Penulis
KOMPAS.com - Perubahan iklim memicu bencana alam menjadi semakin ekstrem. Gelombang panas datang lebih sering, banjir meluas, badai menguat, dan kebakaran hutan kian sulit dikendalikan.
Namun, apakah bencana iklim saat ini benar-benar menelan banyak korban jiwa? Jawabannya tidak sesederhana itu.
Baca juga:
Laporan iklim tahunan yang dirilis pekan lalu menunjukkan tiga tahun terakhir menjadi periode terpanas sejak era pra-industri. Tren ini belum menunjukkan tanda melambat karena dunia masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Para ahli sepakat, suhu global yang terus naik membawa dampak nyata. Misalnya, musim panas menjadi lebih panas, banjir terjadi lebih sering, badai semakin merusak, serta Kekeringan dan kebakaran meluas.
Namun, ketika angka kematian dihitung, hasilnya justru terlihat berbeda, dilansir dari AFP, Rabu (21/1/2026).
Gelombang panas, banjir, dan badai makin sering terjadi. Namun, jumlah korban jiwa menunjukkan pola yang tidak sederhana.Menurut analisis AFP terhadap basis data bencana global EM-DAT menunjukkan, lebih dari 2,3 juta orang meninggal akibat peristiwa cuaca antara tahun 1970 hingga tahun 2025.
Pada periode 2015 sampai 2025, jumlah kematian tercatat 305.156 jiwa. Angka ini lebih rendah dibandingkan dekade sebelumnya yang mencapai 354.428 jiwa.
Penurunan ini bukan berarti bencana menjadi lebih ringan.
“Bukan karena peristiwanya tidak semakin berbahaya tapi karena kita jauh lebih baik dalam menghadapinya,” kata direktur eksekutif Lancet Countdown, Marina Romanello.
Negara-negara sudah memiliki sistem peringatan dini, ditambah infrastruktur yang lebih kuat, aturan pembangunan lebih ketat, dan evakuasi yang dilakukan lebih cepat. Kendati demikian, hal tersebut tidaklah merata.
Baca juga:
Gelombang panas, banjir, dan badai makin sering terjadi. Namun, jumlah korban jiwa menunjukkan pola yang tidak sederhana.Angka kematian akibat bencana sangat bergantung pada jenis bahaya dan lokasi. Negara berpenghasilan rendah menghadapi risiko jauh lebih besar karena akses terhadap informasi, layanan kesehatan, dan perlindungan masih terbatas.
Sementara itu, satu jenis bencana justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan yaitu gelombang panas atau heatwaves.
Panas ekstrem sering disebut sebagai silent killer (pembunuh senyap) karena dampaknya tak langsung terlihat.
Umumnya banyak korban meninggal berhari-hari atau berminggu-minggu setelah suhu ekstrem terjadi. Kelompok lansia (lanjut usia) dan orang sakit menjadi yang paling rentan.
Menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, setengah populasi dunia tahun lalu mengalami lebih banyak hari dengan tekanan panas tinggi. Suhu terasa mencapai 32 derajat celsius atau bahkan lebih.
Peneliti Imperial College London, Theodore Keeping, mengatakan, cukup jelas bahwa panas ekstrem saat ini semakin mematikan.
Ilmuwan bahkan bisa menghitung tambahan kematian yang terjadi akibat peningkatan suhu yang dipicu perubahan iklim.
Data EM-DAT mencatat hampir 61.800 kematian akibat gelombang panas pada tahun 2022. Angka turun menjadi sekitar 48.000 pada tahun 2023, lalu naik lagi menjadi 66.825 pada tahun 2024.
Namun, angka tersebut diyakini masih jauh dari kenyataan. Peneliti senior CRED, Damien Delforge mengatakan, data kematian akibat gelombang panas masih terlambat masuk.
Bahkan, bisa ada jeda hingga satu tahun sebelum dicatat resmi dan banyak kasus tidak pernah dilaporkan.
Lancet Countdown memperkirakan rata-rata 546.000 orang meninggal akibat panas setiap tahun pada periode 2012–2021. Angka ini naik 63 persen dibandingkan dekade 1990-an.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya