Selama sepekan ke depan, dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal diprediksi masih berpengaruh signifikan terhadap kondisi cuaca.
Andri menyatakan, pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat di fase negatif yang mengindikasikan kondisi La Nina lemah.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian Indonesia terutama bagian timur.
"Melihat potensi cuaca yang masih signifikan, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dan melakukan mitigasi diri, keluarga, dan lingkungannya terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu genangan, banjir, banjir bandang, dan longsor," tutur Andri.
Adapun untuk mencegah banjir di sejumlah daerah, BMKG serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC. Di Jawa Barat, OMC dilakukan selama lima hari sampai Kamis (29/1/2026).
Baca juga:
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman menyampaikan bahwa pemerintah menjalankan operasi ini dengan fokus pada daerah terdampak bencana tanah longsor guna mengendalikan intensitas hujan.
Dengan begitu tim di lapangan dapat menjalankan proses evakuasi dan mobilisasi bantuan logistik secara lancar tanpa terkendala faktor cuaca.
“Kami berharap Operasi Modifikasi Cuaca ini mampu mengendalikan intensitas hujan di titik-titik rawan. Kami ingin memastikan tim evakuasi di Desa Pasir Langu bekerja maksimal dan bantuan logistik mencapai warga tanpa hambatan cuaca buruk,” kata Herman.
OMC pun digelar di Jakarta, dengan tujuan mencegah banjir di area yang paling berisiko.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya