JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan dalam 6 bulan ke depan intensitas curah hujan di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumbar masuk dalam kategori esktrem.
Hal itu merupakan hasil analisa perangkat decision support system /DSS Kamajaya BRIN yang menunjukkan bahwa terdapat potensi pengulangan hujan dengan curah hujan ekstrem.
"Ada another peak (puncak curah hujan). Peak-nya kemarin (saat banjir bandang Sumatera November 2025) memang sudah lewah tuh, ekstrem banget. Tapi, ada secondary peak, ada third peak, yang harus kita siapkan," ujar Peneliti klimatologi dan perbahan iklim BRIN, Erma Yulihastin dalam webinar pekan lalu.
Baca juga: Banjir Sumatera Berpotensi Terulang Lagi akibat Kelemahan Tata Kelola
Untuk secondary peak, kata dia, kemungkinan akan terjadi dasarian III awal bulan ini atau 21-31 Januari 2026 dengan curah hujan mencapai hampir 399,192 mm/dasarian di Aceh Tengah. Adapun third peak terjadi pada dasarian III juga pada bulan ketiga atau 21-31 Maret 2026, dengan curah hujan mencapai 583,576 mm/dasarian di Aceh Tengah.
Sementara itu, second dan third peak juga terjadi di Agam (Sumbar) maupun Tapanuli Tengah (Sumut). Bahkan, thrid peak di Agam dan Tapanuli Tengah terjadi pada bulan Mei 2026, yang semestinya sudah memasuki musim kemarau.
"Saya enggak mengatakan ini berarti seperti Senyar, sama persis. Mungkin lebih kecil, namun kitaharus bersiap. Belum kelar cuaca ekstremnya, belum benar-benar masuk ke situis reduksi hujan atau minimal hujan, bahkan Mei pun itu masih mencapai titik ini (peak atau puncak hujan)," tutur Erma.
Kendati tidak separah dampak siklon tropis Senyar, kata dia, risiko puncak curah hujan lain perlu diantisipasi. Ini mengingat pada bulan Mei, potensi curah hujan di Agam sebesar 571,858 mm/dasarian dan Tapanuli tengah 614.481 mm/dasarian.
Tingginya potensi curah hujan tersebut disebabkan adanya siklonik atau sirkulasi angin berputar ke dalam, yang menarik massa udara dan uap air ke pusatnya.
Pola perilaku sirkulasi angin tersebut mulai mengalami perubahan, dengan badai menjadi semakin dekat dengan daratan Indonesia. Erma menilai, lokasi-lokasi terpanas di perairan wilayah Indonesia atau hotspot semakin mendekat dengan daratan akibat kenaikan suhu permukaan laut. Tren badai cenderung mendekat ke daratan di Indonesia terjadi dalam lima tahun terakhir.
"Jadi memang, mengapa badai itu melipir banget di sini? Karena yang terpanas ada di sini, dibanding dengan laut yang tengahnya, itu lebih panas di dekat darat. Fenomenanya itu disebut dengan marine heat wave," ucapnya.
Selain Sumatera bagian utara, badai-badi tropis juga terbentuk di Samudera Hindia, yang lebih ke arah perairan selatan Jawa. Walau intensitas curah hujan pada Mei 2026 tidak setinggi saat siklon tropis Senyar, tetapi Indonesia harus menghadapinya dalam waktu beberapa bulan ke depan.
Baca juga: Tahap Pemulihan Pasca-Bencana Sumatera jadi Fase yang Paling Rapuh
Berdasarkan proyeksi jangka panjang, Sumatera menjadi pulau paling rawan terdampak peningkatan frekuensi maupun intensitas hujan ekstrem dan angin kencang akibat krisis iklim hingga 2040. Di susul kemudian Kalimantan dan Jawa.
Sebelumnya, Guru Besar Ilmu Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Muhammad Basyuni menilai, siklon tropis Senyar hanya pemicu dari banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Kata dia, jika hutan di dalam daerah aliran sungai (DAS) kawasan bencana Sumatera sudah melampaui titik kritis dan belum ada upaya pemulihan, maka ke depannya curah hujan ekstrem akibat siklon tropis akan kembali menyebabkan banjir bandang.
"Kalau hulunya (hutan dalam DAS) tidak diperbaiki, nanti jika terjadi siklon baru, ada cuaca ekstrem, maka akan terjadi yang seperti ini (banjir bandang), bahkan (bisa) lebih parah lagi, ketika hulunya tidak dipulihkan," ucap.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya