Terdapat tiga faktor yang menjadikan Greenland menjadi wilayah strategis bagi AS, dilansir dari CNN.
Pertama, posisi geopolitik, yang mana Greenland terletak di antara AS dengan Eropa dan berada di jalur yang disebut celah GIUK, jalur maritim penghubung Arktik ke Samudera Atlantik.
Lokasi tersebut menjadikan Greenland sangat penting untuk mengendalikan akses ke Atlantik Utara melalui perdagangan maupun keamanan.
Kedua, kekayaan sumber daya alam Greenland, seperti minyak, gas, dan mineral langka, yang menambah pentingnya posisi strategisnya.
Mineral-mineral ini dinilai cukup penting bagi perekonomian global karena dibutuhkan untuk memproduksi berbagai produk, dari mobil listrik, turbin angin, hingga perlengkapan militer.
Kekayaan mineral Greenland kemungkinan lebih mudah diakses seiring dengan mencairnya es di Arktik akibat krisis iklim.
Akan tetapi, penambangan mineral tersebut kemungkinan akan sulit dilakukan karena pegunungan, kurangnya infrastruktur, dan peraturan lingkungan yang berlaku.
Pencairan es juga membuat jalur pelayaran utara dapat dilalui semakin lama dalam setahun, yang berdampak pada perdagangan dan keamanan.
Baca juga:
Greenland disebut penting bagi keamanan Amerika Serikat. Cadangan mineral langka dan krisis iklim membuatnya diincar.Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa menilai, menguasai Venezuela menjadi bagian dari strategi AS untuk membuat dunia tidak berhasil melakukan transisi dari energi fosil ke terbarukan.
"Ini strategi besar dari Amerika untuk membuat dunia itu tidak berhasil melakukan transisi energi, khususnya dari minyak dan gas, yang berkaitan dengan industri Amerika," ujar Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa kepada Kompas.com, Selasa (6/1/2025).
AS dinilai membutuhkan minyak mentah dari Venezuela untuk refinery atau kiang-kilang di Teluk Meksiko. AS termasuk produsen minyak terbesar, dengan produksi sebesar 12-13 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor.
Dengan demikian, dapat dibaca mengapa saat Trump menjadi Presiden AS berupaya memperlambat penetrasi kendaraan listrik.
Ia menambahkan, cadangan minyak AS kemungkinan akan berkurang secara signifikan dalam 5-10 tahun ke depan. Jika permintaan minyak AS bisa tetap tinggi seperti sekarang, Trump membutuhkan pasokan cadangan baru, yang salah satunya Venezuela.
AS disebut akan terus mencari cadangan minyak baru ke negara-negara lain karena sudah terlanjur membangun infrastruktur untuk mengelola energi fosil yang sangat mahal. Apalagi, untuk mempertahankan suplai minyak membutuhkan investasi berskala sangat besar.
"Yang harus diingat namanya minyak lama-lama juga akan habis kalau dipakai. Atau, kalau pun ada sumber dayanya belum tentu ekonomis kalau diproduksi. Banyak sekali faktor yang tidak selalu sejalan dengan keinginan dari Presiden Trump. Nanti ke depannya itu mereka kemungkinan besar akan eksplorasi cadangan minyak negara lain," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya