Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tahap Pemulihan Pasca-Bencana Sumatera jadi Fase yang Paling Rapuh

Kompas.com, 5 Januari 2026, 18:53 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Transisi menuju pemulihan pasca bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menjadi fase paling krusial dan tidak cukup hanya berhenti pada fase tanggap darurat.

Transisi menuju pemulihan pasca bencana banjir bandang juga merupakan fase paling rapuh berkaca dari pengalaman tsunami Aceh pada 2004, gempa di Yogyakarta, serta likuifaksi di Palu pada 2018.

Baca juga: Pakar Soroti Lemahnya Sistem Pemulihan Pascabencana di Indonesia

"Pada tahap inilah bantuan sering terjadi keterputusan antara darurat dan pemulihan jangka menengah, antara kebijakan nasional dan realitas di tingkat lokal, serta antara program dan program dan kebutuhan riil masyarakat yang terdampak," ujar Kepala Organisasi Riset IPSH BRIN, M. Najib Azka, dalam webinar beberapa hari lalu.

Bencana banjir bandang di Sumatera perlu dilihat lebih dari sekadar permasalahan cuaca atau geologi, dengan memperhatikan aspek sosial-ekonomi yang menyentuh langsung kehidupan korban.

Senada, Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ali Yansyah Abdurrahim mengatakan, dampak bencana banjir bandang di Sumatera jauh melampaui fase tanggap darurat. Karena itu, transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan menjadi fase paling rentan dalam keseluruhan siklus penanggulangan bencana.

"Kami memulai dari kesadaran bahwa pemulihan pasca bencana harus berdampak pada manusia dan komunitas terdampak, bukan hanya pada kerusakan fisik," tutur Ali.

Manajemen pasca-bencana.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi tanpa menunggu tanggap darurat dicabut. Kepala Subdirektorat Pemulihan dan Peningkatan Fasilitas Sosial BNPB, Ati Setiawati mengatakan, pihaknya sudah meluncur ke lokasi bencana sejak secepatnya untuk pendataan kerusakan.

Jadi, harapannya pada fase transisi dari tanggap menuju pemulihan, BNPB sudah mengumpulkan informasi kerusakan, kerugian dan dampak bencana, serta kebutuhan ke depannya.

BNPB memetakan hal tersebut dengan menyusun rencana rehabilitas dan rekonstruksi pasca bencana (R3P). Kajian R3P dilaksanakan sejak masa tanggap darurat hingga awal pasca bencana pada lima sektor. Yaitu, permahan, infrastrktur, ekonomi, sosial, serta lintas sektor.

Saat ini, tim BNPB fokus mendamping kepada pemerintah daerah dalam pendataan rumah dan penyusunan dokumen R3P.

"Memang kami tidak cerita saja soal fisik gitu ya, di rehabilitasi rekonstruksi itu, tapi tentu juga ada isu recovery needs assessment-nya juga. Jadi, ada kebutuhan pemulihan untuk manusianya juga, lalu sosial ekonomi dan juga lingkungan," ucapnya.

Per akhir Desember 2025, data sementara BNPB mencatat, sebanyak 166.925 rumah, 215 fasilitas kesehatan, 803 rumah ibadah, 97 jembatan, 3.188 fasilitas pendidikan, dan 99 jalan, mengalami kerusakan.

Saat ini, pergerakan data masih sangat dinamis dan cakupan wilayah yang sangat luas menjadi kendala bagi tim di daerah, terutama data rumah terdampak.

"Karena seperti kita tahu di beberapa kota, seperti Pidie Jaya tiba-tiba hujan lagi, banjir lagi, gitu. Lalu, di Agam, juga di Kota Padang, itu banjir-banjirnya itu eh berulang, Jadi, dinamika data masih sangat besar," ujar Ati.

Target penyusunan R3P untuk provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir Januari 2026.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau