Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Sebut Dunia Terancam Kebangkrutan Air, Apa Itu?

Kompas.com, 21 Januari 2026, 17:17 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan PBB menyampaikan bahwa miliaran orang saat ini menghadapi kebangkrutan air global (global water bankruptcy) yang tidak dapat dipulihkan.

Istilah kebangkrutan air ini merupakan suatu keadaan ketika penggunaan air jangka panjang melebihi pasokan dan merusak alam sedemikian parah sehingga tingkat sebelumnya tidak dapat dipulihkan seperti semula.

Baca juga:

"Laporan ini mengungkapkan kenyataan yang tidak nyaman: Banyak wilayah hidup melampaui batas kemampuan hidrologisnya, dan banyak sistem air kritis sudah bangkrut," kata penulis utama laporan tersebut dan Direktur Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB (UNU-INWEH), Kaveh Madani, dilansir dari laman Universitas PBB, Rabu (21/1/2026).

Selain penggunaan air berlebihan, laporan PBB berpendapat polusi dan juga tekanan iklim telah mendorong banyak sistem air hingga melampaui titik pemulihan.

Adapun laporan tersebut berdasarkan makalah yang telah melewati proses peer-reviewed dan akan diterbitkan dalam jurnal Water Resources Management.

Nantinya, kebangkrutan air akan resmi diartikan sebagai penarikan berlebihan yang berkelanjutan dari air permukaan dan air tanah dibandingkan dengan aliran masuk yang dapat diperbarui dan tingkat deplesi yang aman.

Tidak hanya itu, kebangkrutan air juga bermakna kerugian sumber daya alam terkait air yang tidak dapat dipulihkan atau terlalu mahal untuk diperbaiki.

PBB sebut dunia menghadapi kebangkrutan air

Sekitar empat miliar orang mengalami kelangkaan air yang parah

PBB memperingatkan kebangkrutan air global mengancam produksi pangan, ekonomi dunia, dan kehidupan miliaran manusia.Pixabay PBB memperingatkan kebangkrutan air global mengancam produksi pangan, ekonomi dunia, dan kehidupan miliaran manusia.

UNU-INWEH mengungkapkan, hampir tiga perempat populasi global tinggal di negara-negara yang dianggap "kekurangan air" atau "sangat kekurangan air".

Krisis tersebut berarti empat miliar orang mengalami kelangkaan air yang parah setidaknya selama satu bulan setiap tahun. Kondisi itu diperparah oleh menyusutnya danau, sungai, gletser, dan lahan basah.

"Dengan mengakui realitas kebangkrutan air, kita akhirnya dapat membuat pilihan yang akan melindungi masyarakat, perekonomian, dan ekosistem," kata Madani, dikutip dari The Independent.

Laporan menyatakan, pasokan air global sudah berada dalam kondisi kegagalan pasca-krisis akibat pengambilan air yang tak berkelanjutan selama puluhan tahun. 

Aktivitas tersebut mengurangi cadangan air yang terkandung dalam akuifer, gletser, tanah, lahan basah, dan ekosistem sungai. Pasokan air juga terdegradasi oleh polusi.

Dikutip dari AFP, hal itu tercermin dalam penyusutan danau-danau besar di dunia dan meningkatnya jumlah aliran sungai-sungai besar yang gagal mencapai laut pada waktu-waktu tertentu dalam setahun.

Baca juga:

PBB memperingatkan kebangkrutan air global mengancam produksi pangan, ekonomi dunia, dan kehidupan miliaran manusia.Dok. Freepik PBB memperingatkan kebangkrutan air global mengancam produksi pangan, ekonomi dunia, dan kehidupan miliaran manusia.

Dunia juga telah kehilangan sebagian besar lahan basah, dengan sekitar 410 juta hektar menghilang selama lima dekade terakhir.

Selain itu, sekitar 70 persen akuifer, atau cadangan air tanah utama yang digunakan untuk air minum dan irigasi, menunjukkan penurunan jangka panjang.

Menurut laporan tersebut, lebih dari 170 juta hektar lahan pertanian beririgasi berada di bawah tingkat kelangkaan air "tinggi" atau "sangat tinggi".

Selain itu, kerugian ekonomi akibat degradasi lahan, penipisan air tanah, dan perubahan iklim mencapai lebih dari 300 miliar dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 5.076,8 triliun) per tahun di seluruh dunia.

Sementara itu, tiga miliar orang dan lebih dari setengah produksi pangan global terkonsentrasi di wilayah yang sudah menghadapi tingkat cadangan air yang tidak stabil atau menurun.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau