Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hampir Sebagian Pantai Dunia Terancam Hilang akibat Perubahan Iklim

Kompas.com, 8 Januari 2026, 14:30 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hampir sebagian pantai di seluruh dunia disebut akan menghilang pada akhir abad ini, menurut ilmuwan dari University of the Republic (UdelaR), Uruguay.

Peneliti Kelautan UdelaR, Omar Defeo menjelaskan, pantai-pantai mengalami semacam tekanan yang disebabkan kenaikan permukaan air laut karena perubahan iklim, ditambah melonjaknya pembangunan di kawasan pesisir.

Baca juga: 

Akibatnya, beragam spesies yang hidup di ekosistem pasir terganggu. Hal ini mengurangi peluang pariwisata dan perikanan, hingga meningkatkan risiko di kota-kota pesisir seiring bergeraknya air laut ke daratan.

"Hampir separuh pantai akan menghilang pada akhir abad ini. Kami di Uruguay, Brasil, dan Argentina berbagi sumber daya ini. Oleh karena itu, kami harus bekerja sama dengan para ilmuwan Brasil untuk mengelola dan melestarikan ekosistem pesisir," kata Defeo, dilansir dari SciTechDaily, Kamis (8/1/2026).

Pantai-pantai di dunia akan hilang akibat perubahan iklim

Ekosistem pasir dan kota-kota pesisir bisa terganggu

Hampir sebagian pantai di dunia bisa menghilang pada akhir abad ini akibat kenaikan permukaan laut dan pembangunan pesisir.PEXELS/ jason hu Hampir sebagian pantai di dunia bisa menghilang pada akhir abad ini akibat kenaikan permukaan laut dan pembangunan pesisir.

Defeo menjelaskan, pesisir terdiri dari tiga area yang saling terhubung. Pertama, gumuk pasir yang terletak di atas garis pasang tertinggi, lokasi angin menumpuk pasir menjadi punggungan atau gunung pasir.

Kedua, pantai yang merupakan hamparan pasir terbuka saat air surut dan kembali tertutup saat pasang.

Ketiga, zona ombak yakni bagian terendam yang membentang dari titik terendah pasang surut hingga tempat gelombang mulai pecah.

“Angin membawa pasir dari area kering ke zona ombak, dan ketika ombak bergerak maju sedimen dibawa kembali ke pantai. Pergerakan dua arah ini menghasilkan pertukaran konstan di mana satu zona memberi pasokan pada zona lainnya," tutur dia.

Ketika badai datang, gumuk pasir berfungsi sebagai penyangga. Namun, urbanisasi berpotensi menghilangkan gumuk tersebut sehingga dapat menghancurkan bangunan di tepi pantai.

Baca juga:

Efek pembangunan dan manusia pada keberlangsungan pantai

Hampir sebagian pantai di dunia bisa menghilang pada akhir abad ini akibat kenaikan permukaan laut dan pembangunan pesisir.DOK.portal.pangandarankab.go.id Hampir sebagian pantai di dunia bisa menghilang pada akhir abad ini akibat kenaikan permukaan laut dan pembangunan pesisir.

Berdasarkan studi bersama ilmuwan Brasil, Defeo menemukan bahwa gangguan pada salah satu dari tiga zona pesisir karena pembangunan perkotaan berdampak terhadap semua sistem.

Riset yang dipimpin oleh Brasil Guilerme Corte ini meneliti keanekaragaman hayati di 90 lokasi di 30 pantai di pesisir utara São Paulo, Brasil.

Temuan yang dipublikasikan jurnal Marine Pollution Bulletin ini menunjukkan, volume pengunjung merupakan faktor urbanisasi terkuat yang memengaruhi ekosistem pantai.

Peneliti mencatat, jumlah pengunjung merupakan faktor urbanisasi terkuat yang berpengaruh terhadap ekosistem pantai.

Kata Defeo, jumlah wisatawan yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan keanekaragaman spesies dan biomassa. Penurunan paling tajam terjadi di zona terendam di bawah air.

Konstruksi yang dubangun langsung di atas pasir hingga penggunaan alat pembersih mekanis juga terbukti menurunkan biomassa dan spesies.

Baca juga:

Hampir sebagian pantai di dunia bisa menghilang pada akhir abad ini akibat kenaikan permukaan laut dan pembangunan pesisir.Dok.Shutterstock/trabantos Hampir sebagian pantai di dunia bisa menghilang pada akhir abad ini akibat kenaikan permukaan laut dan pembangunan pesisir.

Para peneliti memaparkan, pola tersebut didorong pertumbuhan organisme oportunistik, termasuk polikhaeta, yang berkembang karena tambahan material organik yang masuk melalui aktivitas manusia. 

Kendati demikian, pertambahan jumlah penduduk cenderung meningkat di dekat pusat perkotaan.

“Yang terpenting, studi ini menunjukkan bahwa dampak manusia tidak terbatas pada lokasi terjadinya. Tekanan seperti pembangunan dan tingginya jumlah pengunjung di bagian atas pantai berdampak negatif terhadap keanekaragaman hayati di area bawah dan terendam,” jelas Defeo.

Sementara itu, Defeo mengatakan seperlima dari 315 pantai yang dianalisis mengalami erosi yang intens dan ekstrem.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Marine Science, peneliti menyebut ada berbagai faktor yang menyebabkan erosi, antara lain kenaikan permukaan laut, pola angin, dan gelombang.

“Kami mengamati bahwa aktivitas manusia memainkan peran yang signifikan, terutama pada pantai reflektif (yang memiliki lereng curam sehingga gelombang melepaskan energinya secara tiba-tiba di pantai) dan pantai intermediat (yang memiliki karakteristik gabungan antara pantai reflektif dan pantai yang tenang atau disipatif)," beber Defeo.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau