KOMPAS.com - Hutan-hutan di dunia memasuki era baru, yang ditandai dengan homogenisasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan melemahnya ekosistem. Hal ini ditunjukkan oleh sebuah studi internasional yang diterbitkan di Nature Plants.
Sebagai catatan, homogenisasi merupakan kondisi ketika hutan kehilangan variasi jenis pohonnya.
Baca juga:
"Aktivitas manusia menyebabkan kepunahan spesies asli dan naturalisasi spesies asing secara bersamaan, mengubah keragaman pohon global dengan implikasi besar bagi struktur dan fungsi ekosistem," tulis para peneliti, dilansir dari laman Nature, Kamis (29/1/2026).
Studi mengungkap hutan dunia kian homogen. Spesies pohon unik terancam punah akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim.Para peneliti menganalisis lebih dari 31.000 spesies pohon di seluruh dunia dan memberikan gambaran global tentang bagaimana hutan kemungkinan akan berubah, dalam hal komposisi, ketahanan, dan fungsi ekologis.
Menurut studi tersebut, hutan akan semakin didominasi oleh jenis pohon yang tumbuh cepat, sedangkan spesies yang tumbuh lambat dan lebih terspesialisasi berisiko menghilang.
Kondisi tersebut merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan.
Jens-Christian Svenning, salah satu penulis utama studi dari Universitas Aarhus juga memperingatkan dominasi tersebut bisa berdampak pada hilangnya spesies pohon yang hanya terdapat di wilayah yang sangat terbatas di dunia.
"Kita berbicara tentang spesies yang sangat unik, terutama terkonsentrasi di wilayah tropis dan subtropis, di mana keanekaragaman hayati tinggi dan ekosistem saling terkait erat," terang Svenning, dilansir dari Phys.org.
Ketika spesies asli hilang, mereka meninggalkan celah dalam ekosistem yang perannya jarang bisa diisi oleh spesies pendatang, meskipun spesies asing tersebut tumbuh dengan cepat dan memiliki daya sebar yang sangat tinggi.
Baca juga:
Studi mengungkap hutan dunia kian homogen. Spesies pohon unik terancam punah akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim.Spesies yang paling terancam sering kali merupakan spesies spesialis yang tumbuh lambat. Contohnya pohon-pohon dengan daun yang tebal, kayu yang padat, dan masa hidup yang panjang, yang sering kali dikaitkan dengan lingkungan yang stabil terutama hutan tropis dan subtropis yang lembap.
"Mereka membentuk tulang punggung ekosistem hutan dan berkontribusi pada stabilitas, penyimpanan karbon, serta ketahanan terhadap perubahan," kata Svenning.
Sementara itu, jika tren perubahan iklim dan eksploitasi hutan saat ini terus berlanjut, hutan-hutan akan makin didominasi oleh pohon yang dapat tumbuh dengan cepat.
Pohon-pohon tersebut biasanya memiliki daun yang ringan dan kepadatan kayu rendah yang memungkinkan pertumbuhan cepat dalam jangka pendek. Contohnya mencakup berbagai spesies akasia, eukaliptus, poplar, dan pinus.
"Meskipun spesies-spesies ini tumbuh dan berkembang dengan baik, mereka lebih rentan terhadap kekeringan, badai, hama, dan guncangan iklim. Hal ini membuat hutan kurang stabil dan kurang efektif dalam menyimpan karbon dalam jangka panjang," papar Svenning.
Studi ini juga menunjukkan bahwa hampir 41 persen dari spesies pohon yang disebut telah "ternaturalisasi" ini, senang tumbuh di lingkungan yang terganggu seperti misalnya setelah hutan ditebang atau dibakar.
Kendati mampu tumbuh subur, tanaman pendatang dengan ciri pertumbuhan cepat dan daun kecil ini sering kali tidak berguna dan tidak mampu menjalankan peran ekologis bagi penghuni asli hutan.
“Selain itu, di lanskap yang terdampak oleh gangguan, spesies pendatang yang telah beradaptasi tersebut dapat mempersulit kelangsungan hidup pohon asli, karena persaingan untuk mendapatkan cahaya, air, dan nutrisi semakin intensif,” tambah Svenning.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya