KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) akan memanfaatkan cadangan minyak Venezuela usai menangkap presiden negara itu, Nicolas Maduro.
Motivasi Presiden AS, Donald Trump, menguasai Venezuela menjadi bagian dari strategi negara tersebut untuk membuat dunia tidak berhasil melakukan transisi dari energi fosil ke terbarukan.
Baca juga: IESR Sebut Impor Minyak Indonesia Tak Terdampak Konflik AS-Venezuela
"Ini strategi besar dari Amerika untuk membuat dunia itu tidak berhasil melakukan transisi energi, khususnya dari minyak dan gas, yang berkaitan dengan industri Amerika," ujar Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa kepada Kompas.com, Selasa (6/1/2025).
Venezuela mempunyai cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, mayoritas cadangan Venezuela berjenis minyak berat (heavy oil) dengan viskositas tinggi, yang teksturnya agak padat, seperti lumpur.
Jenis minyak berat cenderung sulit untuk diekstraksi dan diproduksi. Maka, dibutuhkan investasi berskala besar dan teknologi tinggi untuk mengelola minyak berat.
Produksi minyak Venezuela memang pernah menyentuh 3,5 juta barel per hari. Terakhir kali, produksi minyak Venezuela hanya 1,1 jut barel per hari.
AS kemungkinan membutuhkan waktu cukup lama untuk meningkatkan produksi minyak dari cadangan milik Venezuela ke era di mana bisa mencapai 3,5 juta barel per hari.
Di sisi lain, dalam hal energi untuk menggerakan kendaraan, dunia terbelah dalam dua arus mainstream. Pertama, China sebagai pendorong utama pengadopsian elektrifikasi kendaraan. Untuk membangkitkan tenaga listrik dapat melalui berbagai sumber energi, termasuk yang terbarukan.
Kedua, AS sebagai pendorong utama energi fosil atau bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan. Meski AS ingin menggenjot produksi minyak, sejumlah permodelan, termasuk dari Badan Energi Internasional (IEA), memprediksi permintaan minyak global akan mencapai puncak pada 2030 dan setelah itu akan mulai turun.
Penurunan permintaan minyak akibat BBM yang mahal dan kenaikan elektrifikasi kendaraan di tingkat global dalam lima tahun terakhir. Namun, permintaan minyak tidak akan menghilang lantaran adanya kebutuhan untuk petrokimia.
"Belum tentu keinginan Amerika untuk mendorong agar dunia tetap bergantung pada energi minyak itu bakal mulus ya, karena ya orang (negara-negara lain) punya opsi teknologi lain dan sejarah menunjukkan disrupsi itu bisa terjadi. Ya ini maunya rezim Trump, kan," tutur Fabby.
AS membutuhkan minyak mentah dari Venezuela untuk refinery atau kiang-kilang di Teluk Meksiko. AS termasuk produsen minyak terbesar, dengan produksi sebesar 12-13 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Jadi, dapat dibaca mengapa saat Trump menjadi Presiden AS berupaya memperlampat penetrasi kendaraan listrik.
Kata dia, cadangan minyak AS kemungkinan akan berkurang secara signifikan dalam 5-10 tahun ke depan. Jika permintaan minyak AS bisa tetap tinggi seperti sekarang, maka Trump membutuhkan pasokan cadangan baru, yang salah satunya Venezuela.
AS kemungkinan akan terus mencari cadangan minyak baru ke negara-negara lain karena sudah terlanjur membangun infrastruktur untuk mengelola energi fosil yang sangat mahal. Apalagi, untuk mempertahankan suplai minyak membutuhkan investasi berskala sangat besar.
Baca juga: Demo di Kedubes AS, Buruh Desak Pemerintah Tegas Respons Penangkapan Presiden Venezuela
"Yang harus diingat namanya minyak lama-lama juga akan habis kalau dipakai. Atau, kalaupun ada sumber dayanya belum tentu ekonomis kalau diproduksi. Banyak sekali faktor yang tidak selalu sejalan dengan keinginan dari Presiden Trump. Nanti ke depannya itu mereka kemungkinan besar akan eksplorasi cadangan minyak negara lain," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya