Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konflik Air Naik Hampir 2 Kali Lipat, Korupsi dan Krisis Iklim Jadi Pendorong

Kompas.com, 26 Januari 2026, 16:33 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Konflik terkait air disebut meningkat hampir berlipat ganda sejak tahun 2022. Namun, hanya sedikit upaya untuk mencegah risiko baru dan mencegah semakin meningkatnya tren tersebut.

Berdasarkan data lembaga think tank dari Amerika Serikat (AS), Pacific Institute, terdapat 419 insiden konflik terkait air pada tahun 2024, meningkat dari 235 insiden tahun 2022.

Baca juga:

Konflik terkait air naik hampir dua kali lipat sejak 2022

Ada faktor lain selain krisis iklim dan cuaca ekstrem

Pacific Institute mengumpulkan konflik terkait air selama ratusan tahun, termasuk kasus ketika air menjadi pemicu kekerasan, senjata, atau korban. Krisis iklim, korupsi, dan penyalahgunaan infrastruktur menjadi faktor pendorong konflik air.

“Krisis iklim dan cuaca ekstrem berperan, tapi ada banyak faktor lain, seperti kegagalan negara dan pemerintah yang tidak kompeten atau korup, serta kurangnya atau penyalahgunaan infrastruktur," ujar salah satu pendiri dan peneliti senior di Pacific Institute, Peter Gleick, dilansir dari The Guardian, Senin (26/1/2026).

Sementara itu, kepala bidang keamanan air di Oxfam, Joanna Trevor mengatakan, Pacific Institute telah menggambarkan peningkatan konflik lokal terkait air yang dipicu krisis iklim.

Misalnya Rusia menargetkan bendungan pembangkit listrik tenaga air di Ukraina, serta protes pasokan air di Afrika Selatan.

Konflik terkait air melonjak sejak 2022. Data Pacific Institute mencatat 419 insiden pada 2024, dipicu krisis iklim, politik, dan kelangkaan air.PIXABAY/JACK SELLAIRE Konflik terkait air melonjak sejak 2022. Data Pacific Institute mencatat 419 insiden pada 2024, dipicu krisis iklim, politik, dan kelangkaan air.

Tidak hanya itu, ketersediaan air di Afrika Timur dan Sahel semakin langka. Masyarakatnya berpindah ke daerah baru untuk mengakses air, yang memicu persaingan dan konflik dengan penduduk setempat.

Politik juga dinilai telah memperkeruh situasi yang sudah rapuh di beberapa tempat. Misalnya, Sungai Colorado dan Rio Grande di Amerika Serikat dinilai sebagai isu politik dalam beberapa tahun terakhir.

Adapun perjanjian tahun 1944 yang mengharuskan Amerika Serikat untuk mengirimkan air Sungai Colorado ke Meksiko. Juga sebaliknya, Meksiko untuk mengirimkan air Rio Grande ke Amerika Serikat.

Baca juga:

Namun, di bawah pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Sungai Colorado dan Rio Grande disebut menjadi isu yang lebih kontroversial seiring meningkatnya ketegangan perbatasan antara kedua negara. 

Terdapat pula beberapa perselisihan yang kurang dikenal di Asia Tengah yang berisiko memicu konflik.

Misalnya, pembangunan kanal raksasa, Qosh Tepa, di Afghanistan untuk mengalihkan air dari Sungai Amu Darya, yang menyulut ketegangan terkait air dengan Uzbekistan, Tajikistan, dan Kyrgyzstan.

Konflik terkait air melonjak sejak 2022. Data Pacific Institute mencatat 419 insiden pada 2024, dipicu krisis iklim, politik, dan kelangkaan air.Thinkstockphotos Konflik terkait air melonjak sejak 2022. Data Pacific Institute mencatat 419 insiden pada 2024, dipicu krisis iklim, politik, dan kelangkaan air.

Pada Selasa (20/1/2026), Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengumumkan bahwa dunia telah memasuki keadaan "kebangkrutan air" (water bankruptcy).

Laporan PBB mendefinisikan istilah kebangkrutan air sebagai suatu keadaan ketika penggunaan air jangka panjang melebihi pasokan dan merusak alam.

Bahkan, kerusakan sumber daya air yang sedemikian parah berdampak permanen dan tidak dapat dipulihkan.

Laporan PBB tersebut memperkirakan permintaan air tawar global akan melebihi pasokan sebesar 40 persen pada tahun 2030.

Kendati 40 persen populasi dunia tinggal di cekungan sungai dan danau lintas batas, UNESCO menyebut, hanya seperlima negara yang memiliki perjanjian untuk berbagi sumber daya secara adil.

Baca juga:

Dengan meningkatnya kerawanan air, Trevor menilai, pentingnya dibuat perjanjian lintas batas secara lebih akuntabel yang melayani semua orang dengan menjamin hak asasi manusia (HAM) mereka atas air.

"Perlu ada pengakuan yang lebih besar akan kebutuhan untuk berbagi air dengan lebih baik di luar perjanjian pembagian air saat ini yang sering kali bersifat sukarela dan karenanya sepenuhnya bergantung pada niat baik," ucapnya.

Menurut Gleick, konflik terkait air dapat diselesaikan, meski kemungkinan prosesnya akan berlangsung cukup lama.

“Kita bisa menyelesaikan masalah air, saya tidak berpendapat bahwa kita akan melakukannya atau bahwa kita akan melakukannya dalam waktu dekat, tetapi kita bisa. Itu termasuk dampak krisis iklim terhadap air, memenuhi kebutuhan dan hak dasar manusia akan air, mengatasi masalah ekosistem, dan mengurangi risiko konflik atas sumber daya air," ujar Gleick.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau