Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Konstruksi Bisa Capai 20 Persen, Pola Pembangunan Disarankan Diubah

Kompas.com, 15 Januari 2026, 16:00 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sektor konstruksi disebut menyumbang 10 sampai 20 persen dari total emisi gas rumah kaca, yang mana sebagian besar bersumber dari produksi semen. 

Maka dari itu, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global, pemerintah negara dan/atau kota sebaiknya memahami tingkat emisi konstruksi saat ini. Mereka juga sebaiknya menyiapkan langkah untuk mengurangi emisi sesuai target. 

Baca juga: 

Menurut studi yang terbit di Nature Cities, jika ingin menghindari kenaikan suhu lebih dari dua derajat celsius, salah satunya adalah pengurangan emisi gas rumah kaca dari pembangunan gedung dan infrastruktur lebih dari 90 persen dalam 20 sampai 40 tahun ke depan.

"Kita sudah membangun gedung-gedung yang memenuhi target-target ini; kita hanya perlu membangun lebih banyak yang baik dan mengurangi yang buruk," kata Shoshanna Saxe dari University of Toronto, Kanada, dilansir dari New Scientist, Kamis (15/1/2026).

"Kita sudah memiliki keterampilan dan pengetahuan ini selama puluhan tahun; kita hanya perlu menggunakannya," tambah dia. 

Pembangunan rumah dan emisi gas rumah kaca

Anggaran karbon bisa dilampaui bila membangun rumah tapak

Sektor konstruksi menyumbang hingga 20 persen emisi gas rumah kaca. Studi menilai kota harus mengubah pola pembangunan demi target iklim.FREEPIK/ FREEPIK Sektor konstruksi menyumbang hingga 20 persen emisi gas rumah kaca. Studi menilai kota harus mengubah pola pembangunan demi target iklim.

Dalam studinya, tim peneliti mencari cara untuk mendapatkan perkiraan kasar tentang berapa banyak emisi yang dihasilkan kota-kota ketika membangun gedung dan infrastruktur.

Mereka juga menghitung berapa banyak emisi yang dapat dihasilkan pada masa depan agar tetap berada dalam batas iklim.

Tim peneliti menganalisis 1.033 kota dengan menggabungkan model yang sudah ada untuk memperkirakan dampak lingkungan dari produk selama masa pakainya, dengan data tentang populasi dan pertumbuhan kota, investasi konstruksi, dan lapangan kerja.

Terakhir, tim memperkirakan seberapa cepat setiap kota perlu mengurangi emisi konstruksi agar tetap sesuai dengan sisa anggaran karbon global untuk batas suhu dua derajat celsius.

Anggaran karbon adalah jumlah total emisi karbon maksimal yang masih boleh dilepaskan ke atmosfer oleh seluruh dunia jika ingin kenaikan suhu bumi tidak melewati dua derajat celsius.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa kota-kota akan melampaui anggaran karbon ini jika mereka memenuhi kebutuhan hunian dengan membangun rumah tunggal atau rumah tapak.

Pemerintah di perkotaan disebut perlu fokus pada hunian multi-unit yang lebih efisien. Hunian multi-unit merujuk pada bangunan seperti apartemen atau rusun.

Baca juga:

Sektor konstruksi menyumbang hingga 20 persen emisi gas rumah kaca. Studi menilai kota harus mengubah pola pembangunan demi target iklim.Dok. Kementerian PUPR Sektor konstruksi menyumbang hingga 20 persen emisi gas rumah kaca. Studi menilai kota harus mengubah pola pembangunan demi target iklim.

"Menggunakan bahan yang berbeda seperti kayu atau beton daur ulang juga dapat membantu mengurangi emisi, tapi desain yang lebih baik jauh lebih penting," ujar Saxe.

Namun, menurut dia, jauh lebih efektif untuk mendesain bangunan dengan baik sehingga tidak banyak ruang dan struktur yang terbuang.

Anggota tim Keagan Rankin menambahkan sejumlah kota yang sebenarnya bersedia menerapkan aksi iklim.

Dalam hal konstruksi, mereka punya kendali yang besar karena dapat mengeluarkan izin bangunan dan membuat regulasi konstruksi lokal yang dapat langsung menekan emisi.

Hanya saja, seperti yang peneliti temukan dalam studi kasus di Toronto, Kanada, banyak kota tidak memiliki sumber daya untuk menentukan anggaran karbon mereka sendiri.

"Tanpa mengurangi emisi dari sektor konstruksi, kita tidak dapat memenuhi Perjanjian Paris, bahkan jika kita mengurangi emisi lainnya hingga nol," kata Prajal Pradhan dari University of Groningen di Belanda.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau