Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Salju Kian Langka, Krisis Iklim Tekan Pariwisata Musim Dingin Eropa

Kompas.com, 7 Januari 2026, 20:32 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Krisis iklim seakan memaksa resor ski di Eropa untuk mempertimbangkan kembali model bisnis mereka. Sebab, krisis iklim menyebabkan kenaikan suhu sehingga salju pun berkurang. 

Adapun sektor pariwisata musim dingin Eropa menghasilkan pendapatan sekitar 180 miliar euro (sekitar Rp 3,5 triliun) pada tahun 2022, dengan berpusat di Pegunungan Alpen.

Baca juga:

Jerman menjadi negara Eropa dengan resor ski terbanyak yakni 498 unit. Kemudian disusul Italia sebanyak 349 unit, Perancis 317 unit, Austria 253 unit, Swedia 228 unit, Norwegia 213 unit, Swiss 181 unit, Finlandia 76 unit, Slovenia 44 unit, serta Spanyol 32 unit.

Resor ski di Eropa kekurangan salju akibat krisis iklim

Salju buatan bukan solusi

Krisis iklim membuat salju di Eropa kian langka. Lebih dari separuh resor ski berisiko kekurangan salju dan salju buatan dinilai bukan solusi jangka Shutterstock Krisis iklim membuat salju di Eropa kian langka. Lebih dari separuh resor ski berisiko kekurangan salju dan salju buatan dinilai bukan solusi jangka

Berdasarkan studi tahun 2023, dari total 2.234 resor ski di Eropa, sebesar 53 persen di antaranya akan berisiko sangat tinggi mengalami kekurangan salju. Hal itu di bawah skenario pemanasan iklim dua derajat celsius dibandingkan dengan tingkat pra-industri.

Jika suhu rata-rata global meningkat sebesar empat derajat celsius, hampir semua resor di Eropa atau 98 persen tidak akan dapat mengandalkan jumlah salju yang cukup.

Banyak resor ski mengatasinya dengan salju buatan, tapi salju buatan menjadi solusi berisiko yang mahal. Salju buatan hanya sebagai pendukung dan tidak dapat menggantikan yang alami.

Di sisi lain, krisis iklim juga mengancam sumber daya air dan ketersediaannya di sekitar resor ski.

"Faktanya, sering kali perlu membuat danau buatan agar air yang dibutuhkan tersedia, dan pekerjaan ini menimbulkan beban biaya yang tidak sedikit," ujar peneliti di Inrae (Institut Nasional Pertanian, Pangan, dan Lingkungan Prancis), François Hugues, dilansir dari Euronews, Rabu (7/1/2026).

Meriam dan tombak dalam memproduksi salju buatan meningkatkan konsumsi listrik dan emisi gas rumah kaca (GRK). Hal tersebut berkontribusi terhadap krisis iklim.

Baca juga:

Ski disebut jadi olahraga orang kaya

Krisis iklim membuat salju di Eropa kian langka. Lebih dari separuh resor ski berisiko kekurangan salju dan salju buatan dinilai bukan solusi jangka Dok. Freepik/wirestock Krisis iklim membuat salju di Eropa kian langka. Lebih dari separuh resor ski berisiko kekurangan salju dan salju buatan dinilai bukan solusi jangka

Biaya tiket untuk ski di Eropa naik sebesar 34,8 persen dalam 10 tahun terakhir. Kenaikan biaya tiket tertinggi di Swiss, Austria, dan Italia, yang dinilai menyebabkan banyak resor besar saat ini sudah tidak terjangkau bagi mayoritas wisatawan.

"Ski akan menjadi olahraga bagi orang kaya," ujar dosen di Universitas Lausanne, Christophe Clivaz, dilansir dari Volori.it.

Ke depannya, biaya tiket diprediksi akan terus meningkat, mengingat pengeluaran pemeliharaan lereng juga semakin mahal. 

Hal itu belum termasuk kebutuhan membeli atau menyewa perlengkapan bermain ski, seperti sepatu bot, jaket, celana, sarung tangan, dan kacamata.

"Bahkan saat ini, di negara seperti Swiss, sebagian besar penduduk tidak mampu bermain ski, terutama keluarga besar," tutur Clivaz.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau