KOMPAS.com - Video penembakan seekor burung hantu di Dusun Nela, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi viral di media sosial.
Sang pelaku, OYM, menembaknya pada Rabu (14/1/2026) sekitar pukul 19.00 Wita saat burung tersebut bertengger di pohon di depan rumahnya. OYM menuturkan, burung hantu yang diduga berjenis Tyto alba itu sering memangsa ternaknya, seperti ayam, angsa, dan itik.
Baca juga:
Menurut peneliti Pusris Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sudarmaji, kasus penembakan tersebut bisa viral karena burung hantu justru sangat bermanfaat dan dilekatkan dengan kepercayaan masyarakat tertentu.
"Kalau orang punya kepercayaan itu kan heboh. Burung itu (juga) sangat bermanfaat sehingga kalau dibunuh itu memang sangat disayangkan. (Apalagi dengan) Ditembak. Itu artinya bisa tidak sedikit yang dibunuh karena mudah saja, menembak pada malam hari ketika dia (burung hantu) bertengger," ujar Sudarmaji kepada Kompas.com, Senin (26/1/2026).
Video penembakan burung hantu di NTT menuai sorotan. Ahli menyebut tindakan ini bisa memicu ledakan hama tikus.Sudarmaji mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk menyusun semacam peraturan larangan mengganggu burung hantu.
Selain belasan spesies endemik saat ini dilindungi, burung hantu juga memainkan peran penting dalam menekan populasi tikus.
Burung hantu memangsa hama tikus di persawahan, perkebunan, dan permukiman warga. Jika burung hantu yang sudah menetap di area itu dibunuh atau dimusnahkan, akan terjadi keseimbangan ekosistem akan terganggu dan populasi tikus akan meningkat secara terus-menerus.
Baca juga:
Burung hantu termasuk hewan predator untuk berbagai jenis tikus yang cukup efektif. Burung hantu dapat menangkap tiga sampai empat ekor tikus dalam semalam.
"Kalau sampai diganggu atau bahkan dimusnahkan, itu kerugian besar bagi ekosistem karena itu akan menyebabkan populasi mangsanya itu akan meningkat secara drastis dan bisa terjadi suatu ledakan," tutur Sudarmaji.
Sebagai hama, tikus bisa bereproduksi secara cepat dan membawa berbagai jenis penyakit, seperti Leptospirosis.
Burung hantu membantu mencegah penyebaran penyakit infeksi zoonosis yang ditularkan hewan pengerat ke manusia (rodent-borne disease).
"Kalau (populasi tikus) itu tidak dijaga, artinya tidak ada yang dimangsa oleh burung hantu maka dalam jangka waktu tertentu akan meledak populasinya dan merugikan sangat besar, terutama di sawah maupun di perkebunan, seperti kelapa sawit. Yang menyebabkan nilai ekonominya sangat tinggi untuk kerugian itu. Sedangkan tikus itu jumlahnya bisa ribuan, jutaan," jelas dia.
Baca juga:
Video penembakan burung hantu di NTT menuai sorotan. Ahli menyebut tindakan ini bisa memicu ledakan hama tikus.Sudarmaji menyoroti pernyataan OYM yang menyebut burung hantu, yang bertengger di pohon tepat di depan rumahnya, menganggu.
Burung hantu terkesan mengganggu lantaran tidak bisa membuat sarangnya sendiri. Burung hantu bersarang di tempat-tempat dengan kayu yang kering dan sudah lapuk.
Burung hantu bersembunyi di dalamnya atau pada bagian-bagian rumah yang bolong.
"Ada genting atau atap yang bolong, burung hantu masuk ke dalam eternit. Atau, di tempat-tempat yang sifatnya dia bisa bersembunyi. Nah, itu memang kalau burung hantu itu banyak yang hidupnya ya di perumahan-perumahan, di bangunan-bangunan kantor, masjid, gereja," ujar Sudarmaji.
Jika menganggu secara mangsa, kata dia, burung hantu makanannya spesifik.
"Burung hantu tidak mengganggu ayam, misalnya. Apalagi, ayam kan kalau malam enggak ada di luar, di kandang. Kalau ini (burung hantu) kan aktifnya malam hari. Jadi, secara kalau itu dianggap mengganggu ya, paling mengganggu karena rasa takut, suaranya atau ya yang hidup di dekat-dekat rumah itu, mungkin bisa takut karena semacam kepercayaan ya," terang Sudarmaji.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya