Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti BRIN Kritisi Skema Kemitraan Perusahaan-Petani Sawit di Papua

Kompas.com, 28 Januari 2026, 21:52 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti BRIN mengkritisi skema kemitraan perusahaan perkebunan kelapa sawit (inti) dengan petani lokal (plasma) di Papua yang dinilai tidak dijalankan secara egaliter.

Peneliti Kependudukan BRIN, Lukas Rumboko Wibowo menyatakan, perusahaan perkebunan kelapa sawit dapat mengendalikan plasma secara leluasa, yang dalam hal ini adalah masyarakat adat Moi.

Selain itu, perusahaan juga menormalkan kondisi kedaruratan demi menghindari protes dan gejolak dari petani anggota plasma.

Baca juga: Kisah Jani, Bayi Orangutan Ditemukan Tanpa Induk di Kebun Sawit

Narasi kondisi kedaruratan tecermin dari dalih situasi kritis akibat tanah tidak subur, rendahnya produktivitas sawit, serta kebobrokan manajemen yang lama.

"Sehingga, skema kemitraan inti plasma yang seharusnya kemitraan yang egaliter, di situ didesain dan difungsikan sebagai kamp konsentrasi bagi petani plasma. Jadi, hak-hak petani dilucuti, mereka mati secara perdata," ujar peneliti Lukas Rumboko Wibowo dalam diskusi dan diseminasi riset Papua Harus Ditanami Kelapa Sawit? di Jakarta, Rabu, (28/1/2026).

Menurut dia, secara de jure hak-hak masyarakat adat dijamin. Namun, secara de facto  masyarakat adat Moi enggak memiliki hak sama sekali dan tidak bisa menuntutnya.

"Kita bisa tebak mungkin nanti keberpihakan mereka seperti apa?, mungkin (lebih ke) perusahaannya atau pemerintah daerah dibandingkan dengan suku Moi," tutur Lukas.

Bagi masyarakat adat Moi, kondisi kedaruratan adalah narasi 'orang Jakarta'. Menurut Lukas, pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang akan mengembangkan perkebunan kelapa sawit di Papua kerap dibingkai dengan upaya menormalisasi kedaruratan.

Penormalan kondisi kedaruratan dipakai terus-menerus sebagai paradigma dalam pengelolaan pemerintah. Ia menganggap narasi untuk menormalisasi kondisi kedaruratan itu akan menjadi tantangan besar bagi masyarakat adat ke depannya.

Di dalam riset ini, terdapat beberapa rekomendasi. Pertama, audit secara independen terhadap kinerja perusahaan perkebunan kelapa sawit. Khususnya, mengaudit pelaksanaan skema kemitraan inti-plasma. Audit tersebut perlu mengikutsertakan unsur lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan akademisi.

"Ini penting sekali, untuk segera di-update yang melibatkan semua unsur, yang tidak hanya pemerintah," ucapnya.

Kedua, penguatan perlindungan hukum terhadap masyarakat adat. Ketiga, pemberdayaan masyarakat adat melalui fasilitasi dan pemetaan partisipatif tanah ulayat sebagai counter mapping untuk mencegah perampasan lahan. Keempat, memastikan plasma dalam skema kemitraan tersebut memiliki keterwakilan masyarakat adat.

Buku preliminary research berjudul Dampak Ekspansi Perkebunan Sawit dan Industri Kayu Terhadap Masyarakat Adat di Kabupaten Sorong, Papua Barat DayaKompas.com/Manda Firmansyah Buku preliminary research berjudul Dampak Ekspansi Perkebunan Sawit dan Industri Kayu Terhadap Masyarakat Adat di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya

Hingga saat ini, masyarakat adat hanya diposisikan sebagai subjek yang pasif, sehingga dalam skema inti-plasma tidak ada unsur pemberdayaan. Padahal, Peraturan Menteri Pertanian 18/2021 tentang Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar menyatakan bahwa pemberdayaan dan pemeratan pembangunan menjadi tujuan dari plasma.

Komunitas marga yang tergabung dalam plasma dipaksa untuk tidak berperan apapun dalam manajemen plasma, meski tetap diakui secara formal sebagai anggotanya.

Selain itu, perusahaan perkebunan kelapa sawit memberikan dana talangan relatif besar, tergantung pada luasan tanah ulayat yang diserahkan.

Namun, dana talangan tersebut tidak dihitung sebagai hasil produksi dari plasma, melainkan dikategorikan utang anggotanya. Dalam praktiknya, dana talangan itu didesain untuk menyandera lahan-lahan konsesi agar tidak bisa diklaim kembali oleh masyarakat adat Moi.

Kesulitan dalam penelitian

Penelitian menggunakan metode campuran (mixed-method). Pengambilan data kualitatif dengan wawancara mendalam dan kuisioner terbuka. Pengambilan data kuantitatif dengan wawancara terstruktur.

Para peneliti berhasil mewawancarai 42 responden dari berbagai pihak, termasuk lembaga adat dan masyarakat adat.

Namun, para peneliti mengalami kendala dalam mengonfirmasi berbagai temuan kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit yang bersangkutan. Dalam upaya menghadirkan riset yang cover both site, para peneliti kerap dilempar ke sana-kemari saat hendak wawancara.

"Kami selalu di ping pong. Jadi, enggak mudah untuk kemudian mereka dan ketika bertemu, kami hanya diberi waktu 30 menit dan mereka tidak mau menjelaskan secara detail apa yang kami tanyakan. Misalnya, tentang manajemen plasma. Mereka enggak mau karena itu memang menurut mereka berisiko dan mereka alasannya masih punya anak-istri. Jadi, kami juga enggak bisa memaksanya," ujar Lukas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
LSM/Figur
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
Pemerintah
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
LSM/Figur
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Pemerintah
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Pemerintah
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
LSM/Figur
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Pemerintah
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah
Saat Berbagi Jadi Harapan, Starlead Ajak Anak Panti Kejar Mimpi
Saat Berbagi Jadi Harapan, Starlead Ajak Anak Panti Kejar Mimpi
Swasta
PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
BUMN
KLH Minta Pemda di Jabodetabek Cegah Polusi Udara Saat Musim Kemarau
KLH Minta Pemda di Jabodetabek Cegah Polusi Udara Saat Musim Kemarau
Pemerintah
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Strategi Efisiensi Energi
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Strategi Efisiensi Energi
Pemerintah
10 Kota Terpanas di Indonesia pada 17-18 Maret, Ada Jakarta dan Medan
10 Kota Terpanas di Indonesia pada 17-18 Maret, Ada Jakarta dan Medan
Pemerintah
Apa Itu Green Jobs? Intip Potensi dan Skill yang Dibutuhkan
Apa Itu Green Jobs? Intip Potensi dan Skill yang Dibutuhkan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau