarukan harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat desa.

“Pemanfaatan biogas dan Solar Dryer House ini menunjukkan bahwa solusi energi bersih bisa hadir dari desa, dikelola masyarakat, dan berdampak pada lingkungan serta kesejahteraan warga,” ujarnya dalam keterangan resmi pekan lalu.

Fasilitas biogas di Kampung Cihurang memanfaatkan limbah organik dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Limbah sisa makanan diolah menjadi energi bersih untuk kebutuhan memasak warga.

Menurut Rumah Energi, pemanfaatan biogas tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap LPG sekaligus menurunkan emisi karbon hingga sekitar 2,5 ton CO? ekuivalen per tahun. Residu dari proses pengolahan juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair dan padat untuk pertanian.

Direktur Rumah Energi Sumanda Tondang menyebut teknologi tepat guna berbasis komunitas menjadi kunci keberlanjutan program.

“Biogas dan Solar Dryer House bukan sekadar infrastruktur, tetapi juga sarana pembelajaran masyarakat tentang energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular,” katanya.

Sementara itu, Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem dikembangkan untuk membantu proses pengeringan hasil panen seperti bawang merah dan padi. Selama ini, petani masih mengandalkan penjemuran terbuka yang rentan terhadap cuaca.

Baca juga: Wacana Pemangkasan Produksi Batu Bara Dinilai Harus Tingkatkan Bauran EBT

Teknologi pengering berbasis tenaga surya tersebut dirancang untuk menjaga kestabilan suhu sehingga kualitas hasil panen lebih merata dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

Melalui fasilitas ini, masyarakat di dua desa tersebut diharapkan tidak hanya memperoleh akses energi ramah lingkungan, tetapi juga meningkatkan kapasitas dalam mengelola sumber daya lokal dan memperkuat perekonomian desa.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta ini diharapkan dapat menjadi model pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sukabumi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau