Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahan Bakar Bersih Terancam Tertinggal Tanpa Lonjakan Investasi Global

Kompas.com, 16 Januari 2026, 18:42 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Investasi global untuk bahan bakar bersih perlu ditingkatkan lebih dari empat kali lipat. Tepatnya dari sekitar 25 miliar dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 423,02 triliun) per tahun saat ini, menjadi lebih dari 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.692,1 triliun) per tahun pada 2030. 

Hal tersebut harus diperhatikan bila negara-negara ingin mencapai tujuan transisi iklim dan energi mereka.

Baca juga: 

"Bahan bakar bersih merupakan jalur penting untuk memajukan keberlanjutan, sekaligus terus memasok energi yang dibutuhkan oleh sistem ekonomi global," ujar Head of the Centre for Energy and Materials World Economic Forum (Forum Ekonomi Dunia atau WEF), Roberto Bocca, dilansir dari Down to Earth, Jumat (16/1/2026).

Investasi untuk bahan bakar bersih harus ditingkatkan

Bahan bakar bersih berisiko tetap terpinggirkan

Laporan terbaru Forum Ekonomi Dunia (WEF) memperingatkan, bahan bakar bersih berisiko tetap terpinggirkan tanpa adanya peningkatan signifikan terkait pendanaan, dukungan kebijakan, serta terciptanya permintaan.

Bahan bakar bersih, termasuk biofuel, biogas, turunan hidrogen, bahan bakar sistensi dan bahan bakar fosil rendah karbon, semakin dianggap penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

Hal tersebut khususnya sektor perekonomian yang sulit untuk mengurangi emisi GRK-nya, seperti industri berat, perkapalan, dan penerbangan.

Saat ini, baik bahan bakar cair maupun gas telah mencakup 56 persen dari konsumsi energi global. 

Artinya, bahan bakar bersih dapat memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada ketimbang membangun sistem yang sepenuhnya baru.

Laporan WEF tersebut menunjukan, industri energi bersih bisa menggejot perekonomian sekaligus memberi manfaat lingkungan yang berkelanjutan.

Baca juga:

Adanya kesenjangan investasi

Proyek bahan bakar bersih terus terhenti

WEF menilai investasi bahan bakar bersih global perlu melonjak agar target transisi iklim dan energi bisa tercapai.Photo by freepik WEF menilai investasi bahan bakar bersih global perlu melonjak agar target transisi iklim dan energi bisa tercapai.

Kendati ambisi politik menguat, bahan bakar ini hanya berkontribusi satu persen dari total investasi energi bersih global.

Namun, momentum bahan bakar bersih mulai terbentuk. Apalagi, lebih dari 25 negara pada COP30 menandatangani komitmen untuk melipatgandakan produksi dan penggunaan bahan bakar bersih hingga empat kali lipat pada tahun 2035.

Menurut laporan WEF, investasi bahan bakar bersih berkontribusi terhadap perekonomian secara signifikan dengan menciptakan dua hingga tiga kali lebih banyak lapangan kerja daripada sektor bahan bakar konvensional.

Kemudian, berkontribus dengan meningkatkan ketahanan energi melalui mendiversifikasi rantai pasokan nasional.

Namun, banyak proyek bahan bakar bersih terus terhenti karena tingginya biaya awal, ketidakpastian permintaan, rantai nilai terfragmentasi, dan kerangka kebijakan yang tidak merata di berbagai wilayah.

"Dalam beberapa tahun terakhir, pertanyaan di kalangan pemimpin bisnis telah bergeser dari, ‘Apakah kita harus berinvestasi' menjadi, 'Bagaimana dan kapan'. Mereka yang menciptakan nilai kini fokus pada pelanggan, fleksibilitas, kemitraan, dan secara aktif mengurangi risiko investasi," jelas Partner di praktik Bain & Company’s Energy and Natural Resources, Cate Hight.

Baca juga:

Laporan WEF menekankan pentingnya koordinasi pemerintah, lembaga keuangan, dan industri untuk menciptakan serangkaian proyek yang layak secara komersial dan mampu menarik investasi jangka panjang.

Laporan tersebut didasarkan pada pemodelan teknis dan ekonomi, konsultasi ahli, serta masukan dari lebih dari 30 organisasi yang terlibat dalam inisiatif Future of Clean Fuels (Masa Depan Bahan Bakar Bersih) dari WEF.

Jika didukung oleh kebijakan dan pendanaan yang kredibel, investasi bahan bakar bersih dapat terwujud dalam dekade ini. Hal itu mengingat pemerintah negara-negara saat ini menyeimbangkan aksi iklim dengan pertumbuhan ekonomi dan ketahanan energi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
 Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
Pemerintah
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pemerintah
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
BUMN
Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi
Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi
Pemerintah
Samator Lanjutkan Revitalisasi Sungai Jagir, Targetkan Penataan Sepanjang 775 Meter
Samator Lanjutkan Revitalisasi Sungai Jagir, Targetkan Penataan Sepanjang 775 Meter
Swasta
PalmCo Dorong Pemerintah Perjelas Batas Kawasan Hutan untuk Beri Kepastian Hukum
PalmCo Dorong Pemerintah Perjelas Batas Kawasan Hutan untuk Beri Kepastian Hukum
BUMN
Emisi Melejit, Bakteri Pemakan Metana Kewalahan
Emisi Melejit, Bakteri Pemakan Metana Kewalahan
LSM/Figur
UE Tindak Tegas 27 Negara Anggota Soal Aturan Bangunan Ramah Lingkungan
UE Tindak Tegas 27 Negara Anggota Soal Aturan Bangunan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Emisi Perjalanan Penonton Piala Dunia Jauh Lebih Tinggi Dibanding Acaranya
Emisi Perjalanan Penonton Piala Dunia Jauh Lebih Tinggi Dibanding Acaranya
Pemerintah
Studi: Kebakaran Hutan Kanada Bikin Puluhan Spesies Burung di New York Lebih Sulit Ditemukan
Studi: Kebakaran Hutan Kanada Bikin Puluhan Spesies Burung di New York Lebih Sulit Ditemukan
LSM/Figur
ITB Kembangkan Pepton dari Maggot untuk Kurangi Ketergantungan Impor
ITB Kembangkan Pepton dari Maggot untuk Kurangi Ketergantungan Impor
LSM/Figur
Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian
Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian
Pemerintah
El Nino Bukan Vonis Kekeringan
El Nino Bukan Vonis Kekeringan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau