Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pencairan Es Antartika Ubah Sirkulasi Laut dan Pengaturan Iklim Global

Kompas.com, 16 Februari 2026, 11:02 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan, pencairan es Antartika dapat mengubah sirkulasi laut dan pengaturan iklim di tingkat global.

Selama dua periode pencairan es terakhir, yang berupa transisi dari zaman es ke periode interglasial hangat, air lelehan dari lapisan es Antartika memperkuat stratifikasi di Samudra Selatan.

Selama 3 juta tahun terakhir, iklim Bumi telah berganti-ganti. Antara periode glasial yang panjang, di mana lapisan es kutub yang sangat besar menutupi sebagian besar Belahan Bumi Utara, membentang hingga benua Eropa, dan periode interglasial yang lebih hangat.

Transisi antara kedua keadaan ini disebut deglasiasi dan ditandai dengan hilangnya lapisan es secara bertahap.

"Meskipun dampak pencairan lapisan es besar di Belahan Bumi Utara terhadap sirkulasi Atlantik Utara telah dipelajari selama beberapa dekade dan diakui memiliki konsekuensi iklim yang besar, peran spesifik Antartika di Samudra Selatan yang mengelilinginya sebagian besar masih belum diketahui," ujar pemimpin studi sekaligus peneliti di Institut Kimia Max Planck dan Université Libre de Bruxelles, François Fripiat, dilansir dari Phys, Senin (16/2/2026).

Dalam sistem iklim global, Samudra Selatan menempati posisi sentral. Samudra Selatan merupakan persimpangan penting sirkulasi laut, menghubungkan Samudra Atlantik, Samudra Hindia, dan Samudra Pasifik.

Samudra Selatan juga adalah zona pertukaran utama antara atmosfer dan laut dalam, sebuah reservoir luas yang menyimpan sekitar seratus kali lebih banyak karbon dioksida daripada atmosfer. Pertukaran itu sangat bergantung pada stratifikasi laut. Yaitu, cara massa air tersusun menjadi lapisan-lapisan yang tercampur dengan baik atau buruk.

"Laut dapat dibandingkan dengan mesin raksasa yang mendistribusikan panas dan karbon dalam skala planet. Ketika mesin ini mengalami stratifikasi, operasinya melambat, dengan konsekuensi langsung terhadap iklim," tutur Fripiat.

Para peneliti menganalisis inti sedimen dari Samudra Selatan dan data mereka didasarkan pada komposisi isotop materi organik yang diawetkan dalam cangkang diatom. Alga laut mikroskopis ini ditemukan dalam jumlah besar di sedimen Samudra Selatan dapat berfungsi sebagai arsip alami kondisi lingkungan masa lalu.

Dampak pencairan es

Studi yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences ini menunjukkan bahwa selama periode pencairan gletser, stratifikasi laut meningkat tajam di dekat Antartika. Ini didorong oleh masukan air tawar dalam jumlah besar dari pencairan lapisan es.

Di sisi lain, lebih jauh ke utara di dekat garis depan kutub, gabungan aksi masukan air tawar ini dan angin barat mendorong peningkatan pengangkatan air laut dalam, serta mempertahankan tingkat ventilasi laut tertentu pada skala global.

Menurut Fripiat, data studi tersebut mengungkapkan bahwa sistem iklim tidak sepenuhnya berhenti. Bahkan, ketika lautan di dekat Antartika menjadi lebih terstratifikasi, mekanisme lain masih memungkinkan air laut dalam untuk naik dan bertukar dengan atmosfer, terutama di bawah pengaruh angin.

"Pertukaran ini mungkin telah melepaskan CO2 ke atmosfer, berkontribusi pada pemanasan yang mengakhiri zaman es," ucapny.

Jauh dari sekadar gurun es biasa, Antartika tampak sebagai salah satu konduktor tak terlihat dari sistem iklim Bumi. Studi yang bekerja sama dengan para peneliti dari Universitas Princeton dan Institut Alfred Wegener ini menegaskan pentingnya memahami mekanismenya untuk bisa mengantisipasi masa depan planet ini dengan lebih baik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sisi Lain Transisi Energi, Ada Jejak Litium di Air Rumah Tangga Selama 15 Tahun
Sisi Lain Transisi Energi, Ada Jejak Litium di Air Rumah Tangga Selama 15 Tahun
LSM/Figur
Tren Sustainability 2026, Perusahaan Fokus pada Regulasi dan Kepatuhan
Tren Sustainability 2026, Perusahaan Fokus pada Regulasi dan Kepatuhan
Pemerintah
Penyimpanan Energi Baterai Global Diproyeksikan Tumbuh Enam Lipat pada 2030
Penyimpanan Energi Baterai Global Diproyeksikan Tumbuh Enam Lipat pada 2030
Pemerintah
Suhu Ekstrem dan Kekeringan Ancam Sektor Energi Nuklir Eropa
Suhu Ekstrem dan Kekeringan Ancam Sektor Energi Nuklir Eropa
Pemerintah
Kematian Lalu Lintas Global Turun 21 Persen, Tapi Asia Tenggara Masih Rawan
Kematian Lalu Lintas Global Turun 21 Persen, Tapi Asia Tenggara Masih Rawan
Pemerintah
Buka Bogor Oncology Summit 2026, Menkes Budi Gunadi Minta Ubah Paradigma Penanganan Kanker
Buka Bogor Oncology Summit 2026, Menkes Budi Gunadi Minta Ubah Paradigma Penanganan Kanker
Pemerintah
Starbucks Barista Championship 2026 Mengangkat Keahlian Barista hingga Keberlanjutan Industri Kopi
Starbucks Barista Championship 2026 Mengangkat Keahlian Barista hingga Keberlanjutan Industri Kopi
Swasta
Upaya AQUA Menjaga Kualitas Air Sejak dari Hulu Merapi
Upaya AQUA Menjaga Kualitas Air Sejak dari Hulu Merapi
BrandzView
Cegah Anemia pada Ibu dan Anak, Nutrisi Berbasis Sains dan Skrining Dini Jadi Andalan
Cegah Anemia pada Ibu dan Anak, Nutrisi Berbasis Sains dan Skrining Dini Jadi Andalan
BrandzView
Komitmen Kembangkan Talenta Digital Bawa Telkom Raih Lestari Award 2026
Komitmen Kembangkan Talenta Digital Bawa Telkom Raih Lestari Award 2026
BrandzView
Bukan Predator, Mengapa Masyarakat Dayak Anggap Buaya Sebagai Saudara?
Bukan Predator, Mengapa Masyarakat Dayak Anggap Buaya Sebagai Saudara?
LSM/Figur
Populasi Ikan Kakatua Menurun, IPB Ingatkan Ancaman bagi Terumbu Karang dan Pesisir
Populasi Ikan Kakatua Menurun, IPB Ingatkan Ancaman bagi Terumbu Karang dan Pesisir
LSM/Figur
Praktik 'Greenwashing' Perusahaan Naik di Tengah Anjloknya Kualitas Laporan ESG
Praktik "Greenwashing" Perusahaan Naik di Tengah Anjloknya Kualitas Laporan ESG
Swasta
Penguatan Ekonomi Keluarga Jadi Bagian Strategi Menekan Kemiskinan di Papua
Penguatan Ekonomi Keluarga Jadi Bagian Strategi Menekan Kemiskinan di Papua
Pemerintah
Telur Ayam Umbaran vs Telur dalam Kandang: Mana Lebih Ramah Iklim?
Telur Ayam Umbaran vs Telur dalam Kandang: Mana Lebih Ramah Iklim?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau