Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Di Balik Manuver AS ke Venezuela, Trump Ingin Dunia Tetap Bergantung pada Minyak?

Kompas.com, 6 Januari 2026, 18:01 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) akan memanfaatkan cadangan minyak Venezuela usai menangkap presiden negara itu, Nicolas Maduro.

Motivasi Presiden AS, Donald Trump, menguasai Venezuela menjadi bagian dari strategi negara tersebut untuk membuat dunia tidak berhasil melakukan transisi dari energi fosil ke terbarukan.

Baca juga: IESR Sebut Impor Minyak Indonesia Tak Terdampak Konflik AS-Venezuela

"Ini strategi besar dari Amerika untuk membuat dunia itu tidak berhasil melakukan transisi energi, khususnya dari minyak dan gas, yang berkaitan dengan industri Amerika," ujar Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa kepada Kompas.com, Selasa (6/1/2025).

Venezuela mempunyai cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, mayoritas cadangan Venezuela berjenis minyak berat (heavy oil) dengan viskositas tinggi, yang teksturnya agak padat, seperti lumpur.

Jenis minyak berat cenderung sulit untuk diekstraksi dan diproduksi. Maka, dibutuhkan investasi berskala besar dan teknologi tinggi untuk mengelola minyak berat.

Produksi minyak Venezuela memang pernah menyentuh 3,5 juta barel per hari. Terakhir kali, produksi minyak Venezuela hanya 1,1 jut barel per hari.

AS kemungkinan membutuhkan waktu cukup lama untuk meningkatkan produksi minyak dari cadangan milik Venezuela ke era di mana bisa mencapai 3,5 juta barel per hari.

Di sisi lain, dalam hal energi untuk menggerakan kendaraan, dunia terbelah dalam dua arus mainstream. Pertama, China sebagai pendorong utama pengadopsian elektrifikasi kendaraan. Untuk membangkitkan tenaga listrik dapat melalui berbagai sumber energi, termasuk yang terbarukan.

Kedua, AS sebagai pendorong utama energi fosil atau bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan. Meski AS ingin menggenjot produksi minyak, sejumlah permodelan, termasuk dari Badan Energi Internasional (IEA), memprediksi permintaan minyak global akan mencapai puncak pada 2030 dan setelah itu akan mulai turun.

Penurunan permintaan minyak akibat BBM yang mahal dan kenaikan elektrifikasi kendaraan di tingkat global dalam lima tahun terakhir. Namun, permintaan minyak tidak akan menghilang lantaran adanya kebutuhan untuk petrokimia.

"Belum tentu keinginan Amerika untuk mendorong agar dunia tetap bergantung pada energi minyak itu bakal mulus ya, karena ya orang (negara-negara lain) punya opsi teknologi lain dan sejarah menunjukkan disrupsi itu bisa terjadi. Ya ini maunya rezim Trump, kan," tutur Fabby.

AS Butuh Minyak Venezuela

AS membutuhkan minyak mentah dari Venezuela untuk refinery atau kiang-kilang di Teluk Meksiko. AS termasuk produsen minyak terbesar, dengan produksi sebesar 12-13 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Jadi, dapat dibaca mengapa saat Trump menjadi Presiden AS berupaya memperlampat penetrasi kendaraan listrik.

Kata dia, cadangan minyak AS kemungkinan akan berkurang secara signifikan dalam 5-10 tahun ke depan. Jika permintaan minyak AS bisa tetap tinggi seperti sekarang, maka Trump membutuhkan pasokan cadangan baru, yang salah satunya Venezuela.

AS kemungkinan akan terus mencari cadangan minyak baru ke negara-negara lain karena sudah terlanjur membangun infrastruktur untuk mengelola energi fosil yang sangat mahal. Apalagi, untuk mempertahankan suplai minyak membutuhkan investasi berskala sangat besar.

Baca juga: Demo di Kedubes AS, Buruh Desak Pemerintah Tegas Respons Penangkapan Presiden Venezuela

"Yang harus diingat namanya minyak lama-lama juga akan habis kalau dipakai. Atau, kalaupun ada sumber dayanya belum tentu ekonomis kalau diproduksi. Banyak sekali faktor yang tidak selalu sejalan dengan keinginan dari Presiden Trump. Nanti ke depannya itu mereka kemungkinan besar akan eksplorasi cadangan minyak negara lain," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau