KOMPAS.com - Beberapa delta sungai disebut tenggelam lebih cepat dibanding kenaikan permukaan laut global sehingga membuat jutaan orang berisiko mengalami banjir, menurut studi yang terbit di Nature.
Padahal area yang terbentuk di muara sungai ini berperan penting secara ekonomi dan lingkungan.
Baca juga:
"Di banyak tempat, penurunan tanah merupakan faktor utama yang lebih besar dalam kenaikan permukaan laut relatif daripada lautan itu sendiri," kata Manoochehr Shirzaei dari Virginia Tech di Virginia, Amerika Serikat, dilansir dari NewScientist, Kamis (15/1/2026).
Hingga setengah miliar manusia tinggal di delta sungai, termasuk beberapa populasi termiskin di bumi. Sebanyak 10 kota besar dengan populasi lebih dari 10 juta orang juga terletak di delta sungai.
Ilustrasi Sungai Nil, sungat terbesar di dunia. Studi mengungkap delta sungai di dunia tenggelam lebih cepat dari kenaikan permukaan laut global akibat penurunan permukaan tanah.Peneliti menemukan bahwa penurunan permukaan tanah menjadi pendorong utama yang merusak delta.
Tidak hanya itu, menurut studi tersebut, pengambilan air tanah menjadi penyebab terbesar penurunan permukaan tanah di delta secara global, dengan perluasan perkotaan dan penurunan muatan sedimen sungai berkontribusi pada tren penurunan secara keseluruhan.
Temuan tersebut disimpulkan setelah Shirzaei dan rekan-rekannya mencoba menentukan laju penurunan permukaan tanah di 40 delta sungai di seluruh dunia, termasuk Mekong, Mississippi, Amazon, Zambezi, Yangtze, dan Nil.
Baca juga:
Menurut Shirzaei, penurunan permukaan tanah menyebabkan dampak ganda berupa banjir. Sebab, pada saat yang sama delta-delta tersebut tenggelam, permukaan laut global naik sekitar empat milimeter per tahun.
Para peneliti menggunakan data dari tahun 2014 hingga 2023 yang diperoleh dari radar satelit Sentinel 1 milik Badan Antariksa Eropa, yang dapat mengukur perubahan jarak antara satelit dan tanah dengan akurasi hingga 0,5 milimeter.
Di semua 40 delta, lebih dari sepertiga dari setiap area mengalami penurunan. Sementara itu, di 38 dari 40 delta, lebih dari setengah area mengalami penurunan.
"Rata-rata penurunan permukaan tanah melebihi kenaikan permukaan laut di 18 dari 40 delta, dan dominasinya bahkan lebih kuat di daerah dataran rendah, kurang dari satu meter di atas permukaan laut," ucap Shirzaei.
Delta Chao Phraya di Thailand, misalnya, mengalami kondisi terburuk di antara 40 delta lainnya dalam hal laju penurunan permukaan tanah dan luas wilayah yang terdampak.
Rata-rata laju penurunan permukaan tanahnya mencapai delapan milimeter per tahun, dua kali lipat kenaikan permukaan laut rata-rata global saat ini.
Sementara itu, 94 persen wilayah deltanya mengalami penurunan lebih cepat dari lima milimeter per tahun.
Alexandria di Mesir, Jakarta, serta Surabaya juga menghadapi penurunan permukaan tanah yang cepat.
Ilustrasi Sungai Mekong di Vietnam. Studi mengungkap delta sungai di dunia tenggelam lebih cepat dari kenaikan permukaan laut global akibat penurunan permukaan tanah.Tim peneliti juga meneliti data mengenai tiga tekanan utama yang disebabkan manusia terkait penurunan permukaan delta sungai
Ketiganya adalah pengambilan air tanah, perubahan sedimen, dan perluasan kota, untuk menentukan mana yang memiliki dampak terbesar pada penurunan tanah di delta.
Bendungan, tanggul, dan rekayasa sungai di hulu dapat mengurangi pengiriman sedimen yang seharusnya membantu delta membangun atau mempertahankan ketinggiannya.
Sementara itu, perluasan kota memberikan beban lebih besar pada permukaan delta dan sering kali meningkatkan permintaan air, yang mana secara tidak langsung dapat meningkatkan pengurasan air tanah.
Baca juga:
Di antara faktor-faktor tersebut, pengambilan air tanah memiliki pengaruh keseluruhan yang paling kuat, tetapi beberapa delta lebih dipengaruhi oleh perubahan sedimen dan perluasan perkotaan, demikian temuan para peneliti.
Pusat data, yang menggunakan sejumlah besar air untuk pendinginan, dapat berkontribusi pada masalah ini.
"Studi kami menunjukkan bahwa pengambilan air tanah adalah pendorong utama penurunan permukaan tanah yang cepat di banyak delta sungai, dan fasilitas yang intensif air seperti pusat data dapat memperburuk risiko ini jika mereka bergantung pada pasokan air lokal," kata Shirzaei.
Di wilayah yang sudah rentan seperti delta Mekong, peningkatan permintaan air dapat mempercepat penurunan permukaan tanah, melemahkan sistem drainase dan perlindungan banjir, serta memperpendek umur infrastruktur penting.
"Tidak seperti kenaikan permukaan laut global, penurunan permukaan tanah yang disebabkan oleh manusia dapat diatasi secara lokal melalui pengaturan air tanah, pengisian ulang akuifer yang terkelola, dan pengelolaan sedimen," tutur Shirzaei.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya