KOMPAS.com - Suara gemericik air membangunkan saya pada Minggu (18/1/2026) subuh, tepatnya pukul 04.00 WIB. Ketika membuka pintu kamar, saya kaget karena air hujan yang masuk lewat celah plafon sudah menggenangi dapur dan ruang tengah saya.
Saluran untuk mengalirkannya sudah tidak mampu lagi menampung guyuran air hujan yang begitu lebat.
Baca juga:
Ini kali kedua, selama empat bulan mengontrak di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, saya terpaksa menguras genangan air di dalam rumah untuk membuangnya ke luar. Semua peristiwa ini terjadi tahun 2026.
Namun, kali ini genangan air yang dikuras di dalam rumah tak kunjung surut.
Pagi itu, jalan depan rumah, yang sebelumnya tidak pernah kebanjiran, ternyata sudah terisi air berketinggian sedengkul orang dewasa atau sekitar 40-50 sentimeter (cm).
Taman di samping rumah reporter Kompas.com, Manda Firmansyah, terendam banjir pada Senin (19/1/2026). Lokasinya berada di salah satu perumahan di Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.Hujan deras yang sesekali diselingi gerimis dari semalam masih mengguyur, lalu benar-benar mereda pukul 10.00 WIB.
Seiring kenaikan debit banjir, air masuk ke toilet dan kamar tidur saya, dengan hanya menyisakan ruang tengah yang memang tempat tertinggi di dalam rumah.
Jika hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur, ruang tengah saya juga akan tenggelam dan saya terpaksa harus mengungsi, entah ke mana.
Meskipun tidak ada hujan, saya tetap dirundung cemas. Genangan air justru masih naik secara perlahan.
Banjir masuk rumah reporter Kompas.com, Manda Firmansyah di salah satu perumahan di Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, pada Senin (19/1/2026).Kala itu, cuaca tampak labil dan sering berawan. Terkadang cerah, tapi tiba-tiba bisa terdengar bunyi gemuruh.
Saya memutuskan diam di rumah waktu itu karena kondisi agak demam. Tak lupa, perut pun diisi dengan sate taichan dari pedagang sekitar, yang masih mengantarkan dagangannya ke rumah pembeli sebagaimana biasanya.
Di titik ini, salah satu hal yang paling saya khawatirkan adalah nasib ratusan buku yang sudah susah payah saya kumpulkan selama bekerja di Jakarta.
Saya menaruh buku-buku di rak bagian atas lemari berukuran besar, lalu memindahkan sejumlah barang, seperti motor, sepeda, benda elektronik, sepatu, dan bantal, ke tempat yang lebih tinggi.
Tak lupa, saya mematikan listrik dan menutup pintu-pintu, terutama toilet, tempat sekelompok kecoak sedang berjuang menghadapi nasib yang sama dengan saya.
Saya pun memutuskan untuk mengungsi.
Baca juga:
Banjir di salah satu perumahan di Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, pada Senin (19/1/2026).Dengan berbekal tas berisi pakaian dan perlengkapan kerja, saya pergi meninggalkan rumah pukul 16.00 WIB.
Rumah saya yang berada di Keluarahan Bahagia, Kecamatan Babelan, ini termasuk yang terdampak banjir paling parah.
Di sepanjang jalan menuju gerbang perumahan ini, mobil-mobil telah dipindahkan ke halaman rumah kosong atau area dekat pos satpam yang lebih tinggi.
Seorang warga yang mengaku sudah tinggal di perumahaan ini sejak lama mengatakan, dampak banjir seperti saat ini, baru pertama kali terjadi.
"Terakhir, banjir yang parah tahun 2020 dan enggak separah ini," ucap dia, saat berpapasan dengan saya.
Tidak hanya itu, beberapa ciri fisik bangunan menunjukkan kalau kontrakan saya kemungkinan memang direnovasi pemiliknya dengan menyesuaikan tingkat keparahan banjir pada tahun 2020.
Meskipun begitu, tidak ada shelter yang layak untuk keadaan bencana. Sempat ditawari ketua RT mengungsi ke balai, tapi saya lebih memilih berjalan jauh menuju Kota Harapan Indah untuk mencari penginapan.
Motor mogok usai melewati jalanan yang banjir di Kabupaten Bekasi, pada Senin (19/1/2026).Berdasarkan keterangan warga, sebenarnya tiga pompa air sudah dioperasikan sejak pukul 04.00 WIB dini hari. Sebuah pompa diesel tambahan juga dikerahkan pada siang harinya.
Namun, banjir belum ada tanda-tanda surut akibat besarnya debit air sungai berkapasitas kecil di depan pintu gerbang perumahan ini.
Air dari saluran utama perumahan ini tidak bisa mengalir ke sungai tersebut.
Menurut pendapat warga, air banjir bisa naik meskipun tidak hujan karena air tidak bisa disalurkan keluar. Sebagian kecil air dari sungai balik ke saluran utama karena kalah pressure dan debit.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya