KOMPAS.com - Kenaikan suhu global disebut terjadi lebih cepat daripada prediksi sebelumnya dan bisa berdampak terhadap perekonomian, menurut laporan dari Institute and Faculty of Actuaries (IFoA) dan University of Exeter, Inggris.
Bila tak ada tindakan untuk mencegahnya, kemungkinan suhu bumi bisa mencapai dua derajat di atas level pra-industri sebelum tahun 2050. Akibatnya, bencana bisa merugikan masyarakat dan ekonomi di dunia, termasuk gangguan pada sistem air, pangan, migrasi, dan kesehatan.
Baca juga:
"Jika kita tidak segera mengubah arah, kerusakan akibat perubahan iklim akan mulai memengaruhi pertumbuhan dan kesejahteraan masa depan," ucap penulis utama dan anggota dewan keberlanjutan IFoA, Sandy Trust, dikutip dari Euronews, Jumat (16/1/2026).
Pembuat kebijakan dan lembaga keuangan dinilai masih meremehkan risiko iklim.
Padahal krisis iklim bisa merusak sistem keuangan global, inflasi, serta mundurnya perusahaan asuransi dari wilayah berisiko tinggi jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang.
"Kesamaan antara kegagalan manajemen risiko dalam Krisis Keuangan Global dan ketidakberdayaan dalam menangani risiko sistemik besar yang ditimbulkan oleh perubahan iklim sangat jelas. Keduanya ditandai dengan ketergantungan berlebihan pada hasil model risiko yang dianggap aman dan kegagalan dalam memahami risiko sistemik," jelas Trust.
Baca juga:
Laporan menyebut kenaikan suhu bumi bisa tembus dua derajat celsius sebelum 2050. Dampaknya mengancam ekonomi global hingga sistem keuangan.Perkiraan sebelumnya menyatakan bahwa kerugian akibat iklim hanya sebesar 2,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global untuk kenaikan suhu sebesar tiga derajat celsius, serta kurang dari delapan persen dari PDB global untuk kenaikan sebesar enam derajat celsius.
Namun, analisis terbaru dari Climate Financial Risk Forum (Forum Risiko Finansial Iklim) Inggris menunjukkan, perusahaan perlu mempertimbangkan skenario guncangan iklim dan alam yang parah yang menyebabkan penyusutan PDB global sebesar 15 hingga 20 persen, dalam periode lima tahun.
Para peneliti menambahkan, lonjakan besar tersebut terjadi karena banyak prakiraan ekonomi tidak memasukkan risiko-risiko yang saat ini diantisipasi oleh para ilmuwan, seperti kenaikan permukaan laut, pengasaman samudera, dan degradasi alam.
Di Eropa, para ahli memperingatkan bahwa cuaca ekstrem musim panas tahun 2025 memicu kerugian ekonomi jangka pendek setidaknya sebesar 43 miliar Euro, dengan total biaya yang diperkirakan akan mencapai 126 miliar Euro pada tahun 2029.
Kerugian langsung tersebut berjumlah 0,26 persen dari output ekonomi Uni Eropa pada tahun 2024.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya