Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Temukan Mikroba Pemakan Metana, Apa Itu?

Kompas.com, 26 Januari 2026, 19:43 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth com, NASA

KOMPAS.com - Peneliti menemukan mikroba yang "memakan" metana dan mengubahnya menjadi produk bermanfaat, alih-alih menjadi polusi. Nama mikroba tersebut adalah metanotrof (methanotrophs).

"Ke depannya, metanotrof berada di persimpangan mitigasi iklim, pengelolaan limbah, dan manufaktur hijau,” kata penulis senior studi Qigui Niu, dilansir dari Earth.com, Senin (26/1/2026).

Baca juga:

"Dengan mengintegrasikan rekayasa strain, desain bioreaktor cerdas, dan penilaian siklus hidup yang ketat, kita dapat mengubah metana dari beban menjadi landasan manufaktur bio berkelanjutan," tambah dia.

Untuk diketahui, metana berdampak cukup besar terhadap bumi. Setelah masuk ke atmosfer, gas tak terlihat ini memerangkap panas jauh lebih cepat dibanding karbon dioksida sehingga memperparah perubahan iklim dalam waktu singkat. 

Metana berasal dari tempat pemrosesan akhir (TPA), peternakan, tambang batu bara, dan instalasi pengolahan air limbah. 

Dikutip dari NASA, banyaknya metana di atmosfer mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan, sekitar 60 persen emisi metana di atmosfer saat ini merupakan hasil dari aktivitas manusia. 

Tidak hanya itu, konsentrasi metana di atmosfer sudah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 200 tahun yang lalu. 

Para ilmuwan memperkirakan bahwa peningkatan ini bertanggung jawab atas 20 persen hingga 30 persen pemanasan bumi sejak Revolusi Industri, yang mana dimulai pada tahun 1750.

Mengenal mikroba pemakan metana

Bisa ditempatkan di TPA atau lokasi lain sesuai jenis mereka

Peneliti menemukan mikroba pemakan metana yang mengubah metana jadi produk bermanfaat, alih-alih menjadi polusi. Namanya metanotrof. Peneliti menemukan mikroba pemakan metana yang mengubah metana jadi produk bermanfaat, alih-alih menjadi polusi. Namanya metanotrof.

Berdasarkan studi yang diterbitkan di Energy & Environment Nexus, metanotrof disebut sudah berada di alam, bahkan mereka sudah mengonsumsi metana sebelum mencapai udara. 

Dengan kondisi yang tepat, sistem buatan manusia dapat mendukung proses tersebut, sekaligus mengurangi emisi berbahaya tanpa menggunakan mesin berat yang boros energi atau bahan kimia.

Metanotrof bertahan hidup dengan menggunakan metana sebagai sumber makanan. Di dalam setiap selnya, enzim-enzim memecah metana selangkah demi selangkah.

Para ilmuwan mengelompokkan metanotrof aerobik menjadi Tipe I, Tipe II, dan Tipe X. Setiap kelompok menangani karbon dengan cara yang berbeda.

Keragaman ini membantu para peneliti memilih mikroba yang tepat untuk tujuan tertentu, seperti menurunkan emisi atau menghasilkan bahan yang bermanfaat.

Para peneliti kemudian menerapkan metanotrof di lokasi tempat metana dihasilkan. Di tempat pembuangan akhir (TPA), misalnya, lapisan penutup biologis berbasis tanah memungkinkan mikroba-mikroba ini memakan metana sebelum gas tersebut terlepas ke udara.

Pabrik pengolahan air limbah juga mendapat manfaat. Metanotrof menghilangkan metana terlarut dan juga mengurangi polusi nitrogen sehingga meningkatkan kualitas udara dan keamanan air secara bersamaan.

Baca juga:

Peneliti menemukan mikroba pemakan metana yang mengubah metana jadi produk bermanfaat, alih-alih menjadi polusi. Namanya metanotrof.PIXABAY/ANATOLY STAFICHUK Peneliti menemukan mikroba pemakan metana yang mengubah metana jadi produk bermanfaat, alih-alih menjadi polusi. Namanya metanotrof.

Selain membantu menghilangkan metana, metanotrof juga disebut dapat menciptakan material yang bermanfaat.

Mikroba tersebut dapat mengubah metana menjadi metanol yang berfungsi sebagai bahan bakar dan bahan kimia.

Mikroba pemakan metana ini ternyata juga punya kemampuan untuk menghasilkan plastik alami.

Beberapa metanotrof menyimpan karbon dalam bentuk polihidroksialkanoat (PHA) di dalam selnya. Bahan-bahan ini membentuk plastik yang dapat terurai secara alami dengan sifat yang mirip dengan plastik biasa.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau