Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harimau Beku Ditemukan dalam Freezer, 2 Orang di Vietnam Ditangkap

Kompas.com, 15 Februari 2026, 17:15 WIB
Add on Google
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Dua badan harimau beku ditemukan di dalam freezer di basement (ruang bawah tanah) milik seorang laki-laki (52) berinisial HDD di Vietnam.

Menurut keterangan polisi di Provinsi Thanh Hoa, wilayah selatan ibu kota Hanoi, total berat kedua satwa itu sekitar 400 kilogram, dilansir dari AFP, Minggu (15/2/2026).

Baca juga:

Dua laki-laki telah ditangkap terkait kepemilikan dan transaksi harimau tersebut. Polisi menyampaikan, HDD mengaku membeli dua harimau itu seharga dua miliar dong (sekitar Rp 1,2 miliar). HDD juga menyebut nama penjual berinisial NDS (31).

Kedua laki-laki itu telah ditangkap pada awal pekan ini. Menurut polisi, penangkapan dilakukan untuk penyelidikan lebih lanjut terkait perdagangan ilegal satwa yang terancam punah.

Baca juga:

Harimau beku ditemukan dalam freezer di Vietnam

Vietnam dikenal sebagai pusat konsumsi dan perdagangan produk hewan ilegal

Dua harimau dewasa seberat 400 kilogram ditemukan dalam kondisi beku di Vietnam. Polisi menangkap dua pria terkait transaksi ilegal.freepik.com/wirestock Dua harimau dewasa seberat 400 kilogram ditemukan dalam kondisi beku di Vietnam. Polisi menangkap dua pria terkait transaksi ilegal.

Sebagai informasi, Vietnam dikenal sebagai pusat konsumsi sekaligus jalur perdagangan populer untuk produk hewan ilegal.

Produk tersebut termasuk tulang harimau yang kerap digunakan dalam pengobatan tradisional.

Menurut pernyataan polisi, HDD juga memiliki peralatan untuk memproduksi lem tulang harimau.

Lem tersebut berupa zat lengket yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit tulang dan gangguan rangka.

Praktik ini menjadi perhatian serius karena harimau termasuk satwa yang dilindungi dan populasinya terus menurun.

Harimau dulunya hidup bebas di hutan Vietnam. Namun, saat ini, satwa tersebut hampir sepenuhnya menghilang dari alam liar negara itu.

Dilansir dari Vietnamplus, hanya ada sekitar lima ekor harimau liar di hutan di Vietnam. Jumlah tersebut adalah perkiraan yang diproyeksikan oleh World Wildlife Fund (WWF) berdasarkan perkiraan International Union for Conservation of Nature (IUCN) per tahun 2015. 

Sebab, sejak tahun 2009, Vietnam tidak mencatat adanya harimau di alam liar atau melakukan survei nasional terhadap hewan tersebut.

Polisi Vietnam kini mendalami kasus tersebut untuk mengungkap jaringan perdagangan yang lebih luas. Penyelidikan terus dilakukan untuk memastikan pelaku lain yang terlibat dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Pemerintah
 IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
LSM/Figur
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Swasta
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
LSM/Figur
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Pemerintah
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Pemerintah
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Swasta
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
Pemerintah
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Pemerintah
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
LSM/Figur
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
LSM/Figur
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
Pemerintah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
BUMN
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau