KOMPAS.com - kandungan bahan kimia sintetis (per and polyfluoroalkyl substances atau PFAS) yang sebelumnya terdeteksi pada paus di Atlantik menurun hingga 60 persen dalam tiga dekade terakhir, menurut temuan ilmuwan dari Harvard University, Amerika Serikat.
PFAS sering disebut sebagai bahan kimia abadi, yang dibuat untuk memproduksi material tahan air, minyak, noda, serta panas. Namun, PFAS tidak mudah terurai di lingkungan dan bisa masuk ke tubuh manusia dan hewan.
Baca juga:
Para peneliti menganalisis sampel jaringan paus dari tahun 1986 hingga 2023. Hasilnya menunjukkan penurunan kadar PFAS secara signifikan.
"Secara umum, laut dianggap sebagai tempat akhir pembuangan pencemaran dari daratan, tapi kami tidak melihat adanya akumulasi signifikan PFAS generasi terbaru di laut lepas,” ucap penulis utama studi, Elsie Sunderland, dikutip dari Euronews, Rabu (28/1/2026).
Para peneliti mengaku heran dengan adanya penurunan kandungan PFAS. Padahal produksi PFAS jenis baru justru meningkat.
Hal ini memunculkan pertanyaan, jika sebagian besar PFAS generasi baru tidak terakumulasi di laut maka ke mana bahan kimia berbahaya ini berakhir?
“Meskipun hasil kami merupakan kabar baik bagi pencemaran laut, temuan ini menunjukkan bahwa PFAS generasi baru kemungkinan memiliki sifat berbeda dibandingkan PFAS lama," kata Sunderland.
Peneliti mengungkapkan, kadar bahan kimia abadi PFAS pada paus menurun lebih dari 60 persen. Namun, hal itu memunculkan kekhawatiran baru.Peneliti mengungkapkan, temuan menurunnya kandungan PFAS pada paus di Atlantik muncul ketika Eropa tengah memperketat pengawasan terhadap bahan kimia.
Pengetatan tersebut menyusul bukti paparannya dikaitkan dengan meningkatnya risiko beberapa jenis kanker, penurunan kesuburan, dan gangguan pada sistem kekebalan tubuh.
Studi yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences itu mengukur organofluorin total yang mencakup unsur fluorin pada sebagian besar senyawa PFAS.
Sunderland menjelaskan, pengukuran bertujuan memperkirakan total konsentrasi PFAS, termasuk jenis terbaru yang jauh lebih sulit diidentifikasi.
Mereka kemudian meneliti jaringan paus karena predator puncak ini dianggap sebagai penjaga pencemaran di laut.
Tubuh paus mampu menyimpan paparan bahan kimia dalam jangka panjang, sedangkan habitatnya di laut lepas mencerminkan bagaimana polutan dapat berpindah jauh dari sumber asalnya di daratan.
Tim memperlihatkan bahwa secara keseluruhan kadar organofluorin dari empat jenis PFAS lama yang mencapai puncaknya di pertengahan 2010-an telah menurun lebih dari 60 persen pada 2023.
"Penghentian produksi yang awalnya bersifat sukarela dan kemudian didorong oleh regulasi ternyata cukup efektif dalam menurunkan konsentrasi bahan kimia ini, baik di komunitas yang dekat dengan sumber pencemaran maupun di ekosistem yang lebih terpencil. Ini sangat positif dan penting untuk ditekankan,” tutur Sunderland.
Namun, tanpa pengawasan yang lebih ketat risiko perpindahan pencemaran ke tanah, udara, atau rantai makanan manusia masih tetap tinggi.
Baca juga:
Peneliti mengungkapkan, kadar bahan kimia abadi PFAS pada paus menurun lebih dari 60 persen. Namun, hal itu memunculkan kekhawatiran baru.Dalam studi lain yang dipublikasikan di jurnal Environment & Health, ilmuwan mencatat bahwa kontaminan yang tersebar luas, seperti merkuri dan senyawa kimia PFAS tertentu, memengaruhi fungsi mitokondria burung.
Mitokondria merupakan pembangkit energi seluler kecil yang menghasilkan energi untuk berbagai aktivitas, dari terbang hingga reproduksi.
Penumpukan PFAS tetap terjadi meski ada upaya internasional untuk mengendalikan penggunaannya.
Polutan tersebut sangat beracun, bahkan pada konsentrasi rendah dan mencapai lautan melalui atmosfer serta aliran air permukaan.
Tim peneliti menemukan kadar tinggi senyawa PFAS tertentu meracuni burung dari dalam dengan merusak sistem pembuangan limbah sel mereka.
Gangguan produksi energi ini tentu akan memengaruhi kebugaran mereka dalam beraktivitas, mulai dari terbang hingga reproduksi.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya