Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Simpan Es Gletser Kuno di Antartika, Jadi Arsip Es Pertama di Dunia

Kompas.com, 17 Januari 2026, 09:49 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Ilmuwan dunia resmi menyimpan potongan es gletser kuno di Antartika. Langkah ini menjadi yang pertama di dunia, dengan tujuan melindungi jejak iklim bumi yang terus hilang akibat pemanasan global.

Para ilmuwan menyegel dua inti es gletser dari Pegunungan Alpen, Eropa. Es tersebut disimpan dalam sebuah tempat khusus berbentuk gua salju di jantung Antartika. Proyek ini disebut sebagai arsip es pertama di dunia.

Baca juga:

"Untuk melindungi apa yang sebaliknya akan hilang secara permanen... adalah upaya bagi kemanusiaan," kata ilmuwan iklim Swiss dan ketua Ice Memory Foundation yang memimpin inisiatif tersebut, Thomas Stocker, dilansir dari AFP, Sabtu (17/1/2026).

Langkah ini dilakukan agar catatan sejarah iklim bumi tidak lenyap ketika gletser di berbagai wilayah dunia terus mencair.

Arsip es ini berada di Concordia Station, stasiun riset Perancis–Italia yang terletak di ketinggian 3.200 meter di Antartika. Lokasi ini memiliki suhu alami minus 52 derajat celsius sehingga memungkinkan penyimpanan es tanpa mesin pendingin.

Es disimpan dalam kondisi alami yang stabil. Hal ini membuat arsip tersebut dapat bertahan hingga ratusan tahun ke depan.

Baca juga:

Ilmuwan simpan gletser kuno di Antartika untuk masa depan

Disimpan di dalam gua yang bisa bertahan hingga ratusan tahun

Arsip es pertama di dunia dibangun di Antartika untuk melindungi sejarah iklim bumi dari gletser yang terus mencair.Dok. Freepik/wirestock Arsip es pertama di dunia dibangun di Antartika untuk melindungi sejarah iklim bumi dari gletser yang terus mencair.

Inti es gletser menyimpan informasi penting tentang kondisi bumi ribuan tahun lalu. Di dalamnya terdapat debu, partikel vulkanik, dan isotop air yang menjadi petunjuk tentang suhu, curah hujan, dan perubahan iklim masa lampau.

Menurut Stocker, banyak data iklim yang akan hilang selamanya jika gletser mencair. Maka dari itu, es harus diamankan sekarang sebelum terlambat.

Proyek ini membutuhkan waktu hampir 10 tahun. Tantangannya bukan hanya teknis dan logistik, tapi juga persoalan diplomasi internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Adapun tempat penyimpanan es ini bukan bangunan biasa. Arsip tersebut berupa gua sepanjang 35 meter, dengan lebar lima meter dan tinggi lima meter.

Gua ini digali sekitar 10 meter di bawah permukaan salju padat. Di kedalaman itu, suhu tetap stabil sepanjang tahun.

Saat peresmian dilakukan, para ilmuwan memotong pita biru. Kotak terakhir berisi inti es dari Mont Blanc dan Grand Combine kemudian dimasukkan ke dalam gua es tersebut.

Informasi bumi di balik inti es

Arsip es pertama di dunia dibangun di Antartika untuk melindungi sejarah iklim bumi dari gletser yang terus mencair.SHUTTERSTOCK/Katiekk Arsip es pertama di dunia dibangun di Antartika untuk melindungi sejarah iklim bumi dari gletser yang terus mencair.

Inti es terbentuk dari salju yang memadat selama ribuan tahun sehingga setiap lapisannya menyimpan cerita berbeda.

Lapisan es bening menandakan periode hangat. Es tersebut mencair lalu membeku kembali.

Sementara itu, lapisan dengan kepadatan rendah menunjukkan timbunan salju. Data ini membantu memperkirakan curah hujan masa lalu.

Sampel yang rapuh dan retak menandakan salju jatuh di atas lapisan setengah mencair, lalu membeku kembali.

Beberapa unsur lain memberi petunjuk tambahan. Material vulkanik seperti ion sulfat bisa menjadi penanda waktu, sedangkan isotop air membantu mengungkap suhu masa lalu.

Baca juga:

Gletser menghilang dengan cepat

Proyek ini lahir dari kekhawatiran besar terkait gletser dunia yang mencair semakin cepat.

Ilmuwan memperingatkan bahwa ribuan gletser bisa menghilang dalam beberapa dekade mendatang. Pemanasan global menjadi penyebab utama.

Pada hari yang sama dengan peresmian arsip es, pemantau iklim Amerika Serikat dan Eropa mengonfirmasi bahwa 2025 menjadi tahun terpanas ketiga dalam sejarah pencatatan.

Rekor panas ini memperpanjang tren suhu ekstrem global. Penyebab utamanya adalah pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia.

Lokasi Antartika dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah ini berada di bawah perjanjian internasional global sehingga dinilai tidak ada negara yang memilikinya.

Hal ini bertujuan agar arsip es bebas dari kepentingan politik. Akses terhadap inti es nantinya hanya diberikan berdasarkan pertimbangan ilmiah.

Direktur Ice Memory Foundation, Anne-Catherine Ohlmann, mengatakan bahwa pengelolaan arsip ini sangat sensitif.

"Warisan ini harus tersedia untuk penerima yang tepat dan alasan yang tepat bagi kemanusiaan," ucap Ohlmann.

Ke depannya, arsip ini akan diisi es dari berbagai wilayah dunia, termasuk Andes, Himalaya, dan Tajikistan. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau