Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pohon di Hutan Kian Seragam, Pohon Asli mulai Menghilang

Kompas.com, 29 Januari 2026, 20:39 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG, Nature

KOMPAS.com - Hutan-hutan di dunia memasuki era baru, yang ditandai dengan homogenisasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan melemahnya ekosistem. Hal ini ditunjukkan oleh sebuah studi internasional yang diterbitkan di Nature Plants.

Sebagai catatan, homogenisasi merupakan kondisi ketika hutan kehilangan variasi jenis pohonnya.

Baca juga:

"Aktivitas manusia menyebabkan kepunahan spesies asli dan naturalisasi spesies asing secara bersamaan, mengubah keragaman pohon global dengan implikasi besar bagi struktur dan fungsi ekosistem," tulis para peneliti, dilansir dari laman Nature, Kamis (29/1/2026).

Hutan di dunia mulai kehilangan keanekaragaman hayati

Hutan semakin didominasi jenis pohon yang tumbuh cepat

Studi mengungkap hutan dunia kian homogen. Spesies pohon unik terancam punah akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim.Unsplash/Gagandeep Singh Studi mengungkap hutan dunia kian homogen. Spesies pohon unik terancam punah akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim.

Para peneliti menganalisis lebih dari 31.000 spesies pohon di seluruh dunia dan memberikan gambaran global tentang bagaimana hutan kemungkinan akan berubah, dalam hal komposisi, ketahanan, dan fungsi ekologis.

Menurut studi tersebut, hutan akan semakin didominasi oleh jenis pohon yang tumbuh cepat, sedangkan spesies yang tumbuh lambat dan lebih terspesialisasi berisiko menghilang.

Kondisi tersebut merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan.

Jens-Christian Svenning, salah satu penulis utama studi dari Universitas Aarhus juga memperingatkan dominasi tersebut bisa berdampak pada hilangnya spesies pohon yang hanya terdapat di wilayah yang sangat terbatas di dunia.

"Kita berbicara tentang spesies yang sangat unik, terutama terkonsentrasi di wilayah tropis dan subtropis, di mana keanekaragaman hayati tinggi dan ekosistem saling terkait erat," terang Svenning, dilansir dari Phys.org.

Ketika spesies asli hilang, mereka meninggalkan celah dalam ekosistem yang perannya jarang bisa diisi oleh spesies pendatang, meskipun spesies asing tersebut tumbuh dengan cepat dan memiliki daya sebar yang sangat tinggi.

Baca juga: 

Ancaman bagi ekosistem

Studi mengungkap hutan dunia kian homogen. Spesies pohon unik terancam punah akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim.Unsplash/Dusan Vervekolog Studi mengungkap hutan dunia kian homogen. Spesies pohon unik terancam punah akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim.

Spesies yang paling terancam sering kali merupakan spesies spesialis yang tumbuh lambat. Contohnya pohon-pohon dengan daun yang tebal, kayu yang padat, dan masa hidup yang panjang, yang sering kali dikaitkan dengan lingkungan yang stabil terutama hutan tropis dan subtropis yang lembap.

"Mereka membentuk tulang punggung ekosistem hutan dan berkontribusi pada stabilitas, penyimpanan karbon, serta ketahanan terhadap perubahan," kata Svenning.

Sementara itu, jika tren perubahan iklim dan eksploitasi hutan saat ini terus berlanjut, hutan-hutan akan makin didominasi oleh pohon yang dapat tumbuh dengan cepat.

Pohon-pohon tersebut biasanya memiliki daun yang ringan dan kepadatan kayu rendah yang memungkinkan pertumbuhan cepat dalam jangka pendek. Contohnya mencakup berbagai spesies akasia, eukaliptus, poplar, dan pinus.

"Meskipun spesies-spesies ini tumbuh dan berkembang dengan baik, mereka lebih rentan terhadap kekeringan, badai, hama, dan guncangan iklim. Hal ini membuat hutan kurang stabil dan kurang efektif dalam menyimpan karbon dalam jangka panjang," papar Svenning.

Studi ini juga menunjukkan bahwa hampir 41 persen dari spesies pohon yang disebut telah "ternaturalisasi" ini, senang tumbuh di lingkungan yang terganggu seperti misalnya setelah hutan ditebang atau dibakar.

Kendati mampu tumbuh subur, tanaman pendatang dengan ciri pertumbuhan cepat dan daun kecil ini sering kali tidak berguna dan tidak mampu menjalankan peran ekologis bagi penghuni asli hutan.

“Selain itu, di lanskap yang terdampak oleh gangguan, spesies pendatang yang telah beradaptasi tersebut dapat mempersulit kelangsungan hidup pohon asli, karena persaingan untuk mendapatkan cahaya, air, dan nutrisi semakin intensif,” tambah Svenning.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Pohon di Hutan Kian Seragam, Pohon Asli mulai Menghilang
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat