Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Picu Kematian Pohon Massal di Hutan Australia

Kompas.com, 7 Januari 2026, 18:35 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Krisis iklim membuat pohon-pohon di hutan Australia mati lebih cepat dari sebelumnya. Temuan ini terungkap dalam riset terbaru yang menganalisis data puluhan tahun kondisi hutan di seluruh Australia.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat kematian pohon meningkat secara konsisten. Fenomena ini terjadi hampir di semua tipe hutan. Penyebab utamanya adalah kenaikan suhu global yang terus berlangsung.

Baca juga:

"Yang kami temukan adalah bahwa tingkat kematian (pohon) telah meningkat secara konsisten seiring waktu, di semua jenis hutan yang berbeda," kata profesor di Hawkesbury Institute for the Environment, Western Sydney University, Belinda Medlyn, dilansir dari AFP, Rabu (7/1/2026).

"Dan peningkatan ini sangat mungkin disebabkan oleh peningkatan suhu," tambah Medlyn. 

Krisis iklim bikin pohon-pohon di hutan Australia mati

Perubahan suhu memberi tekanan besar bagi ekosistem hutan

Krisis iklim membuat hutan Australia kehilangan pohon lebih cepat. Studi terbaru mengungkap dampak serius pemanasan global.Pexels/Tom Fisk Krisis iklim membuat hutan Australia kehilangan pohon lebih cepat. Studi terbaru mengungkap dampak serius pemanasan global.

Diterbitkan di jurnal Nature Plants, studi ini menggunakan data inventaris hutan dari sekitar 2.700 plot di seluruh Australia. Lokasinya cukup beragam, mulai dari hutan lembap yang sejuk hingga sabana tropis yang kering.

Para peneliti sengaja mengecualikan area yang terdampak penebangan, pembukaan lahan, dan kebakaran. Tujuannya untuk melihat kematian pohon alami atau background tree mortality.

Menurut Medlyn, kenaikan suhu menjadi faktor utama. Suhu dunia telah menghangat hampir 1,2 derajat celsius sejak era pra-industri.

Sebagian besar pemanasan itu terjadi dalam 50 tahun terakhir. Perubahan suhu ini memberi tekanan besar pada ekosistem hutan.

Baca juga:

Dalam kondisi normal, kematian pohon bisa dipengaruhi banyak faktor. Gangguan alam bisa berperan, serta kepadatan pohon juga bisa meningkatkan persaingan air dan nutrisi.

Kendati demikian, riset ini mengoreksi faktor-faktor tersebut. Peneliti menghitung stand basal area, ukuran luas penampang batang pohon dalam suatu area. Hasilnya tetap sama. Tren kematian pohon terus naik meski sudah dikoreksi.

"Tren (kematian) sepanjang waktu tetap konsisten bahkan setelah kami memperhitungkan basal area," ucap Medlyn yang juga memimpin penelitian tersebut.

Skala peningkatan berbeda di tiap bioma. Kenaikan paling tajam terjadi di sabana tropis.

Di wilayah tersebut, rata-rata kematian pohon naik 3,2 persen per tahun. Pada tahun 1996, jumlah pohon mati sekitar 15 per 1.000 pohon.

Sementara itu, pada tahun 2017, jumlah itu hampir dua kali lipat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau