KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan para pejabat lainnya berulang kali membahas tentang membeli Greenland, wilayah semi-otonomi di utara bumi yang dimiliki Denmark.
"Hal itu (membeli Greenland) saat ini sedang aktif dibahas oleh Presiden (Trump) dan tim keamanan nasionalnya," ujar juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dilansir dari BBC, Kamis (8/1/2026).
Baca juga:
Pihak Greenland dan Denmark berkali-kali menegaskan bahwa pulau itu tidak untuk dijual. AS membuka semua opsi untuk memperoleh Greenland, termasuk menggunakan kekuatan militer.
Hal itu ditambah dengan Trump yang telah secara sepihak menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dan menguasai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia itu.
"Opsi pertama Trump selalu diplomasi," tutur Leavitt.
Donald Trump. AS keluar dari 66 organisasi internasional.Bulan lalu, sebelum pasukan AS menyerang Venezuela, Trump mengatakan bahwa pihaknya memerlukan Greenland.
"Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional," ucap Trump kala itu.
Setelah serangan AS ke Venezuela, Eropa mulai menanggapi Trump dengan serius. Pada Selasa (6/1/2025), para pemimpin Denmark, Perancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris Raya menanggapinya dalam pernyataan bersama.
Mereka menyatakan, keamanan di wilayah Arktik harus dicapai melalui kerja sama sekutu NATO, serta menegaskan kembali kedaulatan Greenland.
Di balik alasan keamanan, motif sebenarnya Trump ingin menguasai Greenland dipertanyakan ulang, mengingat AS disebut menguasai Venezuela untuk memperoleh cadangan minyaknya.
Baca juga:
Greenland disebut penting bagi keamanan Amerika Serikat. Cadangan mineral langka dan krisis iklim membuatnya diincar.Berdasarkan Survei Geologi AS, Greenland memiliki cadangan minyak dan gas yang belum ditemukan dalam jumlah signifikan. Greenland juga mempunyai cadangan mineral tanah jarang terbesar kedelapan di dunia.
AS disebut telah mengamankan akses ke mineral-mineral itu sebagai prioritas utama karena dominasi China dalam rantai pasokan banyak logam penting.
Namun, iklim Greenland yang keras, lokasinya yang terpencil, serta hukum dan peraturan lingkungan membuat sebagian besar sumber daya alamnya sulit, atau bahkan tidak mungkin diekstraksi.
Greenland melarang eksplorasi minyak dan gas lepas pantai baru pada tahun 2021, dengan krisis iklim sebagai alasan utamanya.
Sebelum dilarang Greenland, sebuah perusahaan Inggris mendapatkan beberapa izin pengeboran aktif di satu area lepas pantai itu. Perusahaan tersebut saat ini sedang bekerja sama dengan industri minyak dan gas di AS untuk pengeboran, meski belum ada kegiatan produksi.
"Cadangan mineral pulau itu telah menarik minat lebih besar dari perusahaan asing, tapi perusahaan-perusahaan tersebut menghadapi hambatan yang cukup besar," ujar Sekretaris Tetap Kementerian Bisnis, Sumber Daya Mineral, Energi, Keadilan, dan Kesetaraan Gender Greenland, Jørgen Hammeken-Holm, dilansir dari Inside Climate News.
Selain itu, perusahaan yang telah memperoleh izin mengeksplorasi salah satu cadangan mineral Greenland lebih dari satu dekade lalu, sudah dilarang mengaksesnya sejak tahun 2021.
Pelarangan penambangan uranium yang bercampur dengan mineral tanah jarang menjadi pembatasan baru setelah warga lokal khawatir dengan polusi radioaktif dari aktivitas ekstraktif tersebut.
Cadangan mineral lainnya, logam tanah jarang yang telah dilisensikan kepada perusahaan milik AS. Proyek itu menghadapi kendala dan belum berproduksi karena kesulitan memproses mineral usai diekstraksi.
Aturan lingkungan memang akan mencegah dampak buruk dari kegiatan pertambangan. Namun, kata dia, sampai saat ini, sebagian besar proyek gagal untuk maju karena kurangnya pendanaan.
Menurut Hammeken-Holm, negara-negara Eropa lebih vokal menyatakan minat mereka untuk pertambangan di Greenland.
“Amerika Serikat bersikap dingin kepada kami selama setahun terakhir sejak Trump menjabat," ucapnya.
Greenland disebut penting bagi keamanan Amerika Serikat. Cadangan mineral langka dan krisis iklim membuatnya diincar.Terdapat tiga faktor yang menjadikan Greenland menjadi wilayah strategis bagi AS, dilansir dari CNN.
Pertama, posisi geopolitik, yang mana Greenland terletak di antara AS dengan Eropa dan berada di jalur yang disebut celah GIUK, jalur maritim penghubung Arktik ke Samudera Atlantik.
Lokasi tersebut menjadikan Greenland sangat penting untuk mengendalikan akses ke Atlantik Utara melalui perdagangan maupun keamanan.
Kedua, kekayaan sumber daya alam Greenland, seperti minyak, gas, dan mineral langka, yang menambah pentingnya posisi strategisnya.
Mineral-mineral ini dinilai cukup penting bagi perekonomian global karena dibutuhkan untuk memproduksi berbagai produk, dari mobil listrik, turbin angin, hingga perlengkapan militer.
Kekayaan mineral Greenland kemungkinan lebih mudah diakses seiring dengan mencairnya es di Arktik akibat krisis iklim.
Akan tetapi, penambangan mineral tersebut kemungkinan akan sulit dilakukan karena pegunungan, kurangnya infrastruktur, dan peraturan lingkungan yang berlaku.
Pencairan es juga membuat jalur pelayaran utara dapat dilalui semakin lama dalam setahun, yang berdampak pada perdagangan dan keamanan.
Baca juga:
Greenland disebut penting bagi keamanan Amerika Serikat. Cadangan mineral langka dan krisis iklim membuatnya diincar.Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa menilai, menguasai Venezuela menjadi bagian dari strategi AS untuk membuat dunia tidak berhasil melakukan transisi dari energi fosil ke terbarukan.
"Ini strategi besar dari Amerika untuk membuat dunia itu tidak berhasil melakukan transisi energi, khususnya dari minyak dan gas, yang berkaitan dengan industri Amerika," ujar Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa kepada Kompas.com, Selasa (6/1/2025).
AS dinilai membutuhkan minyak mentah dari Venezuela untuk refinery atau kiang-kilang di Teluk Meksiko. AS termasuk produsen minyak terbesar, dengan produksi sebesar 12-13 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor.
Dengan demikian, dapat dibaca mengapa saat Trump menjadi Presiden AS berupaya memperlambat penetrasi kendaraan listrik.
Ia menambahkan, cadangan minyak AS kemungkinan akan berkurang secara signifikan dalam 5-10 tahun ke depan. Jika permintaan minyak AS bisa tetap tinggi seperti sekarang, Trump membutuhkan pasokan cadangan baru, yang salah satunya Venezuela.
AS disebut akan terus mencari cadangan minyak baru ke negara-negara lain karena sudah terlanjur membangun infrastruktur untuk mengelola energi fosil yang sangat mahal. Apalagi, untuk mempertahankan suplai minyak membutuhkan investasi berskala sangat besar.
"Yang harus diingat namanya minyak lama-lama juga akan habis kalau dipakai. Atau, kalau pun ada sumber dayanya belum tentu ekonomis kalau diproduksi. Banyak sekali faktor yang tidak selalu sejalan dengan keinginan dari Presiden Trump. Nanti ke depannya itu mereka kemungkinan besar akan eksplorasi cadangan minyak negara lain," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya