Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Banjir besar melanda Sumatera sejak akhir November 2025, terutama di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Curah hujan ekstrem mencapai 300–800 mm per hari menyebabkan sungai meluap, banjir bandang, dan tanah longsor.
Hingga 24 Desember 2025, tercatat 1.112 korban meninggal, 176 masih hilang, dan 577.600 warga mengungsi di posko darurat. BNPB melaporkan lebih dari 100.000 rumah rusak, termasuk 99.169 unit di Sumatera Utara.
Kerusakan juga menghantam sektor produktif: 38.878 hektare sawah puso dan 28.328 hektare perkebunan sawit rusak akibat rendaman berkepanjangan.
Secara makro, CELIOS memperkirakan Provinsi Aceh mengalami kerugian mencapai Rp 2,04 triliun, Sumatera Utara Rp 2,07 triliun dan Sumatera Barat sebesar Rp 2,01 triliun, rata-rata kerugian ekonomi rumah tangga berada pada kisaran Rp25–50 juta per keluarga.
Baca juga: BNPB Catat 3.176 Bencana Alam di Indonesia 2025, Banjir dan Longsor Mendominasi
Selain kehilangan anggota keluarga baik meninggal dunia atau status hilang, sebagian keluarga kehilangan harta benda, dengan hitungan beragam termasuk kehilangan mata pencaharian seperti pekerjaan atau bisnis.
Lantas bagaimana keluarga ini dapat keluar dari permasalahan keuangannya saat ini? Berikut adalah beberapa langkah bagaimana keluarga korban banjir dapat membuat perencanaan pasca bencana.
Langkah pertama adalah mengetahui posisi keuangan saat ini. Catat seluruh harta yang masih dimiliki: saldo rekening, emas, barang berharga yang masih bisa diselamatkan, kendaraan (meski rusak), hingga bantuan yang diterima.
Di sisi lain, buat daftar kewajiban seperti cicilan rumah, pinjaman koperasi, tagihan listrik-air tertunggak, atau kredit kendaraan. Tujuannya adalah memastikan keluarga memahami titik awal kondisi keuangannya, sehingga bisa menentukan prioritas.
Pisahkan mana pengeluaran esensial (makan, obat, transportasi, kebutuhan bayi/lansia) dan mana yang bisa ditunda. Selama masa pemulihan, finansial keluarga cenderung rapuh, sehingga keputusan konsumsi harus selektif. Gunakan sistem tiga kategori:
Jika memiliki asuransi jiwa, kesehatan, rumah, kendaraan, atau asuransi mikro dari koperasi, segera lakukan klaim. Simpan bukti kerusakan seperti foto/video, berita acara dari RT/RW/polisi, serta kuitansi rumah sakit.
Jika keluarga tidak paham prosesnya, mintalah bantuan relawan posko keuangan. Oknum penipuan dan pinjol ilegal mungkin beredar di tengah kita, maka senantiasa meminta informasi akurat di Layanan Konsumen OJK (081-157-157-157).
Gunakan bantuan tunai, donasi, atau sisa tabungan sebagai dana darurat sementara. Alokasikan dalam rekening terpisah agar tidak bercampur dengan pengeluaran harian. Target awal: 1–2 bulan kebutuhan pokok, tidak perlu ideal.
Bagi yang kehilangan pekerjaan atau usaha, rancang ulang strategi pendapatan melalui:
Baca juga: Cegah Banjir Berulang di Sumatera, Akademisi IPB Usul Moratorium Sawit
Susun kembali arus kas pasca bencana dengan formula 10-20-30-40 (dengan penyesuaian situasi):
10 persen zakat, jika tidak, usahakan tetap sedekah
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya