KOMPAS.com - Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan lebat bakal melanda sejumlah wilayah selama sepekan ke depan.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menyebutkan kondisi itu dipengaruhi dinamika atmosfer berupa La Nina lemah, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) yang aktif secara spasial di sebagian besar wilayah Indonesia, hingga anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR). Sehingga meningkatkan potensi terjadinya hujan dalam beberapa hari terakhir.
"Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia," kata Andri dalam keterangannya, Kamis (8/1/2026).
Baca juga: Rantai Pasok Global Bisa Terganggu akibat Cuaca Ekstrem
Dia mencatat, pada skala global, El Nino–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat di fase negatif yang mengindikasikan La Nina lemah. Akibatnya pasokan uap air meningkat, mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah.
Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia turut memperkaya pasokan uap air.
Sementara, MJO diperkirakan aktif melintasi Aceh, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Barat Daya.
"Kombinasi MJO gelombang kelvin, dan gelombang rossby ekuator teramati aktif di Papua Selatan dan perairan selatan Papua Selatan, sehingga berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di kawasan tersebut," papar dia.
BMKG juga memantau adanya sirkulasi siklonik di perairan barat Australia. Daerah konvergensinya diprediksi memanjang di Semenanjung Malaysia, dari Kepulauan Riau hingga Jambi.
Baca juga: Gelondongan Kayu di Banjir Sumatera Bukti Kerusakan Hutan Sistemik, Bukan Sekadar Anomali Cuaca
Di Laut Jawa memanjang dari Samudera Hindia selatan Yogyakarta hingga Jawa Timur, dari Selat Makassar hingga Laut Flores, dari Sulawesi Utara hingga Laut Maluku, di Papua, dan dari Papua Barat Daya hingga Papua Barat.
Daerah pertemuan angin atau konfluensi, kata, Andri, terpantau di perairan barat Sumatera, di Nusa Tenggara Timur, di Laut Banda, di Laut Flores dan di Maluku.
"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut," jelas Andri.
Ia mencatat, pada periode 9-15 Januari 2026 cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan sampai hujan lebat.
Wikayah yang perlu mewaspadai hujan intensitas sedang antara lain Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
Lalu di Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, serta Papua Barat Daya.
"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi," ungkap Andri.
Memasuki awal tahun 2026, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor akibat cuaca ekstrem.
BMKG meminta masyarakat aktif memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem melalui kanal informasi www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya