Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Bencana Meningkat, tapi Angka Kematian Tak Selalu Bertambah?

Kompas.com, 21 Januari 2026, 20:36 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Perubahan iklim memicu bencana alam menjadi semakin ekstrem. Gelombang panas datang lebih sering, banjir meluas, badai menguat, dan kebakaran hutan kian sulit dikendalikan.

Namun, apakah bencana iklim saat ini benar-benar menelan banyak korban jiwa? Jawabannya tidak sesederhana itu. 

Baca juga:

Kenapa bencana meningkat, tapi kematian tidak bertambah?

Laporan iklim tahunan yang dirilis pekan lalu menunjukkan tiga tahun terakhir menjadi periode terpanas sejak era pra-industri. Tren ini belum menunjukkan tanda melambat karena dunia masih bergantung pada bahan bakar fosil.

Para ahli sepakat, suhu global yang terus naik membawa dampak nyata. Misalnya, musim panas menjadi lebih panas, banjir terjadi lebih sering, badai semakin merusak, serta Kekeringan dan kebakaran meluas.

Namun, ketika angka kematian dihitung, hasilnya justru terlihat berbeda, dilansir dari AFP, Rabu (21/1/2026).

Angka kematian akibat bencana mengalami penurunan

Gelombang panas, banjir, dan badai makin sering terjadi. Namun, jumlah korban jiwa menunjukkan pola yang tidak sederhana.Pexels/Guilherme Christmann Gelombang panas, banjir, dan badai makin sering terjadi. Namun, jumlah korban jiwa menunjukkan pola yang tidak sederhana.

Menurut analisis AFP terhadap basis data bencana global EM-DAT menunjukkan, lebih dari 2,3 juta orang meninggal akibat peristiwa cuaca antara tahun 1970 hingga tahun 2025.

Pada periode 2015 sampai 2025, jumlah kematian tercatat 305.156 jiwa. Angka ini lebih rendah dibandingkan dekade sebelumnya yang mencapai 354.428 jiwa.

Penurunan ini bukan berarti bencana menjadi lebih ringan.

“Bukan karena peristiwanya tidak semakin berbahaya tapi karena kita jauh lebih baik dalam menghadapinya,” kata direktur eksekutif Lancet Countdown, Marina Romanello.

Negara-negara sudah memiliki sistem peringatan dini, ditambah infrastruktur yang lebih kuat, aturan pembangunan lebih ketat, dan evakuasi yang dilakukan lebih cepat. Kendati demikian, hal tersebut tidaklah merata. 

Baca juga:

Tergantung jenis bahaya dan lokasi

Gelombang panas, banjir, dan badai makin sering terjadi. Namun, jumlah korban jiwa menunjukkan pola yang tidak sederhana.Dok. Freepik/lifeforstock Gelombang panas, banjir, dan badai makin sering terjadi. Namun, jumlah korban jiwa menunjukkan pola yang tidak sederhana.

Angka kematian akibat bencana sangat bergantung pada jenis bahaya dan lokasi. Negara berpenghasilan rendah menghadapi risiko jauh lebih besar karena akses terhadap informasi, layanan kesehatan, dan perlindungan masih terbatas.

Sementara itu, satu jenis bencana justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan yaitu gelombang panas atau heatwaves. 

Panas ekstrem sering disebut sebagai silent killer (pembunuh senyap) karena dampaknya tak langsung terlihat. 

Umumnya banyak korban meninggal berhari-hari atau berminggu-minggu setelah suhu ekstrem terjadi. Kelompok lansia (lanjut usia) dan orang sakit menjadi yang paling rentan.

Menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, setengah populasi dunia tahun lalu mengalami lebih banyak hari dengan tekanan panas tinggi. Suhu terasa mencapai 32 derajat celsius atau bahkan lebih.

Peneliti Imperial College London, Theodore Keeping, mengatakan, cukup jelas bahwa panas ekstrem saat ini semakin mematikan.

Ilmuwan bahkan bisa menghitung tambahan kematian yang terjadi akibat peningkatan suhu yang dipicu perubahan iklim.

Data EM-DAT mencatat hampir 61.800 kematian akibat gelombang panas pada tahun 2022. Angka turun menjadi sekitar 48.000 pada tahun 2023, lalu naik lagi menjadi 66.825 pada tahun 2024.

Namun, angka tersebut diyakini masih jauh dari kenyataan. Peneliti senior CRED, Damien Delforge mengatakan, data kematian akibat gelombang panas masih terlambat masuk.

Bahkan, bisa ada jeda hingga satu tahun sebelum dicatat resmi dan banyak kasus tidak pernah dilaporkan.

Lancet Countdown memperkirakan rata-rata 546.000 orang meninggal akibat panas setiap tahun pada periode 2012–2021. Angka ini naik 63 persen dibandingkan dekade 1990-an.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau