Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena Lubang di Aceh Tengah, Terus Membesar Sejak 2000-an

Kompas.com, 15 Januari 2026, 15:22 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Lubang besar bekas longsor di Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, disebut terus meluas dan semakin mengkhawatirkan. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyebut pergerakan tanah di Kecamatan Ketol, tersebut telah berlangsung sejak awal 2000-an dan terus membesar hingga saat ini.

Baca juga:

"Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Di mana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak 2004," kata Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, dilansir dari Antara, Kamis (15/1/2026).

Sebagai informasi, dilaporkan Kompas.com, Selasa (13/1/2026), video bekas lubang longsor yang terus meluas tersebut beredar di media sosial. Salah satu warganet pun merekamnya menggunakan drone.

Dalam tayangan video itu, digambarkan sebuah lubang yang cukup luas terbentuk akibat tergerus longsor sehingga mendekati badan jalan kabupaten di Aceh Tengah.

Fenomena lubang besar bekas longsor di Aceh Tengah

Sebabkan akses putus dan relokasi warga

Sampai saat ini, belum ditemukan literatur ilmiah yang menjelaskan secara pasti awal mula terbentuknya longsoran tanah berbentuk lubang tersebut.

Namun, dampaknya sudah dirasakan masyarakat sejak lama. Berdasarkan laporan warga, sekitar tahun 2006, longsoran tanah ini pernah memutus akses jalan Blang Mancung–Simpang Balik.

Jalan tersebut merupakan penghubung utama Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.

Ancaman longsoran juga pernah memaksa pemerintah melakukan relokasi warga. Pada 2013 hingga 2014, masyarakat Kampung Bah Serempah dipindahkan ke Kampung Serempah Baru.

"Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut," ucap Andalika.

Baca juga:

Area rawan tanah bergerak, bukan sinkhole semata

Luas longsoran mencapai 27.000 meter persegi

Menurut Andalika, kajian terhadap longsoran tanah ini sudah beberapa kali dilakukan. Data dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menunjukkan bahwa pergerakan tanah meningkat setiap tahun.

Sejak tahun 2011, ESDM Aceh mulai melakukan pengukuran luasan longsoran secara berkala.

Data terbaru pada tahun 2025 menunjukkan, luasan longsoran telah mencapai lebih dari 27.000 meter persegi. Area longsoran juga semakin mendekati jalan lintas di kawasan tersebut. sehingga menambah risiko terhadap keselamatan pengguna jalan dan aktivitas warga.

Pada tahun 2022, tim geologi dan survei geofisika ESDM Aceh melakukan kajian bersama BPBD Aceh Tengah.

Hasil kajian menunjukkan, longsoran terjadi di lapisan tanah permukaan yang jenuh air. Material tanah didominasi material vulkanik yang mudah menghantarkan air.

"Pergerakan tanah di lokasi tersebut sangat aktif dan berkelanjutan. Wilayah longsoran tanah di Kampung Bah tersebut dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah sehingga memerlukan penanganan struktural dan non-struktural segera dan berkelanjutan," jelas Andalika.

Ia menambahkan, longsoran ini bukan termasuk sinkhole klasik yang terjadi secara tiba-tiba. Longsoran di Kampung Bah merupakan pergerakan tanah lambat atau slow moving landslide yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Baca juga:

Struktur tanah, curah hujan, dan beban jadi faktor pemicu

BPBD Aceh Tengah menyebut lubang besar di Kampung Bah, Aceh Tengah, terus membesar sejak 2000-an. Apa penyebabnya?canva.com BPBD Aceh Tengah menyebut lubang besar di Kampung Bah, Aceh Tengah, terus membesar sejak 2000-an. Apa penyebabnya?

Beberapa faktor memicu kondisi ini. Struktur tanah di lokasi sangat tidak stabil karena tersusun dari material letusan gunung api.

Material tersebut dinilai mudah jenuh air dan mudah bergerak, usianya juga tergolong muda dan belum termampatkan secara alami.

Curah hujan tinggi di wilayah pegunungan memperparah kondisi tanah. Hujan membuat tanah semakin mudah tererosi dan memperluas skala longsoran.

Tidak hanya itu, kemiringan lereng yang curam juga menjadi faktor utama. Bidang gelincir longsoran bahkan mendekati sudut 90 derajat.

Retakan lama pada tanah menjadi jalur masuk air baru. Saat hujan turun, air masuk ke celah tanah dan mempercepat pergerakan material.

Selain itu, beban lalu lintas di jalan Blang Mancung–Simpang Balik disebut memberi tekanan terus-menerus pada tanah yang sudah tidak stabil.

Tekanan tambahan juga berasal dari keberadaan tower listrik tegangan ekstra tinggi atau power sutet.

Aktivitas perkebunan warga di sekitar lokasi turut mempercepat penurunan kestabilan tanah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau