KOMPAS.com - Peneliti menemukan mikroba yang "memakan" metana dan mengubahnya menjadi produk bermanfaat, alih-alih menjadi polusi. Nama mikroba tersebut adalah metanotrof (methanotrophs).
"Ke depannya, metanotrof berada di persimpangan mitigasi iklim, pengelolaan limbah, dan manufaktur hijau,” kata penulis senior studi Qigui Niu, dilansir dari Earth.com, Senin (26/1/2026).
Baca juga:
"Dengan mengintegrasikan rekayasa strain, desain bioreaktor cerdas, dan penilaian siklus hidup yang ketat, kita dapat mengubah metana dari beban menjadi landasan manufaktur bio berkelanjutan," tambah dia.
Untuk diketahui, metana berdampak cukup besar terhadap bumi. Setelah masuk ke atmosfer, gas tak terlihat ini memerangkap panas jauh lebih cepat dibanding karbon dioksida sehingga memperparah perubahan iklim dalam waktu singkat.
Metana berasal dari tempat pemrosesan akhir (TPA), peternakan, tambang batu bara, dan instalasi pengolahan air limbah.
Dikutip dari NASA, banyaknya metana di atmosfer mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan, sekitar 60 persen emisi metana di atmosfer saat ini merupakan hasil dari aktivitas manusia.
Tidak hanya itu, konsentrasi metana di atmosfer sudah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 200 tahun yang lalu.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa peningkatan ini bertanggung jawab atas 20 persen hingga 30 persen pemanasan bumi sejak Revolusi Industri, yang mana dimulai pada tahun 1750.
Peneliti menemukan mikroba pemakan metana yang mengubah metana jadi produk bermanfaat, alih-alih menjadi polusi. Namanya metanotrof.Berdasarkan studi yang diterbitkan di Energy & Environment Nexus, metanotrof disebut sudah berada di alam, bahkan mereka sudah mengonsumsi metana sebelum mencapai udara.
Dengan kondisi yang tepat, sistem buatan manusia dapat mendukung proses tersebut, sekaligus mengurangi emisi berbahaya tanpa menggunakan mesin berat yang boros energi atau bahan kimia.
Metanotrof bertahan hidup dengan menggunakan metana sebagai sumber makanan. Di dalam setiap selnya, enzim-enzim memecah metana selangkah demi selangkah.
Para ilmuwan mengelompokkan metanotrof aerobik menjadi Tipe I, Tipe II, dan Tipe X. Setiap kelompok menangani karbon dengan cara yang berbeda.
Keragaman ini membantu para peneliti memilih mikroba yang tepat untuk tujuan tertentu, seperti menurunkan emisi atau menghasilkan bahan yang bermanfaat.
Para peneliti kemudian menerapkan metanotrof di lokasi tempat metana dihasilkan. Di tempat pembuangan akhir (TPA), misalnya, lapisan penutup biologis berbasis tanah memungkinkan mikroba-mikroba ini memakan metana sebelum gas tersebut terlepas ke udara.
Pabrik pengolahan air limbah juga mendapat manfaat. Metanotrof menghilangkan metana terlarut dan juga mengurangi polusi nitrogen sehingga meningkatkan kualitas udara dan keamanan air secara bersamaan.
Baca juga:
Peneliti menemukan mikroba pemakan metana yang mengubah metana jadi produk bermanfaat, alih-alih menjadi polusi. Namanya metanotrof.Selain membantu menghilangkan metana, metanotrof juga disebut dapat menciptakan material yang bermanfaat.
Mikroba tersebut dapat mengubah metana menjadi metanol yang berfungsi sebagai bahan bakar dan bahan kimia.
Mikroba pemakan metana ini ternyata juga punya kemampuan untuk menghasilkan plastik alami.
Beberapa metanotrof menyimpan karbon dalam bentuk polihidroksialkanoat (PHA) di dalam selnya. Bahan-bahan ini membentuk plastik yang dapat terurai secara alami dengan sifat yang mirip dengan plastik biasa.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya