Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia

Kompas.com, 29 Januari 2026, 21:07 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG, Nature

KOMPAS.com - Alih fungsi lahan dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit dari hewan ke manusia, demikian hasil penelitian baru yang dipimpin oleh Universitas Stirling.

Studi yang dipimpin oleh Dr. Adam Fell dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Stirling menunjukkan bahwa deforestasi, pertanian, pertumbuhan kota yang pesat, dan habitat yang terfragmentasi meningkatkan risiko penyakit zoonosis, terutama yang disebarkan oleh nyamuk, hewan pengerat, dan kelelawar, misalnya Covid-19 dan malaria.

Baca juga: 

"Pandemi Covid-19 telah menyoroti ancaman yang semakin besar dari penyakit zoonosis, yang sering diperparah oleh perubahan penggunaan lahan seperti penggundulan hutan dan fragmentasi habitat," tulis para penulis, dilansir dari laman Nature, Kamis (29/1/2026).

Alih fungsi lahan ini dapat membuat manusia dan satwa liar berinteraksi lebih dekat serta mengganggu pembatas ekologis alami yang biasanya membatasi penularan penyakit.

"Seiring banyaknya manusia mengubah lanskap alam, manusia dan satwa liar semakin sering berinteraksi. Hal ini dapat memudahkan munculnya penyakit baru atau penyebaran penyakit yang sudah ada," ucap Dr. Fell, dikutip dari Phys.org

Alih fungsi lahan tingkatkan risiko penyebaran penyakit

Bisakah memulihkan lahan mengurangi risiko penyakit?

Pada saat yang sama, terdapat peningkatan investasi global dalam memulihkan lingkungan yang terdegradasi untuk membantu mengatasi perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati.

"Namun, kita masih mengetahui sangat sedikit tentang apakah restorasi mengurangi risiko penyakit atau dalam beberapa kasus, justru dapat meningkatkan risiko penyakit untuk sementara waktu," kata Dr. Fell.

Studi yang diterbitkan di jurnal Nature Sustainability ini juga menunjukkan bahwa keputusan tentang bagaimana manusia menggunakan dan memulihkan lahan dapat secara langsung memengaruhi kesehatan mereka.

"Karena pemerintah dan organisasi berinvestasi besar-besaran dalam restorasi ekosistem di seluruh dunia, memahami bagaimana tindakan ini memengaruhi risiko penyakit sangat penting untuk menghindari konsekuensi kesehatan yang tidak diinginkan dan untuk memaksimalkan manfaat jangka panjang," jelas dia.

Baca juga:

Penelitian mengungkap alih fungsi lahan seperti deforestasi dan urbanisasi bisa memicu penyakit zoonosis. canva.com Penelitian mengungkap alih fungsi lahan seperti deforestasi dan urbanisasi bisa memicu penyakit zoonosis.

Studi yang merupakan bagian dari proyek Restoring Ecosystems to Stop the Threat of Re-Emerging Infectious Disease (RESTOREID) ini menunjukkan, beberapa tindakan, seperti melindungi lahan basah dan melestarikan habitat alami yang ada, bisa mengurangi risiko penyakit yang ditularkan nyamuk yang lebih rendah.

Sebaliknya, beberapa bentuk penanaman pohon atau reboisasi terbukti justru meningkatkan risiko selama tahap pemulihan awal, khususnya untuk penyakit yang ditularkan nyamuk atau kutu.

Studi juga menemukan bahwa sebagian besar penelitian tentang topik ini hingga saat ini telah dilakukan di negara-negara kaya, sedangkan banyak masalah penyakit utama berada di wilayah berpenghasilan rendah.

Hal ini berarti sebagian besar wilayah Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Latin, di mana perubahan penggunaan lahan dan risiko penyakit sama-sama tinggi, belum dipelajari secara cukup detail.

Baca juga:

Penelitian mengungkap alih fungsi lahan seperti deforestasi dan urbanisasi bisa memicu penyakit zoonosis. Shutterstock/ frank60 Penelitian mengungkap alih fungsi lahan seperti deforestasi dan urbanisasi bisa memicu penyakit zoonosis.

Selain mengidentifikasi 50 lokasi prioritas di seluruh dunia di mana risiko virus berpindah dari hewan ke manusia paling tinggi, peneliti juga mengembangkan atlas daring terbuka bagi para pembuat kebijakan dan pejabat kesehatan publik untuk menargetkan tindakan pada masa depan dengan lebih baik.

"Dengan mengidentifikasi area prioritas untuk penelitian masa depan dan menyediakan atlas bukti daring yang terbuka serta interaktif, studi ini menawarkan alat praktis untuk membantu para pembuat kebijakan, praktisi konservasi, dan pejabat kesehatan masyarakat dalam merencanakan restorasi dengan cara yang melindungi manusia sekaligus alam," papar Dr. Fell.

Temuan ini mendukung pendekatan One Health, menunjukkan bahwa restorasi lingkungan, jika dirancang dan dipantau dengan cermat, dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi risiko penyakit di masa depan daripada menambahnya.

Pendekatan One Health merupakan konsep yang mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terkait erat. Jika salah satu sakit misalnya hutan rusak, yang lainnya juga akan terancam.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat