Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

RDMP Balikpapan Perkuat Peran Kilang sebagai Penopang Energi Indonesia Timur

Kompas.com, 15 Januari 2026, 15:55 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, yang telah beroperasi sejak akhir abad ke-19 kini memasuki fase transformasi besar melalui proyek Refinery Development Master Plan Balikpapan (RDMP).

Proyek ini diproyeksikan menjadi garda terdepan pasokan energi di kawasan Indonesia Timur sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan proyek RDMP Balikpapan mengadopsi teknologi yang memungkinkan fleksibilitas bahan baku serta menghasilkan produk energi yang lebih berkualitas.

Baca juga: Energi Surya Masuk Mal, 4 Mal NWP Property Gunakan PLTS Atap

Menurut Baron, pengembangan kilang ini juga menyesuaikan dengan tren global yang semakin menekankan aspek keberlanjutan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Ia menilai modernisasi kilang menjadi bagian dari upaya menjaga relevansi aset strategis nasional di tengah perubahan kebutuhan energi.

“Balikpapan adalah warisan sejarah yang terus dimodernisasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. RDMP menjadi bagian dari komitmen Pertamina dalam memperkuat kemandirian energi nasional,” ujar Baron dalam keterangan tertulis, Kamis (15/1/2026).

Pertamina menyatakan proyek RDMP Balikpapan juga sejalan dengan komitmen perusahaan untuk mendukung target Net Zero Emission 2060 serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasinya.

Sejarah Industri Migas di Balikpapan

Sejarah industri migas di Balikpapan bermula pada 10 Februari 1897, saat sumur minyak pertama bernama Mathilda ditemukan oleh J.H. Menten.

Penemuan tersebut kemudian ditetapkan sebagai tonggak sejarah berdirinya Kota Balikpapan. Sejak itu, kawasan ini berkembang menjadi salah satu pusat industri minyak penting di Indonesia.

Sumur Mathilda berada di area yang kini menjadi bagian dari Kilang Balikpapan. Kilang tersebut sempat mengalami kehancuran pada masa Perang Dunia II, namun kembali dibangun dan terus berkembang. Saat ini, kilang tersebut tengah ditingkatkan kapasitas dan teknologinya melalui proyek RDMP Balikpapan.

Melalui proyek RDMP, kapasitas pengolahan Kilang Balikpapan ditingkatkan dari 260.000 barel per hari menjadi sekitar 360.000 barel per hari.

Proyek ini juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar minyak (BBM), LPG, serta produk petrokimia, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.

Baca juga: Sekjen PBB: Investasi Energi Bersih Global tembus 2,2 Triliun Dollar AS

Selain peningkatan kapasitas, RDMP Balikpapan juga dirancang menghasilkan produk dengan standar emisi setara Euro V, yang lebih ramah lingkungan. Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong transisi energi dan pengurangan emisi.

Kilang Balikpapan memiliki peran strategis sebagai penopang distribusi energi di wilayah Indonesia Timur, mulai dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Keandalan kilang ini menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan energi untuk mobilitas dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau