Prabowo lalu menyampaikan, hampir seluruh tempat pembuangan akhir (TPA) di Indonesia diproyeksikan mengalami kelebihan kapasitas atau overcapacity pada tahun 2028 atau bahkan lebih cepat.
Maka dari itu, pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) bakal membangun 34 fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) dengan total investasi hingga 3,5 miliar dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 58.783 triliun).
"Untuk itu tahun ini kita akan buka 34 proyek pembangunan waste to energy di 34 kota ini. Saya minta ground breaking beberapa bulan ini dilaksanakan, ini (PSEL) kami perkirakan dua tahun lagi sudah berfungsi," kata Prabowo.
Tak hanya di kota besar, PSEL secara bertahap bisa dibangun di kabupaten/kota yang memenuhi prasyarat proyek Waste to Energy.
"Penyelesaian masalah sampah kita perlu kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, tetapi kita tidak boleh menunggu. Karena itu, bila perlu demi kepentingan rakyat, pemerintah pusat yang akan memimpin," imbuh dia.
Adapun berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), timbulan sampah Indonesia pada 2025 mencapai 20,25 juta ton.
Jenis sampah yang paling banyak, antara lain sisa makanan 40,79 persen, serta sampah plastik dan kayu atau ranting yang masing-masing 19,95 persen dan 13,7 persen.
Pemerintah menargetkan pengelolaan sampah 100 persen pada 2029 mendatang.
Baca juga:
Sebagai informasi, PSEL diproyeksikan menghasilkan listrik 20 megawatt per fasilitas dengan biaya tarif 0,20 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 3.359) per kwh yang wajib dibeli PT PLN (Persero).
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Indonesia memastikan teknologi canggih digunakan untuk proyek WtE.
Lead of Waste to Energy BPI Danantara Indonesia, Fadli Rahman, mengungkapkan, teknologi ini lebih canggih dibandingkan 80 persen teknologi serupa yang diterapkan di China. Diketahui, China adalah salah satu negara yang sukses menjalankan program WtE.
"Kami tidak menerapkan teknologi yang lama tetapi teknologi yang baru, yang setiap posisi memiliki karakteristik yang berbeda-beda tetapi standarnya jauh lebih tinggi daripada yang kami sudah set di proposal (WtE)," kata Fadli dalam diskusi Tenggara Strategics, Jakarta Pusat, Rabu (22/1/2026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya