Ketika suatu barang dikembalikan, barang tersebut akan memasuki sistem logistik terbalik yang jauh kurang efisien daripada rantai asli dari produsen ke pemasok.
Pengembalian barang sering kali memerlukan pengambilan oleh kurir secara individual, yang menambah biaya transportasi dan emisi.
Secara sepintas, biaya retur tampaknya menawarkan solusi yang mudah yaitu mencegah pengembalian, mengurangi emisi transportasi, dan meringankan beban sistem pengelolaan limbah.
Kendati demikian, logika ini gagal memperhitungkan perilaku konsumen ketika dihadapkan dengan sanksi finansial.
Pakaian yang dibiarkan di lemari tanpa pernah dipakai sama saja dengan membuang-buang sumber daya.
Hal itu karena semua air, bahan kimia, energi, dan tenaga kerja yang diinvestasikan dalam produksinya tidak menghasilkan nilai apa pun.
Membuang pakaian secara lokal hanya akan memindahkan beban ke sistem pengelolaan sampah pemerintah daerah yang seringkali tidak siap menangani tekstil.
Biaya retur tidak selalu menyelesaikan masalah sampah dan hanya mengurangi pilihan konsumen, bahkan terkadang memaksa mereka untuk memilih alternatif yang lebih buruk.
Dengan demikian, akar permasalahan lingkungan bukanlah pengembalian barang, melainkan fast fashion itu sendiri.
Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.Berikut beberapa langkah yang kemungkinan lebih efektif ketimbang pengenaan biaya untuk pengembalian barang yang tidak akan terlalu berdampak terhadap lingkungan.
Pertama, tanggung jawab produsen yang diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR).
Di Perancis, pengecer diwajibkan untuk membiayai sistem pengumpulan dan penyortiran mereka, menciptakan insentif untuk merancang produk yang lebih tahan lama, serta mengelola akhir masa pakainya dengan benar.
Hal ini menggeser tanggung jawab dari konsumen ke produsen, yang mana memang seharusnya tanggung jawab itu berada.
Kedua, pajak atas bahan berbahaya. Usulan pajak Swedia terhadap pakaian yang mengandung bahan kimia berbahaya menargetkan fase produksi, dengan sebagian besar kerusakan lingkungan terjadi.
Ketiga, investasi dalam infrastruktur daur ulang. Hambatan utama dalam industri tekstil adalah daur ulangnya. Tanpa daur ulang berskala besar, penggunaan kembali menjadi satu-satunya pilihan ekonomi sirkular.
Baca juga:
Keempat, standar desain. Campuran poliester mempersulit daur ulang. Persyaratan persentase kandungan daur ulang yang lebih tinggi atau pembatasan campuran serat akan mengatasi beberapa akar penyebab limbah.
Kelima, transparansi data pengembalian barang. Berbagai studi menunjukkan bahwa peritel kekurangan data dasar tentang ke mana barang yang dikembalikan berakhir.
Pengungkapan wajib tentang tindakan mereka dengan barang yang dikembalikan akan mengungkap masalah pemusnahan dan meningkatkan akuntabilitas mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya