Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Burung Hantu Ditembak di NTT, Bisa Picu Ledakan Tikus Menurut Peneliti BRIN

Kompas.com, 26 Januari 2026, 18:19 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Video penembakan seekor burung hantu di Dusun Nela, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi viral di media sosial.

Sang pelaku, OYM, menembaknya pada Rabu (14/1/2026) sekitar pukul 19.00 Wita saat burung tersebut bertengger di pohon di depan rumahnya. OYM menuturkan, burung hantu yang diduga berjenis Tyto alba itu sering memangsa ternaknya, seperti ayam, angsa, dan itik.

Baca juga:

Menurut peneliti Pusris Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sudarmaji, kasus penembakan tersebut bisa viral karena burung hantu justru sangat bermanfaat dan dilekatkan dengan kepercayaan masyarakat tertentu.

"Kalau orang punya kepercayaan itu kan heboh. Burung itu (juga) sangat bermanfaat sehingga kalau dibunuh itu memang sangat disayangkan. (Apalagi dengan) Ditembak. Itu artinya bisa tidak sedikit yang dibunuh karena mudah saja, menembak pada malam hari ketika dia (burung hantu) bertengger," ujar Sudarmaji kepada Kompas.com, Senin (26/1/2026).

Burung hantu ditembak mati di NTT, pengaruh ke hama tikus?

Burung hantu berperan menekan populasi tikus

Video penembakan burung hantu di NTT menuai sorotan. Ahli menyebut tindakan ini bisa memicu ledakan hama tikus.PIXABAY/JASMIN777 Video penembakan burung hantu di NTT menuai sorotan. Ahli menyebut tindakan ini bisa memicu ledakan hama tikus.

Sudarmaji mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk menyusun semacam peraturan larangan mengganggu burung hantu.

Selain belasan spesies endemik saat ini dilindungi, burung hantu juga memainkan peran penting dalam menekan populasi tikus.

Burung hantu memangsa hama tikus di persawahan, perkebunan, dan permukiman warga. Jika burung hantu yang sudah menetap di area itu dibunuh atau dimusnahkan, akan terjadi keseimbangan ekosistem akan terganggu dan populasi tikus akan meningkat secara terus-menerus.

Baca juga:

Burung hantu termasuk hewan predator untuk berbagai jenis tikus yang cukup efektif. Burung hantu dapat menangkap tiga sampai empat ekor tikus dalam semalam.

"Kalau sampai diganggu atau bahkan dimusnahkan, itu kerugian besar bagi ekosistem karena itu akan menyebabkan populasi mangsanya itu akan meningkat secara drastis dan bisa terjadi suatu ledakan," tutur Sudarmaji.

Sebagai hama, tikus bisa bereproduksi secara cepat dan membawa berbagai jenis penyakit, seperti Leptospirosis.

Burung hantu membantu mencegah penyebaran penyakit infeksi zoonosis yang ditularkan hewan pengerat ke manusia (rodent-borne disease).

"Kalau (populasi tikus) itu tidak dijaga, artinya tidak ada yang dimangsa oleh burung hantu maka dalam jangka waktu tertentu akan meledak populasinya dan merugikan sangat besar, terutama di sawah maupun di perkebunan, seperti kelapa sawit. Yang menyebabkan nilai ekonominya sangat tinggi untuk kerugian itu. Sedangkan tikus itu jumlahnya bisa ribuan, jutaan," jelas dia.

Baca juga:

Burung hantu tak bisa bangun sarang sendiri

Video penembakan burung hantu di NTT menuai sorotan. Ahli menyebut tindakan ini bisa memicu ledakan hama tikus.SHUTTERSTOCK/ALBERT BEUKHOF Video penembakan burung hantu di NTT menuai sorotan. Ahli menyebut tindakan ini bisa memicu ledakan hama tikus.

Sudarmaji menyoroti pernyataan OYM yang menyebut burung hantu, yang bertengger di pohon tepat di depan rumahnya, menganggu.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau