Penulis
KOMPAS.com - Ilmuwan dunia resmi menyimpan potongan es gletser kuno di Antartika. Langkah ini menjadi yang pertama di dunia, dengan tujuan melindungi jejak iklim bumi yang terus hilang akibat pemanasan global.
Para ilmuwan menyegel dua inti es gletser dari Pegunungan Alpen, Eropa. Es tersebut disimpan dalam sebuah tempat khusus berbentuk gua salju di jantung Antartika. Proyek ini disebut sebagai arsip es pertama di dunia.
Baca juga:
"Untuk melindungi apa yang sebaliknya akan hilang secara permanen... adalah upaya bagi kemanusiaan," kata ilmuwan iklim Swiss dan ketua Ice Memory Foundation yang memimpin inisiatif tersebut, Thomas Stocker, dilansir dari AFP, Sabtu (17/1/2026).
Langkah ini dilakukan agar catatan sejarah iklim bumi tidak lenyap ketika gletser di berbagai wilayah dunia terus mencair.
Arsip es ini berada di Concordia Station, stasiun riset Perancis–Italia yang terletak di ketinggian 3.200 meter di Antartika. Lokasi ini memiliki suhu alami minus 52 derajat celsius sehingga memungkinkan penyimpanan es tanpa mesin pendingin.
Es disimpan dalam kondisi alami yang stabil. Hal ini membuat arsip tersebut dapat bertahan hingga ratusan tahun ke depan.
Baca juga:
Arsip es pertama di dunia dibangun di Antartika untuk melindungi sejarah iklim bumi dari gletser yang terus mencair.Inti es gletser menyimpan informasi penting tentang kondisi bumi ribuan tahun lalu. Di dalamnya terdapat debu, partikel vulkanik, dan isotop air yang menjadi petunjuk tentang suhu, curah hujan, dan perubahan iklim masa lampau.
Menurut Stocker, banyak data iklim yang akan hilang selamanya jika gletser mencair. Maka dari itu, es harus diamankan sekarang sebelum terlambat.
Proyek ini membutuhkan waktu hampir 10 tahun. Tantangannya bukan hanya teknis dan logistik, tapi juga persoalan diplomasi internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Adapun tempat penyimpanan es ini bukan bangunan biasa. Arsip tersebut berupa gua sepanjang 35 meter, dengan lebar lima meter dan tinggi lima meter.
Gua ini digali sekitar 10 meter di bawah permukaan salju padat. Di kedalaman itu, suhu tetap stabil sepanjang tahun.
Saat peresmian dilakukan, para ilmuwan memotong pita biru. Kotak terakhir berisi inti es dari Mont Blanc dan Grand Combine kemudian dimasukkan ke dalam gua es tersebut.
Arsip es pertama di dunia dibangun di Antartika untuk melindungi sejarah iklim bumi dari gletser yang terus mencair.Inti es terbentuk dari salju yang memadat selama ribuan tahun sehingga setiap lapisannya menyimpan cerita berbeda.
Lapisan es bening menandakan periode hangat. Es tersebut mencair lalu membeku kembali.
Sementara itu, lapisan dengan kepadatan rendah menunjukkan timbunan salju. Data ini membantu memperkirakan curah hujan masa lalu.
Sampel yang rapuh dan retak menandakan salju jatuh di atas lapisan setengah mencair, lalu membeku kembali.
Beberapa unsur lain memberi petunjuk tambahan. Material vulkanik seperti ion sulfat bisa menjadi penanda waktu, sedangkan isotop air membantu mengungkap suhu masa lalu.
Baca juga:
Proyek ini lahir dari kekhawatiran besar terkait gletser dunia yang mencair semakin cepat.
Ilmuwan memperingatkan bahwa ribuan gletser bisa menghilang dalam beberapa dekade mendatang. Pemanasan global menjadi penyebab utama.
Pada hari yang sama dengan peresmian arsip es, pemantau iklim Amerika Serikat dan Eropa mengonfirmasi bahwa 2025 menjadi tahun terpanas ketiga dalam sejarah pencatatan.
Rekor panas ini memperpanjang tren suhu ekstrem global. Penyebab utamanya adalah pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia.
Lokasi Antartika dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah ini berada di bawah perjanjian internasional global sehingga dinilai tidak ada negara yang memilikinya.
Hal ini bertujuan agar arsip es bebas dari kepentingan politik. Akses terhadap inti es nantinya hanya diberikan berdasarkan pertimbangan ilmiah.
Direktur Ice Memory Foundation, Anne-Catherine Ohlmann, mengatakan bahwa pengelolaan arsip ini sangat sensitif.
"Warisan ini harus tersedia untuk penerima yang tepat dan alasan yang tepat bagi kemanusiaan," ucap Ohlmann.
Ke depannya, arsip ini akan diisi es dari berbagai wilayah dunia, termasuk Andes, Himalaya, dan Tajikistan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya