KOMPAS.com - Laporan PBB menyampaikan bahwa miliaran orang saat ini menghadapi kebangkrutan air global (global water bankruptcy) yang tidak dapat dipulihkan.
Istilah kebangkrutan air ini merupakan suatu keadaan ketika penggunaan air jangka panjang melebihi pasokan dan merusak alam sedemikian parah sehingga tingkat sebelumnya tidak dapat dipulihkan seperti semula.
Baca juga:
"Laporan ini mengungkapkan kenyataan yang tidak nyaman: Banyak wilayah hidup melampaui batas kemampuan hidrologisnya, dan banyak sistem air kritis sudah bangkrut," kata penulis utama laporan tersebut dan Direktur Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB (UNU-INWEH), Kaveh Madani, dilansir dari laman Universitas PBB, Rabu (21/1/2026).
Selain penggunaan air berlebihan, laporan PBB berpendapat polusi dan juga tekanan iklim telah mendorong banyak sistem air hingga melampaui titik pemulihan.
Adapun laporan tersebut berdasarkan makalah yang telah melewati proses peer-reviewed dan akan diterbitkan dalam jurnal Water Resources Management.
Nantinya, kebangkrutan air akan resmi diartikan sebagai penarikan berlebihan yang berkelanjutan dari air permukaan dan air tanah dibandingkan dengan aliran masuk yang dapat diperbarui dan tingkat deplesi yang aman.
Tidak hanya itu, kebangkrutan air juga bermakna kerugian sumber daya alam terkait air yang tidak dapat dipulihkan atau terlalu mahal untuk diperbaiki.
PBB memperingatkan kebangkrutan air global mengancam produksi pangan, ekonomi dunia, dan kehidupan miliaran manusia.UNU-INWEH mengungkapkan, hampir tiga perempat populasi global tinggal di negara-negara yang dianggap "kekurangan air" atau "sangat kekurangan air".
Krisis tersebut berarti empat miliar orang mengalami kelangkaan air yang parah setidaknya selama satu bulan setiap tahun. Kondisi itu diperparah oleh menyusutnya danau, sungai, gletser, dan lahan basah.
"Dengan mengakui realitas kebangkrutan air, kita akhirnya dapat membuat pilihan yang akan melindungi masyarakat, perekonomian, dan ekosistem," kata Madani, dikutip dari The Independent.
Laporan menyatakan, pasokan air global sudah berada dalam kondisi kegagalan pasca-krisis akibat pengambilan air yang tak berkelanjutan selama puluhan tahun.
Aktivitas tersebut mengurangi cadangan air yang terkandung dalam akuifer, gletser, tanah, lahan basah, dan ekosistem sungai. Pasokan air juga terdegradasi oleh polusi.
Dikutip dari AFP, hal itu tercermin dalam penyusutan danau-danau besar di dunia dan meningkatnya jumlah aliran sungai-sungai besar yang gagal mencapai laut pada waktu-waktu tertentu dalam setahun.
Baca juga:
PBB memperingatkan kebangkrutan air global mengancam produksi pangan, ekonomi dunia, dan kehidupan miliaran manusia.Dunia juga telah kehilangan sebagian besar lahan basah, dengan sekitar 410 juta hektar menghilang selama lima dekade terakhir.
Selain itu, sekitar 70 persen akuifer, atau cadangan air tanah utama yang digunakan untuk air minum dan irigasi, menunjukkan penurunan jangka panjang.
Menurut laporan tersebut, lebih dari 170 juta hektar lahan pertanian beririgasi berada di bawah tingkat kelangkaan air "tinggi" atau "sangat tinggi".
Selain itu, kerugian ekonomi akibat degradasi lahan, penipisan air tanah, dan perubahan iklim mencapai lebih dari 300 miliar dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 5.076,8 triliun) per tahun di seluruh dunia.
Sementara itu, tiga miliar orang dan lebih dari setengah produksi pangan global terkonsentrasi di wilayah yang sudah menghadapi tingkat cadangan air yang tidak stabil atau menurun.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya