Penulis
Pendanaan TFCCA siklus pertama berasal dari Pemerintah Amerika Serikat dengan nilai 35 juta dolar Amerika Serikat (sekitar Rp 588 miliar). Dana ini menjadi salah satu dukungan terbesar bagi konservasi terumbu karang di Indonesia.
Program TFCCA siklus pertama menyasar tiga bentang laut utama Kepala Burung, Sunda Kecil, dan Banda.
Ketiga wilayah tersebut dikenal sebagai kawasan dengan tingkat keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi. Wilayah ini juga menjadi pusat kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung langsung pada kesehatan laut.
Sebanyak 58 organisasi dan inisiatif lokal dinyatakan lolos sebagai pelaksana program. Mereka berasal dari berbagai komunitas, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok masyarakat pesisir.
Selain pendanaan utama, TFCCA diperkuat oleh dukungan dari berbagai lembaga konservasi internasional dan nasional.
Conservation International atau Konservasi Indonesia (KI) memberikan kontribusi sebesar 3 juta dollar Amerika Serikat atau (sekitar Rp50 miliar).
Baca juga:
Sementara itu, The Nature Conservancy bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) turut menyumbang 1,5 juta dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 25 miliar).
Senior Vice President and Executive Chair KI, Meizani Irmadhiany, menjelaskan peran lembaganya dalam program ini. Ia menyebut KI bertugas memastikan hibah dapat berjalan secara terarah dan terukur.
"Program TFCCA memperkuat arah pengelolaan ekosistem terumbu karang Indonesia dengan memastikan sumber daya publik dikelola secara transparan dan tepat sasaran," kata dia.
Menurut Meizani, pengelolaan tersebut dilakukan sejak tahap perencanaan hingga implementasi di lapangan. Semua proses harus terkoordinasi agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya