Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelondongan Kayu Sisa Banjir Digunakan untuk Hunian Sementara di Sumatera

Kompas.com, 5 Januari 2026, 19:48 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Lembaga kemanusiaan Rumah Zakat dan masyarakat memanfaatkan gelondongan kayu sisa banjir bandang untuk membangun hunian sementara (huntara) di daerah terdampak banjir Sumatera. Kayu-kayu itu dikumpulkan tim gabungan Kementerian Kehutanan (Kemenhut).

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Subhan mengatakan bahwa hingga hari ke-15 pelaksanaan pembersihan kayu difokuskan di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.

“Pembersihan difokuskan di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, yang masih mengalami hambatan akses akibat tumpukan kayu sisa banjir," ungkap Subhan dalam keterangannya, Senin (5/1/2026).

Baca juga: Gelondongan Kayu di Banjir Sumatera Bukti Kerusakan Hutan Sistemik, Bukan Sekadar Anomali Cuaca

Kayu yang masih dapat dimanfaatkan dikumpulkan di lokasi kejadian dan telah diukur oleh Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) dengan total 103 batang kayu atau setara 93,11 meter kubik.

Subhan memerinci, petugas mengerahkan 23 unit alat berat terdiri dari 21 unit milik Kemenhut (10 ekskavator capit, sembilan ekskavator bucket, dan dua unit dozer), dua unit milik TNI (buldozer dan ekskavator), serta fua unit ekskavator dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Selain itu, satu unit alat berat juga dikerahkan untuk membantu pembersihan parit dan halaman SMP Negeri 3 Langkahan. Sebanyak 50 personel turut mengangkut sisa kayu banjir di SD Negeri 4 Langkahan.

"Berdasarkan pantauan di lapangan, estimasi pemanfaatan kayu sisa bencana oleh lembaga kemanusiaan Rumah Zakat bersama masyarakat pada hari ini mencapai sekitar 3 meter kubik dengan menggunakan tujuh unit gergaji mesin," tutur Subhan.

Sementara itu, akumulasi pemanfaatan kayu sejak 29 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026 diperkirakan mencapai 18,5 meter kubik. Hingga saat ini, tercatat tiga hunian sementara yang masih dalam proses pembangunan.

Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) terus melanjutkan pembersihan rumah warga terdampak banjir di Aceh Tamiang.

Baca juga: Bupati Agam Beberkan Kondisi Pasca-Banjir Bandang

Hunian Tetap

Kemenhut juga tengah menyiapkan tetap di lahan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) di Sumatera Utara. Petugas menerima laporan adanya temuan kayu dalam jumlah besar di Sungai Batang Toru, cabang Aek Rambe, Sumatera Utara.

“Saat ini, temuan tersebut masih dalam tahap pendalaman serta penanganan lebih lanjut oleh tim terkait sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” beber Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno menyampaikan separuh kabupaten/kota yang terdampak bannir dan longsor telah beralih dari fase tanggap darurat ke fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi.

"Di Aceh, terdapat tujuh kabupaten/kota yang sudah masuk ke fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi. Sedangkan 11 kabupaten/kota di Aceh masih memperpanjang masa tanggap darurat," ungkap Pratikno dalam konferensi pers, Senin (29/12/2025).

Di Sumatera Utara, terdapat delapan kabupaten/kota yang sudah masuk ke tahap transisi rehabilitasi dan rekonstruksi, dan delapan kabupaten/kota masih tanggap darurat. Sedangkan di Sumatera Barat, terdapat 10 kabupaten/kota yang masuk ke fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi, dengan tiga kabupaten/kota yang berada dalam fase tanggap darurat.

Pratikno menyatakan, daerah yang melakukan perpanjangan status tanggap darurat bertujuan agar daerah itu siap masuk ke fase rehabilitasi dan rekonstruksi.

"Terkait listrik, pengiriman genset, mobil penjernih air, truk tangki, sumur siap pakai, toilet darurat, dan berbagai alat lainnya terus dan berlanjut terus ditambahkan, diperluas pengoperasiannya," jelas Pratikno.

"Sedangkan terkait telekomunikasi, jaringan telah kembali normal di 14 kabupaten/kota. Untuk daerah yang belum pulih, ditambahkan Starlink, kami saat ini menambah 280 unit, dan bersamaan dengan itu percepatan pemulihan jaringan komunikasi terus dilakukan," imbuh dia.

Pemerintah juga mengirimkan dokter spesialis, dokter umum, dan calon dokter menjadi relawan kesehatan di daerah terisolasi dengan fokus pada layanan kesehatan dasar, bedah minor, maupun penyembuhan trauma. Pratikno mencatat, semua rumah sakit umum daerah (RSUD) telah beroperasi, meski sebagiannya belum beroperasi penuh

"Dari 867 puskesmas yang terdampak, saat ini tinggal delapan yang masih dalam tahap recovery dan terus dilakukan percepatan pemulihan," tutur dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT
Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT
LSM/Figur
Pakar Ungkap Peran Hutan dan Iklim Mikro untuk Kurangi Risiko Banjir Bandang
Pakar Ungkap Peran Hutan dan Iklim Mikro untuk Kurangi Risiko Banjir Bandang
LSM/Figur
Kemenhut Gandeng Ahli Investigasi 11 Subyek Hukum Terkait Banjir Sumatera Utara
Kemenhut Gandeng Ahli Investigasi 11 Subyek Hukum Terkait Banjir Sumatera Utara
Pemerintah
PBB Buka Pelaporan Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat Bisa Lapor
PBB Buka Pelaporan Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat Bisa Lapor
Pemerintah
Banjir Sumatera Cerminan Kegagalan Pemanfaatan Bentang Alam
Banjir Sumatera Cerminan Kegagalan Pemanfaatan Bentang Alam
LSM/Figur
Perluas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes Gandeng BRI
Perluas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes Gandeng BRI
BUMN
Riset Ungkap 11 Desa di DAS Tamiang Aceh Rawan Banjir Bandang
Riset Ungkap 11 Desa di DAS Tamiang Aceh Rawan Banjir Bandang
LSM/Figur
Krisis Pengungsi Global Disebut Akan Makin Parah Tanpa Investasi Jangka Panjang
Krisis Pengungsi Global Disebut Akan Makin Parah Tanpa Investasi Jangka Panjang
LSM/Figur
Tutupan Hutan DAS Tamiang Aceh Tergerus Sawit dan Permukiman Selama 20 Tahun
Tutupan Hutan DAS Tamiang Aceh Tergerus Sawit dan Permukiman Selama 20 Tahun
LSM/Figur
Suhu Bumi Meningkat, Kupu-kupu Monarch Makin Rentan Parasit
Suhu Bumi Meningkat, Kupu-kupu Monarch Makin Rentan Parasit
LSM/Figur
Di Balik Manuver AS ke Venezuela, Trump Ingin Dunia Tetap Bergantung pada Minyak?
Di Balik Manuver AS ke Venezuela, Trump Ingin Dunia Tetap Bergantung pada Minyak?
LSM/Figur
Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama
Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama
Pemerintah
Dukung Literasi Papua, WVI dan Mitra Universitas Terbitkan Buku Cerita Anak
Dukung Literasi Papua, WVI dan Mitra Universitas Terbitkan Buku Cerita Anak
LSM/Figur
Banjir dengan Bongkahan Batu di Sulut, Pakar Tekankan Penilaian Risiko dan Multi-layer Solution
Banjir dengan Bongkahan Batu di Sulut, Pakar Tekankan Penilaian Risiko dan Multi-layer Solution
LSM/Figur
Tak Ada Deforestasi, tapi Longsor Datang: Ada Apa dengan Sumatera?
Tak Ada Deforestasi, tapi Longsor Datang: Ada Apa dengan Sumatera?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau