Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisakah Biaya Retur Kurangi Dampak Industri Fast Fashion?

Kompas.com, 22 Januari 2026, 14:44 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Polemik retur di fast fashion

Ketika suatu barang dikembalikan, barang tersebut akan memasuki sistem logistik terbalik yang jauh kurang efisien daripada rantai asli dari produsen ke pemasok.

Pengembalian barang sering kali memerlukan pengambilan oleh kurir secara individual, yang menambah biaya transportasi dan emisi.

Secara sepintas, biaya retur tampaknya menawarkan solusi yang mudah yaitu mencegah pengembalian, mengurangi emisi transportasi, dan meringankan beban sistem pengelolaan limbah.

Kendati demikian, logika ini gagal memperhitungkan perilaku konsumen ketika dihadapkan dengan sanksi finansial.

Pakaian yang dibiarkan di lemari tanpa pernah dipakai sama saja dengan membuang-buang sumber daya.

Hal itu karena semua air, bahan kimia, energi, dan tenaga kerja yang diinvestasikan dalam produksinya tidak menghasilkan nilai apa pun.

Membuang pakaian secara lokal hanya akan memindahkan beban ke sistem pengelolaan sampah pemerintah daerah yang seringkali tidak siap menangani tekstil.

Biaya retur tidak selalu menyelesaikan masalah sampah dan hanya mengurangi pilihan konsumen, bahkan terkadang memaksa mereka untuk memilih alternatif yang lebih buruk. 

Dengan demikian, akar permasalahan lingkungan bukanlah pengembalian barang, melainkan fast fashion itu sendiri.

Alternatif lain

Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.Dok. Freepik Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.

Berikut beberapa langkah yang kemungkinan lebih efektif ketimbang pengenaan biaya untuk pengembalian barang yang tidak akan terlalu berdampak terhadap lingkungan.

Pertama, tanggung jawab produsen yang diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR).

Di Perancis, pengecer diwajibkan untuk membiayai sistem pengumpulan dan penyortiran mereka, menciptakan insentif untuk merancang produk yang lebih tahan lama, serta mengelola akhir masa pakainya dengan benar.

Hal ini menggeser tanggung jawab dari konsumen ke produsen, yang mana memang seharusnya tanggung jawab itu berada.

Kedua, pajak atas bahan berbahaya. Usulan pajak Swedia terhadap pakaian yang mengandung bahan kimia berbahaya menargetkan fase produksi, dengan sebagian besar kerusakan lingkungan terjadi.

Ketiga, investasi dalam infrastruktur daur ulang. Hambatan utama dalam industri tekstil adalah daur ulangnya. Tanpa daur ulang berskala besar, penggunaan kembali menjadi satu-satunya pilihan ekonomi sirkular.

Baca juga: 

Keempat, standar desain. Campuran poliester mempersulit daur ulang. Persyaratan persentase kandungan daur ulang yang lebih tinggi atau pembatasan campuran serat akan mengatasi beberapa akar penyebab limbah.

Kelima, transparansi data pengembalian barang. Berbagai studi menunjukkan bahwa peritel kekurangan data dasar tentang ke mana barang yang dikembalikan berakhir.

Pengungkapan wajib tentang tindakan mereka dengan barang yang dikembalikan akan mengungkap masalah pemusnahan dan meningkatkan akuntabilitas mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau