Penulis
KOMPAS.com - Program pendanaan konservasi terumbu karang melalui skema Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) resmi diluncurkan secara nasional. Program ini melibatkan 58 organisasi dan inisiatif lokal yang bergerak di wilayah pesisir dan laut.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Koswara, menyampaikan bahwa peluncuran TFCCA sejalan dengan arah kebijakan ekonomi biru pemerintah.
Baca juga:
Menurut Koswara, keberlanjutan ekosistem menjadi fondasi utama dalam pembangunan sektor kelautan Indonesia.
"Di tengah ancaman perubahan iklim, pencemaran laut, dan praktik penangkapan ikan destruktif, konservasi terumbu karang menjadi agenda strategis pemerintah dalam kerangka kebijakan ekonomi biru," kata Koswara, dilansir dari Antara, Selasa (27/1/2026).
Pendanaan TFCCA resmi diluncurkan untuk konservasi terumbu karang Indonesia dengan melibatkan 58 organisasi lokal di tiga bentang laut utama.Terumbu karang berperan penting bagi kehidupan laut dan masyarakat pesisir. Ekosistem ini menjadi rumah bagi ribuan spesies ikan.
Terumbu karang juga melindungi pantai dari abrasi serta mendukung ekonomi lokal melalui perikanan dan pariwisata.
Namun, kondisi terumbu karang Indonesia terus menghadapi tekanan serius. Suhu laut meningkat, pencemaran semakin meluas, serta aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan masih terjadi di sejumlah wilayah.
Maka dari itu, pemerintah menilai perlu ada pendekatan kolaboratif. Pendekatan ini harus melibatkan komunitas lokal sebagai pelaku utama konservasi. TFCCA hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut.
Koswara menjelaskan bahwa program ini juga menjadi bagian dari diplomasi biru Indonesia di tingkat global.
"Program TFCCA juga merupakan salah satu upaya diplomasi biru yang mengedepankan sinergi global hingga tingkat lokal untuk mendukung konservasi ekosistem laut khususnya terumbu karang yang inklusif, partisipatif dan berkelanjutan," ucap dia.
Sebagai tanda dimulainya pelaksanaan program, tujuh perwakilan penerima hibah menandatangani perjanjian hibah pada hari peluncuran. Mereka mewakili para pelaksana di berbagai wilayah Indonesia.
Baca juga:
Pendanaan TFCCA resmi diluncurkan untuk konservasi terumbu karang Indonesia dengan melibatkan 58 organisasi lokal di tiga bentang laut utama.Pendanaan TFCCA siklus pertama berasal dari Pemerintah Amerika Serikat dengan nilai 35 juta dolar Amerika Serikat (sekitar Rp 588 miliar). Dana ini menjadi salah satu dukungan terbesar bagi konservasi terumbu karang di Indonesia.
Program TFCCA siklus pertama menyasar tiga bentang laut utama Kepala Burung, Sunda Kecil, dan Banda.
Ketiga wilayah tersebut dikenal sebagai kawasan dengan tingkat keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi. Wilayah ini juga menjadi pusat kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung langsung pada kesehatan laut.
Sebanyak 58 organisasi dan inisiatif lokal dinyatakan lolos sebagai pelaksana program. Mereka berasal dari berbagai komunitas, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok masyarakat pesisir.
Selain pendanaan utama, TFCCA diperkuat oleh dukungan dari berbagai lembaga konservasi internasional dan nasional.
Conservation International atau Konservasi Indonesia (KI) memberikan kontribusi sebesar 3 juta dollar Amerika Serikat atau (sekitar Rp50 miliar).
Baca juga:
Sementara itu, The Nature Conservancy bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) turut menyumbang 1,5 juta dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 25 miliar).
Senior Vice President and Executive Chair KI, Meizani Irmadhiany, menjelaskan peran lembaganya dalam program ini. Ia menyebut KI bertugas memastikan hibah dapat berjalan secara terarah dan terukur.
"Program TFCCA memperkuat arah pengelolaan ekosistem terumbu karang Indonesia dengan memastikan sumber daya publik dikelola secara transparan dan tepat sasaran," kata dia.
Menurut Meizani, pengelolaan tersebut dilakukan sejak tahap perencanaan hingga implementasi di lapangan. Semua proses harus terkoordinasi agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya